Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Keenan Merenggutnya



"Ini hukuman buat kamu!"


Dengan satu tarikan saja,baju tidur yang di kenakan oleh Thalia robek begitu saja. Tidak hanya berhenti sampai di situ saja Keenan langsung membopong tubuh Thalia ke atas ranjang dan kini Keenan sudah naik ke atas tubuh Thalia.


Thalia meremas kuat sprei berwarna putih itu yang menjadi alas tidurnya. Mati - matian ia memejamkan kedua matanya tidak berani menatap Keenan yang sekarang berada di atasnya dan mengurung tubuhnya.


"Sayang, kau bergetar. Kau takut? Ah, kau pasti takut aku akan melakukannya kan?" tanya Keenan di iringi oleh suara tawanya yang sumbang. Tapi sayangnya, apa yang kau khawatirkan itu akan menjadi kenyataan, sayang." ucap Keenan, sambil melepaskan pengait bra milik Thalia, hingga bra terlepas dan Keenan langsung melemparkannya ke lantai.


Seberani mungkin Thalia membuka kedua matanya dan menatap laki-laki yang menyeramkan di hadapannya saat ini. Jangankan untuk menjawabnya, untuk merintih sakit pada cengkraman pergelangan tangannya saat ini pun, Thalia tidak berani. Dan kini tatapan Keenan tidak berhenti menatap tubuh polos Thalia yang sangat indah. Dan ya, hanya sehelai benang yang menutupi bagian tubuh Thalia yaitu panties dengan motif berenda merah yang seksi yang belum terlepas.


"Aku sangat menginginkanmu, Thalia. Dan menikahlah denganku?" bisik Keenan serak, tangan Keenan mulai meremas dada Thalia.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah dengan laki - laki jahat sepertimu, Kak.Aku tidak akan pernah mau!" Maki Thalia mencoba melepaskan cengkraman erat pada kedua tangannya saat ini.


"Lepaskan aku Kak Keenan apa yang sedang kau lakukan? Apa kau lupa aku siapa mu? Kak Keenan sadarlah kau adalah Kakak tiriku?"


"Aku tidak peduli dengan hal itu." jawab Keenan sambil melepaskan tangan Thalia, kemudian Keenan menarik dasi yang di pakainya dan mengikatnya pada kedua tangan Thalia.


Keenan mencium bibir Thalia kembali dan tangannya terus meremas gundukan kembar di dada Thalia. "Kau sangat indah, Thalia." Keenan mulai melepaskan helaian benang terakhir di tubuh Thalia dan panties berenda berwarna merah itu sudah di lepas oleh Keenan dan di buangnya ke lantai.


Kemudian Keenan membuka semua kancing kemejanya dan membuangnya asal dan memamerkan tubuh profesionalnya dengan otot perut yang luar biasa. Kemudian Keenan mendekati Thalia, dan enggan peduli dengan maki, teriakan dan segala macam perlawanan dari Thalia.


Thalia menjerit keras saat Keenan mulai menghentakkan miliknya. Ada penghalang keras namun Keenan terus mendesaknya tanpa memperdulikan jeritan dari Thalia.


Rasa sakit yang tiba - tiba tidak bisa membuatnya untuk berkata - kata. Ya, dan tidak bisa lagi ia menjerit dan memaki. Thalia sangat marah, ia sangat kecewa dan membenci Kakak tirinya itu yang saat ini berhasil mengambil apa yang di inginkannya yaitu keperawanan Thalia. Dan kini hidup Thalia sudah hancur, ia sudah kehilangan keperawanannya, rasa sakit yang ia rasakan pada inti tubuhnya seolah tembus pada rasa sakit di hatinya saat ini.


"Katakan jika kau milikku, sayang. Katakan please,sayang." bisik Keenan serak. Dia mencium sudut mata Thalia yang mulai mengeluarkan air mata.


"Aku akan membunuhmu, aku akan menghabisi mu dengan tanganku sendiri, Keenan Alexander. Aku bersumpah." lirih Thalia di sela rasa sakitnya yang terus tanpa ampun.


"Cukup Kak Keenan. Ampun...! Papa tolong, Thalia." teriak Thalia keras dan menjerit sakit, dan ya sangat sakit untuk pertama kalinya di usianya yang masih baru delapan belas tahun itu merasakan hentakkan milik Keenan pada inti tubuhnya dengan begitu cepat dan kasar.


"Apa katamu, sayang? Ampun? Kau sedang memohon ampun padaku, sayang? No, aku tidak akan pernah mengampuni mu. Karena kau adalah satu - satunya wanita yang mampu membuatku jatuh cinta dan membuatku sangat marah di saat bersamaan, sayang."


Keenan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Thalia tanpa rasa ampun. Dan benar dugaannya selama ini, jika Thalia belum mau mencintai dirinya.


Sedangkan Thalia kini tidak bisa melakukan apapun, tenaganya habis bersih tak bersisa hanya untuk melawan hal yang sia - sia.


Pandangan Thalia nampak berkabut saat ini, dan kini ia hanya bisa merasakan sakit dan nyeri yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Ah, bagaimana kalau kau hamil setelah ini, Thalia? Bagaimana kalau Bundamu tahu akan hal ini? Apa perlu aku mendokumentasikan percintaan kita ini, sayang?" tanya laki - laki yang berwajah tampan di sampingnya itu.


Thalia langsung menggeleng - gelengkan kepalanya. Ia terisak kuat - kuat hingga Keenan akhirnya melepaskan ikatan dasi miliknya di tangan Thalia. Dan beranjak dari tempat tidur Thalia.


Thalia mencengkram erat selimut putih yang menyelimutinya, ia terisak kuat dan menoleh menatap laki - laki tampan yang kini memakai bathrobe berwarna biru muda miliknya dan sedang duduk di kursi sambil menatap dirinya dengan begitu puas. Di tambah lagi karena kondisi Thalia yang kini menatapnya tidak berdaya.


Thalia gemetar dan ia sangat takut saat laki - lalu itu bangkit dari duduknya, ia berjalan meraih kotak rokok dan menyalakannya dengan pemantik api yang berada di atas nakas. Ia berjalan mendekati Thalia dan tersenyum menyeramkan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, Thalia? Kau pikir aku main - main dengan ucapanku, hm?" tanya Keenan mengusap pipi putih Thalia sebelum ia menggapai singkat bibir bergetar Thalia saat ini dengan bibirnya.


"Menyingkir lah dariku!" Peringat Thalia dengan menatap jijik ke arah Keenan.


Keenan duduk di samping Thalia, ia membungkukkan badannya menatap lekat - lekat wajah Thalia.


"Kamu tenang saja, kita hanya melakukannya dalam semalam. Jadi, tidak mungkin langsung hamil. Kamu masih bisa sekolah, kok." ucap Keenan mencoba untuk menenangkan Thalia. Tapi, bukannya tenang Thalia malah kembali terisak. Menangisi nasibnya setelah ini. Pasti semua orang akan memandangnya rendah. Jika dia akan di ketahui hamil di usianya yang masih muda.


"Tapi Kakak malah seneng kalau kamu itu beneran hamil nanti." Keenan menyunggingkan senyumannya saat Thalia menatapnya begitu tajam.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.