Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Kau Adalah Milikku,Sayang



"Tidurlah, sayang. Besok - besok tidak usah jadi orang yang baik. Sekali - kali kamu itu jadi orang jahat tidak masalah apalagi kalau Kakak kamu akan melakukan hal - hal yang buruk kepadamu. Karena dia memang pantas mendapatkannya." itulah pesan Ayahnya sebelum dia beranjak pergi dari kamar Thalia.


Thalia menghela nafas kembali. Kemudian dia berbaring namun tetap waspada. Sejenak dia mencoba untuk melupakan urusan Ayahnya yang telah mengusir Keenan dari rumah ini. Dia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya sebatas leher dan matanya terus bergerak menelusuri sekeliling ruangan kamarnya. Walaupun Kakak tirinya sudah tidak di rumah. Namun Thalia bisa merasakan jika aura Keenan mulai terasa di dalam kamarnya. Sungguh! Saat ini Keenan bagaikan sosok hantu yang bergentayangan di sekelilingnya.


Namun prasangkanya keliru. Karena sudah hampir satu jam lebih Thalia terjaga, tanda - tanda kedatangan Kakak tirinya tidak terlihat. Ya, Thalia berpikir bahwa Kakak tirinya itu tidak mungkin bisa masuk kedalam kamarnya karena Kakaknya itu sudah di usir dari rumah ini.


Thalia memeluk erat gulingnya. Dia kembali memandangi dua objek yang di ketahui dapat di jadikan sebagai akses untuk memudahkan Kakak tirinya itu dengan mudah bisa masuk kedalam kamarnya, yaitu balkon dan pintu kamarnya. Namun tak bertahan lama, matanya mulai terasa berat. Ya, mungkin saja ini efek kelelahan karena dari tadi pagi sampai sekarang dia belum beristirahat.


Beberapa detik berlalu dan Thalia sudah terlelap dengan napas teratur.


"Ah, akhirnya.." gumam Keenan Perlahan mulai membuka pintu lemari pakaian milik Thalia. Laki - laki itu menghirup oksigen sebanyak - banyaknya. Keenan berpikir bersembunyi di lemari pakaian Thalia adalah cara yang tepat. Namun nyatanya dia salah. Keenan hampir saja mati konyol akibat minimnya penerangan hingga pasukan udara di dalam sana.


Dengan langkah yang pelan Keenan menghampiri Thalia yang kini masih terlelap di atas ranjang. Sebelum itu, Keenan memastikan jika Thalia sudah mengunci pintu kamarnya agar tidak akan yang menganggunya ketika dia sedang memberikan hukuman pada Thalia. Keenan pun memilih untuk duduk di tepi ranjang lalu memandangi wajah tenang Thalia yang selalu tampak sangat cantik dalam keadaan apapun.


"Sayang, bangunlah..." panggil Keenan pelan. Sambil mengusap kepala Thalia dengan pelan. Setelah itu, Keenan menunduk mendekatkan wajahnya di depan Thalia.


Dari dekat ini, Keenan bisa merasakan deru napas teratur di sertai dengan bau aroma vanilla yang menyeruak.


Cup.


Keenan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Thalia. Cukup lama berdiam hingga akhirnya laki - laki itu menggerakkannya. ******* bibir ranum itu dengan rakus.


"Kak Keenan!" Thalia tersentak kaget dengan mata yang melotot sempurna saat merasakan bibirnya di ***** habis dan tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung mendorong dada Keenan menjauhkan tubuh Keenan hingga ciumannya itu terlepas begitu saja dari bibirnya.


Keenan menggeram marah. "Kamu mau pergi kemana, huh?! Kakak itu masih belum puas mencium bibir kamu?" katanya dengan suara seraknya seakan menahan gairahnya. Kemudian Keenan kembali mendekatkan tubuhnya pada Thalia dan lagi - lagi Thalia menolaknya dengan cara menggeser kan tubuhnya ke samping, menjauh darinya.


"Sebesar itukah kamu membenci Kakakmu ini?" kata Keenan yang mulai emosional. Tangannya terkepal begitu kuat. Dan ya, baru kali ini ada wanita yang menolak cumbuannya.


"Kak Keenan ada perlu apa masuk ke kamarku lagi?" tanya Thalia yang masih menormalkan napasnya. "Bukankah Kak Keenan sudah di usir oleh Papa? Dan bagaimana Kak Keenan bisa masuk kedalam kamarku?" lanjutnya penasaran.


"Apa? Di usir?" Keenan tertawa atas ucapan Thalia. Apakah kedatangan kesini belum cukup jelas sehingga Thalia harus bertanya seperti itu padanya.


Dan ya, harusnya Thalia itu menyadari jika kedatangannya ke kamarnya itu di khususkan untuknya. Sungguh, Keenan tidak bisa berlama-lama jauh dari Thalia. Dan dia merasakan jika rasa cinta itu semakin membesar pada Thalia dan tidak bisa terbendung lagi.


"Thalia..." Keenan kemudian mendekatkan diri, berusaha untuk merengkuh tubuh mungil Thalia karena dia itu terlalu merindukan gadisnya itu.


"Jangan berani mendekat, atau aku akan teriak, Kak." ancam Thalia pada Kakak tirinya itu.


Mendengar ancaman dari Thalia, Keenan hanya tersenyum. "Teriak saja, sayang. Lagi pula mereka juga tidak akan mendengarnya karena kamar ini kedap suara, hahahaha..." ucapnya di ikut dengan suara gelak tawa yang sedikit keras untuk menertawakan kebodohan adik tirinya saat ini.


"Papa! Papa!" Teriak Thalia dengan cukup keras dan dia yakin Ayahnya masih berada di sekitar kamarnya.


"Papa tolong Tha-"


"Diam!" Perintah Keenan penuh intimidasi dan dengan gerakan cepat Keenan menerjang tubuh Thalia. Hingga terbaring di atas ranjang. Dan Keenan kini memposisikan tubuhnya di atas tubuh Thalia yang kini mulai berani memberontak di bawah kurungannya.


"Tidak. Kali ini aku tidak akan diam saja. Jika Kakak selalu berbuat semaunya. Karena aku ini masih punya harga diri dan aku bukanlah wanita murahan!" Ucap Thalia memberanikan diri untuk melawan Kakaknya.


"Omong kosong!" Maki Thalia terus memberontak dan berusaha untuk melepaskan dirinya. Namun tidak semudah itu melepaskan dirinya dari kurungan seekor singa yang kini sudah mulai terlihat marah.


"Ah, ternyata kamu mulai berani melawan Kakak ya?"


"Ya, dan aku tidak takut."


"Apa? Tidak takut?" Keenan menyeringai. "Well, kita lihat saja nanti sampai mana batas kemampuanmu." tantang Keenan.


"Baiklah kita mulai sekarang." kata Keenan saat melihat keterdiaman Thalia. Laki - laki itu sedikit menegakkan tubuhnya untuk memudahkannya mengambil sesuatu dari balik punggungnya yang sebelumnya sudah dia persiapkan.


"Dengar Thalia. Sebrengsek apapun Kakakmu ini, Kakak akan selalu mencintaimu. Karena kau adalah milikku, sayang.Ah, rasanya sangat sakit saat melihat kamu mulai membenci Kakak dan lebih memilih pergi bersama dengan orang lain. Kakak itu masih mempunyai hati dan setelah ini kamu akan tahu, bagaimana marahnya Kakak yang sesungguhnya." bisik Keenan dan seketika tubuh Thalia langsung merinding hebat. Thalia meneguk salivanya berat lalu menggigit bibir bawahnya.


Keenan menyeringai menatap Thalia di bawah kurungannya. Sedangkan tangannya bergerak ke belakang punggungnya untuk mengambil sebuah benda yang akan membuat Thalia tunduk kepadanya.


"Sudah siap?" ucap Keenan lalu mengeluarkan sebuah benda di balik punggungnya, dan tanpa memikirkan sekali Keenan langsung menodongkan pistolnya ke arah Thalia.


"Kak-" Keenan kini tersenyum puas melihat wajah adik tirinya yang kini tampak ketakutan.


"Ah, jadi tidak perlu Kakak jelaskan lagi kan benda ini akan bekerja seperti apa?"katanya sambil mendekatkan sebuah pistol sungguhan tepat di hadapan Thalia.


"Aku mohon, Kak jauhkan benda itu dariku. Aku takut." pinta Thalia yang kini pistol itu sudah berada tepat di dahinya. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


"Apa?" teriak Keenan sengaja. "Kakak tidak dengar kamu itu ngomong apa, sayang? Kayaknya Kakak mulai tuli deh?" katanya masih sempat - sempatnya bercanda di saat nyawa Thalia sedang di pertaruhkan.


"Kak Keenan aku mohon." Thalia mulai menangis meratapinya takdirnya.


"Ssst. Jangan menangis, sayang. Karena pistol ini tidak akan Kakak gunakan sekarang ini, karena Kakak tidak ingin mengurangi pelurunya." kata Keenan menenangkan, Thalia.Dan pistol itu bergerak menghapus air mata yang membasahi pipi Thalia.


Dan Thalia tentunya semakin merasa ketakutan.


"Tapi kamu tetap harus di hukum, sayang." ucap Keenan. Kemudian Keenan beranjak dari ranjang dan meletakkan pistolnya di atas meja sofa.


Sedangkan Thalia yang melihat celah itu berusaha bangkit dan langsung berlari ke arah pintu. Namun sayang, langkah Thalia kurang cepat hingga Keena berhasil menangkapnya saat dia sudah berhasil di depan pintu kamarnya.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....