Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Ingin Bunuh Diri



Keenan mengusap wajahnya kasar, ia duduk di ruang kerjanya yang sangat gelap.Laki - laki itu benar - benar tidak siap jika harus melepaskan, Thalia begitu saja. Tolakan tidak hanya dua atau empat kali Thalia lontarkan padanya. Namun, itu tidak membuatnya benci pada Thalia, melainkan rasa cintanya yang kini kian bertambah sering ia menyentuh dan bersama Thalia.


"Thalia... Thalia kau Aaagghhh! Bruakkkkk!"


Keenan meninju kuat meja kayu yang ada di hadapannya sebelum napasnya memburu dan ia kecewa dan marah pada dirinya sendiri yang telah kasar pada Thalia.


Ya, di buat marah oleh tolakan Thalia membuatnya lupa diri dan berbuat semaunya.


"Apa yang sudah aku lakukan padanya? Aku kembali kasar padanya.Ya, itu pasti."


Keenan berdecak. Ia langsung bangkit dari sana dan keluar dari dalam ruangannya itu. Dan perasannya sedang campur aduk saat ini.


Bohong, kalau ia tidak panik dan khawatir dengan kondisi Thalia saat ini. Keenan berjalan ke arah kamarnya dan ia membuka pintu kamarnya cepat.


Masih sama, Thalia masih tertidur dengan tubuhnya yang terbungkus dengan selimut putih tebal dengan wajahnya yang memerah dan kedua matanya yang kini tampak sembab.


"Thalia," lirih Keenan mengusap pipinya dengan lembut.


Keenan duduk di samping Thalia dan mengusap lembut rambut Thalia yang menutupi sebagian wajahnya dan mengecup kening Thalia dengan hangat.


"Peluk Thalia, Bunda..." Tiba-tiba Thalia berucap tanpa membuka kedua matanya dan beringsut memeluk Keenan.


"Sshhhtt... Tenanglah, sayang." bisik Keenan memeluknya erat.


Keenan meraih tangan Thalia dan ia lingkaran padanya untuk memeluknya.Ia menatap jemari Thalia di mana cincin yang pernah ia berikan masih tersemat di sana.


Keenan tidak yakin, kalau Thalia benar - benar tidak memiliki rasa padanya. Karena setiap ia menyentuhnya, bahkan adik tirinya itu tidak berani untuk memberontak.


Perlahan, Keenan pun merasakan jika Thalia mulai terbangun. Kini, kedua mata indah terbuka. Thalia mengeratkan pelukannya pada Keenan, padahal ia sadar siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku pikir aku mati." ucap Thalia menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Keenan.


Keenan mengusap lembut rambut Thalia dan mengecup pucuk kepalanya. "Aku tidak sebodoh itu mau menghabisimu, Thalia." pergerakan Keenan hendak merubah posisinya, namun Thalia kian mengeratkan pelukannya.Ia mendongak menatap ke arah Kakak tirinya dengan tatapan yang frustasi.


"Peluk aku untuk yang terkahir kalinya, aku mohon." lirih Thalia.


Keenan kemudian menangkup pipi Thalia dan ia mengecup lembut bibir Thalia perlahan hingga perlahan Thalia meletakkan telapak tangannya pada pipi Keenan dan air matanya mengalir.


"Kak Keenan. Aku tahu, kau sangat perduli denganku, meski caramu keliru. Tapi, aku salah menilai mu. Kau, kau adalah sebuah kematian yang Tuhan kirimkan untukku. Selama aku masih kecil, aku tidak pernah merasakan sosok seorang Kakak laki - laki yang bisa melindungi ku. Namun, selagi ada kenapa kau malah seperti ini kepadaku?"


Thalia menatap manik mata Keenan. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya dan menarik tangannya cepat. Kemudian, Thalia memejamkan kedua matanya dengan napasnya yang tercekat. Tangannya gemetar meraih sweater yang berada di sisi ranjang dan sebuah rok panjang yang mungkin saja sudah di siapkan oleh Kakak tirinya untuk dirinya.


"Jangan pergi." ucap Keenan melarangnya.


Thalia pun menyentak tangan Keenan sebisanya. "Kak Keenan, katamu ini yang terakhir kalinya bukan? Jadi, jangan larang aku lagi. Kau dan aku sekarang orang asing, carilah wanita lain yang benar - benar bisa memuaskan mu."


Dan Thalia dengan sebisanya memakai pakaiannya. Air matanya berdesakkan mengalir dan membasahi pipinya.


"Aku bilang jangan pergi, Thalia!" Sentak Keenan menarik lengan Thalia dalam pelukannya.


Thalia mendorong tubuh Keenan kuat - kuat. Ia memukul pundak Keenan dengan cukup keras dan menangis.


Ucapan Thalia terhenti saat Keenan memeluknya, membawanya masuk kedalam mantel hitam yang di pakainya dan mendekapnya erat - erat.


"Kau tidak bisa di kasihani, Thalia. Aku itu tidak ingin melihatmu menderita lebih setelah ini," bisik Keenan mengeratkan pelukannya.


Thalia melepaskan cincin di jarinya dan menjatuhkannya hingga menimbulkan bunyi. Dan ia secepatnya mendorong Kakak tirinya dan melangkah pergi dari sana tanpa berkata apapun.


"Kalau kau benar-benar mencintaiku, Kak Keenan. Tolong biarkanlah aku pergi, jangan mengantarku, aku harap ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu, Kak." ucap Thalia mendongak menatap Keenan.


Thalia melangkah pelan ke arah pintu.


"Sampai ke ujung dunia pun, aku tidak akan melepaskanmu, Thalia. Sampai kapanpun.Aku bersumpah, kalau aku akan mendapatkan mu, apapun caranya!"


Thalia tidak ingin mendengarnya lagi, ia sudah hancur hari ini, rasa sakit di tubuh dan hatinya tidak bisa lagi di ungkapkan dengan kata-kata.


Langkahnya yang pelan membawanya keluar dari dalam kamar itu dan berjalan perlahan ke arah lantai satu.


Thalia pun mendengarkan teriakan frustasi dari Kakak tirinya di atas sana.Ya, di dalam kamarnya.


Thalia menundukkan kepalanya dan ia pun tersenyum paksa.


"Aku akan pergi jauh darimu, Kak Keenan. Bukan hanya kau. Bunda, Papa bahkan dunia ini. Aku akan pergi, aku sudah tidak berguna lagi. Selamat tinggal, Kak Keenan." ucap Thalia di dalam hati.


Alam seolah mendukung rasa sakit hatinya saat ini. Hujan deras mengguyurnya dan angin di tepi jalan yang sangat sepi membuatnya seolah membeku.


Thalia menatap seluruh penjuru jalanan yang sepi, dan hanya ada senyuman kecil di bibirnya saat ini sambil mendongak menatap langit yang mendungnya sangat merata.


"Tidak sakit, tidak dingin, tidak ada kejujuran lagi," gumam lirih Thalia menundukkan kepalanya.


Rambutnya yang basah menutupi wajah pucatnya. Dress putih yang berbahan sifon itu tidak lagi terlihat baik.


Thalia menangis tanpa suara, dalam pikirannya sekarang hanya satu, bunuh diri. Ia sudah terlanjur sakit, hancur dan berantakan.


Jalanan itu tidak ada satupun orang lewat. Dan kini Thalia sedang berdiri di tepi jembatan besar yang membentang. Ia terdiam di sana menatap derasnya arus air sungai yang terlihat sedikit berkabut karena derasnya air hujan.


"Tidak ada lagi yang akan di banggakan, Thalia. Sekarang Bunda bisa bahagia dengan Papa Tristan.Aku hiks... Aku hiks... Aku ingin ikut Papaku hiks...."


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.