Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Meminta Penjelasan Dari Keenan



Setelah dari rumah sakit bukannya pulang, Thalia malah pergi ke Apartemen Kakaknya. Dimana Kakak tirinya itu tinggal sekarang. Dan ya, tujuan Thalia datang ke Apartemen milik Kakaknya karena dia ingin meminta penjelasan secara langsung dari mulut Kakaknya tentang perbuatannya yang telah melukai Axel.


"Sayang? Kamu kok tumben datang ke Apartemen Kakak? Lagi kangen ya? Sini peluk dulu." ucap Keenan begitu mengetahui Thalia lah yang kini datang ke Apartemen miliknya dan langsung masuk kedalam ruang kerjanya.


"Sekarang aku tidak ingin bercanda, aku ingin serius,Kak. Aku nanya baik - baik sama Kakak. Kenapa Kak Keenan tega melakukan hal itu pada Axel?"


"Axel?" gumamnya terlihat tidak suka. Mendengar jika Thalia menyebut nama laki - laki lain selain dirinya. Dia hanya memilih diam dan tak menjawab dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dan ya, bisa di katakan jika saat ini Keenan sedang kecewa. Padahal dia sudah terlalu berharap dirindukan dan hadirnya Thalia di sini dapat membangkitkan semangat kerjanya. Namun Keenan salah mengartikan karena kedatangan adik tirinya itu ke Apartemen miliknya hanya ingin membela laki - laki lain.


"Kak Keenan jangan diam saja? Ayo bicara, kak?!" Marah Thalia. "Atau setelah ini Kak Keenan akan menyesalinya." lanjut Thalia memberikan peringatan.


"Kalau tujuan kamu datang kesini karena laki - laki sialan itu. Lebih baik kamu pulang saja. Kaka lagi sibuk."


"Aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban dari Kakak!" Kekeuh Thalia.


"Bukankah semuanya sudah jelas? Jadi untuk apalagi kamu meminta penjelasan dari Kakak."


"Jadi memang benar Kak Keenan pelakunya."


"Benar sekali. Sudah puas sekarang. Dan setelah ini kamu langsung pulang. Kakak lagi males debat sama kamu yang selalu belain laki - laki sialan itu." bentak Keenan kesal.


"Aku tidak membela Axel. Aku hanya kecewa dengan kelakuan bejat Kak Keenan.Bahkan Kak Keenan terlihat tidak merasa bersalah setelah melakukan hal itu pada Axel." ucap Thalia penuh dengan kekecewaan pada Kakak tirinya itu. "Dan apa Kak Keenan tahu kondisi Axel sekarang? Salah satu kaki Axel patah, Kak? Dan itu karena Kak Keenan?!" Lanjutnya memberitahu dengan nada kesal dan penuh amarah.


"Dia itu memang pantas mendapatkannya" jawab Keenan tertawa senang.


"Tapi apa alasan Kak Keenan melukai Axel sampai seperti itu?!" Tanyanya ingin tahu.


"Kakak sangat kesal karena waktu dia berani membawa kamu kabur dari Apartemen Kakak. Dan dia juga sudah berani bermain-main dengan Kakak dengan menerima perjodohan denganmu." jawabnya Keenan jujur. "Dan tentunya apa yang dia dapatkan sekarang tidak sebanding dengan apa yang Kakak rasakan saat itu. Kakak seolah - olah merasa sudah kehilangan kamu."


"Tapi waktu itu Axel datang kesini hanya karena ingin menyelamatkan aku dari kebejatan Kak Keenan. Dan asal Kak Keenan tahu, Axel juga tidak pernah sekalipun membahas tentang perjodohan itu. Apalagi sekarang Bunda dan Papa juga sudah tidak ingin melanjutkan perjodohanku dengan Axel."


"Tapi tetap saja cara dia itu salah. Seharusnya dia itu minta ijin dulu ke Kakak."


Thalia menarik napasnya dalam - dalam.


"Kakak sadar gak sih bawa Kak Keenan itu salah? Setidaknya Kak Keenan itu harus minta maaf. Bukannya malah melakukan hal yang sejahat itu pada Axel."


"Kakak rasa, apa yang sudah Kakak lakukan pada laki - laki sialan itu sudah benar. Jadi, tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi." jawab Keenan enteng.


"Aku mohon. Kak Keenan meminta maaflah langsung pada Axel. Sebelum aku semakin benar - benar membenci Kakak." ucap Thalia yang rasanya sudah tidak bisa sesabar sebelumnya.


Sedangkan Keenan yang melihat raut wajah Thalia hanya tertawa. Dan ya, Keenan itu sudah tidak peduli kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Dasar psikopat!"


Dan ya, Keenan masih menyeringai saat mendengarnya. Dan kini, bolpoin yang ada di tangannya langsung terbelah menjadi dua.


"Berhentilah marah - marah, sayang. Karena itu akan berpengaruh pada kesehatan janin kamu."


"Aku tidak hamil. Jadi berhentilah mengatakan jika aku seolah - olah sedang mengandung darah dagingmu."


"Jangan bilang seperti itu, sayang. Kau tahu, Kakak berani bertaruh. Karena tidak lama Kakak pasti akan menjadi seorang Ayah." ujar Keenan serius namun tentunya Thalia langsung mengelaknya.


"CK! Itu adalah khayalan yang sia - sia saja. Asal Kak Keenan tahu, meskipun nanti aku hamil anak Kakak pun aku akan langsung menggugurkannya. Aku tidak sudi mengandung darah dagingmu!"


"Bukankah Kakak sudah bilang tadi, jangan bikin Kakak marah, Thalia. Tapi kamu masih saja melakukannya."


Dan kini Keenan mulai bangkit dari kursi kerjanya. Dan dia perlahan mendekat ke arah Thalia. Kemudian meraih pinggang Thalia dan memberikan sebuah kecupan hangat di bibir Thalia.


"Brengsek! Beraninya Kak Keenan mengambil kesempatan!" Bentak Thalia keras dan kuat.


Keenan kemudian menyentuh pipi Thalia dan menatap dingin ke arah Thalia. "Kalau kau tidak aku bungkam. Kau akan terus berteriak - teriak seperti orang gila. Ini hanya tentang masalah laki - laki sialan itu tapi kaunya saja yang bertindak berlebihan."


Thalia menatap ke arah Kakak tirinya itu penuh dengan kebencian. "Sejak dulu Kak Keenan itu tidak akan pernah berubah. Kau akan selalu menjadi pria yang brengsek!" ucap Thalia marah.


"Come on, Thalia? Apa arti dari sebuah ciuman? Dan kau itu bukan anak kecil lagi. Jadi, tidak usah berlebihan." jawab Keenan dingin dan acuh.


Thalia tersenyum sinis, "You're right. Sama sekali tidak berarti. Tapi tindakanmu tadi sama saja dengan bentuk yang sudah kurang ajar dan tidak menghargai adikmu sendiri, Kak." Thalia menjeda ucapannya dan memberikan tatapan begitu tajam ke arah Kakaknya. "Menjauh lah dariku. Dan ingat batasan mu, Kak. Karena kau adalah Kakakku." lanjut Thalia memberitahu dan dia hendak melangkah pergi dari ruangan kerja Kakaknya. Namun tangan Thalia di pegang oleh Keenan. Dan menarik tangan Thalia kemudian memeluknya agar jaraknya lebih dekat dengannya.


"Seharusnya, dalam hal ini yang harusnya marah itu Kakak bukannya kamu. Karena kamu telah berani melanggar peraturan yang telah Kakak buat dengan secara diam - diam kamu sudah berani menemui laki - laki sialan itu di belakang Kakak."


"Aku pulang," ujar Thalia langsung mendorong tubuh Keenan dan merapikan sedikit bajunya yang kini sedikit acak - acakan.Karena dia juga sudah malas berdebat dengan Keenan yang selalu keras kepala. Lalu segera mungkin Thalia pun meninggalkan tempat kerja di ruangan Apartemen milik Kakaknya.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.