
"Lepaskan aku, Kak Keenan! Jangan macam-macam! Jangan argghh...!"
"Puaskan aku sebelum dengannya.."
"Kak Keenan aku mohon jangan begini. Kak Keenan aku takut padamu," tangis Thalia pecah.
"Kalau kau takut padaku. Kau harus membatalkan perjodohanmu dengan Axel. Kalau tidak... Lihat sendiri, Axel Dirgantara akan bernasib sama seperti dua orang preman yang pernah menyentuhmu beberapa hari yang lalu."
Kedua mata Thalia melotot lebar, jantungnya berdegup dengan kencang napasnya tercekat seketika.
Thalia terdiam pasrah saat ini, bahkan saat Keenan mulai menyentuh kulit pipi dan lehernya. Dalam pikirannya hanya akan banyak kematian kalau ia sampai dekat - dekat dengan seorang laki - laki lain.
"Bunuh aku saja, daripada kau membunuh orang lain dan kau juga tidak akan pernah aku cintai," ujar Thalia menatap manik mata Keenan saat ini.
Keenan menggelengkan kepalanya, ia kemudian mendorong tubuh Thalia ke atas ranjang. Dan Thalia memekik saat Keenan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Thalia, kau memang terlahir untukku. Dan kau di lahirkan di dunia ini hanya untukku . Hanya untuk Keenan Alexander. Dan aku akan pastikan kau akan menikah denganku cepat atau lambat." ujar Keenan sebelum mendekatkan wajahnya pada wajah Thalia.
Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya kedua tangannya memberontak hingga Keenan mencengkram erat pergelangan tangan Thalia.
Bibir Thalia yang ranum dan sedikit membengkak, ia sudah sangat lelah menghadapi laki - laki yang menyerupai dewa kematiannya saat ini. Napasnya yang terdengar memburu dan tangisannya yang kini tidak terdengar lagi.
"Lebih baik kau bunuh aku secara langsung, Kak! Daripada kau terus melecehkan aku. Lukaku masih sakit dan kau ingin menyakiti aku lagi? Kak Keenan, di... Dimana hatimu!" Pekik Thalia dengan air matanya yang berdesakan.
Keenan terdiam, dia tersenyum miring dan mengusap air mata Thalia sebelum ia bangkit dari atas tubuh Thalia dan berbaring di samping tubuh Thalia tanpa melepaskan cengkraman erat pada kedua tangan Thalia.
Keenan memiringkan badannya, Thalia sama sekali tidak bisa bergerak saat ini. Ia menoleh menatap pahatan tampan di hadapannya.
Sejujurnya Thalia sangat risih sekali saat di pandang dengan sangat di puja oleh Kakak tirinya yang sangat ia benci itu. Thalia menatap manik mata Keenan dengan berani.
"Apa kau sudah tidak laku lagi, sampai kau mengincar adikmu sendiri, Kak?" tanya Thalia penuh rasa frustasi.
Kekehan terdengar dari bibir Keenan laki - laki itu menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah mengklaim, kalau kau adalah jodohku. Lihat saja nanti."
Thalia berusaha melepaskan cengkraman kuat pada lengannya saat ini. Ia menatap Keenan yang sedang memejamkan kedua matanya saat ini.
Thalia sama sekali tidak suka, maka selamanya ia tidak akan suka. Ia bersusah payah ingin pergi dari tempat mengerikan ini.
"Diam, atau aku akan melukaimu lebih dalam lagi." ancam Keenan menatap Thalia dekat.
"Kak Keenan."
"Batalkan perjodohan itu, Thalia. Kamu dengarkan apa yang Kakak katakan. Cepat batalkan sekarang!" Katanya tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak berteriak di depan Thalia dan Keenan sekarang tidak peduli dengan ketakutan Thalia lagi.
"Kak Keenan, aku..." napas Thalia semakin tercekat saat wajah Keenan semakin dekat padanya hingga bibir Keenan maju mendekat tepat di depan telinga nya.
"Maafkan aku, Kak. Aku itu memang benar-benar tidak mengetahui tentang perjodohan itu. Jadi tolong, jangan hukum aku, Kak. Dan aku juga tidak pernah bermaksud untuk menghindari Kakak."
"Kamu bisa kan, tidak membuat Kakak kecewa lagi?" tanya Keenan memastikan dan Thalia hanya bisa mengangguk dengan pelan dan berkata, "Iya, Kak. A- aku akan menuruti kemauan, Kakak. Dan aku mohon jangan lukai Axel, Kak."
Dan Keenan lagi - lagi kembali tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya Thalia dan selanjutnya Keenan kembali menjauhkan tubuhnya dan melepaskan kurungannya hingga Thalia kembali bisa bernafas dengan lega.
Namun tidak butuh waktu lama, Keenan kembali mendekat ke arah Thalia. "Selamat menikmati hukumannya, sayang." bisik Keenan yang menyeringai hingga membuat semua aliran darah Thalia seakan berhenti secara mendadak.Napasnya terasa berhenti di tenggorokan.Sungguh, Keenan tidak ingin membiarkan Thalia berlama-lama selalu merasa lega.
"Kak," panggil Thalia tercekat saat Keenan mulai melahap bibirnya dengan sangat ganas.
Sedangkan Thalia yang sudah tidak bisa berbuat apapun lagi hanya bisa memasrahkan dirinya di dalam dekapan Keenan tatkala Kakak laki - lakinya itu memulai awal penuntasan nafsunya. Kemudian Keenan mulai kembali mencium bibir Thalia yang sangat sexy dan sudah mulai membengkak akibat ulahnya. Dan Keenan mulai menindihi tubuh Thalia kembali.
"Tapi Kak Keenan, aku takut hamil." ucap Thalia dengan napas yang terengah-engah setelah ciuman panjang mereka terhenti. Dan dia mulai menahan tangan Kakak tirinya yang sedang mulai membuka kancing seragam sekolahnya. Dan penampilan Thalia pun kini sudah acak-acakan akibat perbuatan dari Kakak tirinya.
"Ssst. Jangan takut, sayang. Kita itu akan melakukannya sekali dan Kakak pastikan kamu tidak akan hamil," bisiknya terdengar merdu di telinga Thalia. Dan mengingat apa yang terjadi, Thalia menggelengkan kepalanya untuk berhenti memuji ketampanan Kakak tirinya itu yang terlihat dari dekat.
"Bagaimana, sayang? Apakah kamu sudah siap untuk menyerahkan dirimu agar bisa sepenuhnya menjadi milik Kakak, hm?"
Thalia tentunya masih berusaha untuk menolak keras karena Thalia masih teringat dengan status mereka.Juga, Thalia sama sekali tidak memiliki rasa cinta pada Kakak tirinya itu dan sebenarnya Thalia pun tidak ingin menyerahkan kehormatannya pada orang yang bukan suaminya.
Keenan menyeringai. "Sayang sekali, tapi kali ini Kakak tidak ingin menerima penolakan darimu lagi. Semuanya milik Kakak, jadi Kakak berhak mengambil hak Kakak, bukan?"
"Tapi Kak. Aku takut. Aku mohon, Kak Keenan jangan melakukan hal ini. Sungguh aku sangat takut. Aku masih ingin sekolah dan kuliah, Kak. Aku takut jika nantinya aku hamil." ucap Thalia memohon saat tangan Keenan sudah melepaskan semua seragam sekolah yang di kenakan oleh Thalia dan sekarang hanya menyisakan pakaian dalam yang di pakai oleh adik tirinya itu.
"Hm, sangat indah sekali." katanya saat Keenan sudah melepaskan Bra yang di kenakan oleh Thalia hingga tampaklah bukit kembar putih mulus dan bersih milik adik tirinya.
"Kak aku mohon, jangan lakukan ini." pinta Thalia kembali memohon saat Kakak tirinya itu mulai meremas buah dadanya.
"Nah, kau sudah siapkan, sayang. Jadi, nikmatilah hukuman untukmu yang sesungguhnya." ucapnya sambil menegakkan tubuhnya untuk melepaskan ikatan pinggangnya.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.