Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Menjenguk Axel



"Lain kali hati - hati ya."


"Iya Bund. Bunda, aku ingin tanya?"


"Tanya apa, sayang?"


"Apa Bunda tahu tentang Axel?"


"Kenapa kamu tiba - tiba tanya tentang Axel, sayang?"


"Sudah dua hari Axel gak masuk sekolah." ucap Tahlia memberitahu.


"Ah ya, Bunda lupa kasih tahu ke kamu. Waktu Bunda pergi ke acara pesta untuk melihat anak teman Papa yang kecelakaan itu adalah Axel, sayang."


"Apa?" ucap Thalia terkejut mendengar ucapan dari Bundanya.


"Sekarang bagaimana kabarnya Axel, Bund? Baik - baik saja, kan?"


"Bunda kurang tahu. Karena Bunda dan Papa belum menjenguknya lagi."


"Bunda pikir kamu itu mengetahuinya, sayang?"


"Oh itu, aku kehilangan kontaknya. Jadi aku tidak tahu kabar dia sekarang, Bund."


"Sayang sekali. Lebih baik nanti kamu jengukin dia ya. Karena kondisinya cukup parah waktu Bunda dan Papa menjenguknya."


"Baiklah,kalau begitu aku mau siap - siap dulu."


"Eh, kamu mau kemana?"


"Aku mau jengukin Axel, Bund."


"Bagaimana kalau besok sepulang sekolah saja?"


"Gak bisa Bund, aku harus liat kondisi Axel sekarang?"


Vina menghembus nafas panjang. "Ya sudah, nanti Bunda minta Pak supir buat antar kamu ke rumah sakit."


"Iya Bund. Makasih ya."


***


Di Rumah Sakit.


"Thalia?" pekik Axel di dalam hati. Terlihat dari wajahnya, jika Axel sangat terkejut saat Axel melihat kedatangan Thalia. Padahal dia sudah berusaha keras untuk merahasiakannya tentang kondisinya ini. Namun, tetap saja Thalia mengetahuinya.


Langkah Thalia semakin dekat ke arahnya.. Sedangkan Axel langsung menutup kakinya yang di gips dengan menggunakan selimut. Dan ya, Axel sengaja menyembunyikannya karena dia tidak ingin jika Thalia melihatnya dan berakhir mengkhawatirkan kondisinya.


"Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Thalia setelah menaruh keranjang yang berisi buah - buahan di atas nakas. Dari raut mukanya terlihat jelas sekali Thalia terlihat sangat khawatir.


"Aku baik - baik saja," jawab Axel tersenyum lebar ke arah Thalia.


"Dan mungkin besok aku sudah bisa pulang. Jadi kamu gak perlu khawatir."


"Kamu yakin baik - baik saja?"


Axel mengangguk mantap.


"Lalu kenapa kamu sampai di rawat dua hari kalau kamu yakin kamu sudah baik - baik saja?"


"Sebenarnya kemarin aku sudah di perbolehkan untuk pulang. Tapi ya gitu, orang tuaku tetap bersikeras kalau aku di rawat di sini biar benar - benar sembuh."


"Memangnya kamu sakit apa, El?"


"Hanya masalah lambung." jawab Axel. Tentu saja dia berbohong. Dan Axel tidak akan pernah mengatakan yang sebenarnya pada Thalia.


Thalia memicingkan matanya menatap Axel dengan lekat lalu dia tersenyum menyadari sesuatu hal di wajah Axel.


"Ternyata kamu masih sama, El. Tidak pandai berbohong." sindir Thalia setelah melihat bekas pukulan di sekitaran bibir dan juga rahang Axel.


"Katakanlah yang sejujurnya. Mumpung aku lagi baik. Karena aku dengar dari Bunda waktu itu kondisi kamu sangat parah." ujar Thalia.


"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Axel. Sangat terlihat jelas sekali bahwa laki - laki itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


Thalia tahu, dan Axel sebenarnya tidak ingin mencoba untuk menjawabnya. "Aku baik - baik saja dan berhentilah untuk mengalihkan pembicaraan kita, El."


"Apa Keenan sudah melakukan sesuatu padamu?" tanya Axel bersikeras. Terlebih saat Axel melihat luka di tangan Thalia. Dan tentunya pertanyaan Axel kali ini membuat Thalia terdiam.Dan ya, Thalia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya karena itu sama saja mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Axel.


"Maafkan aku Thalia. Karena malam itu, aku tidak bisa menolong mu." sesal Axel.


"Kenapa kau berbicara seperti itu, El? Malam mana yang kau maksud? Apa malam saat kau kecelakaan?" kini giliran Thalia menanyai hal yang sulit untuk di jawab oleh Axel.


Axel diam. Dia bingung harus menjawab apa.


"El, apakah sakit mu ini ada hubungannya dengan Kak Keenan? Aku mohon, jangan mencoba untuk menutupinya dariku," tambah Thalia.


"Tolong, jangan memikirkan yang tidak - tidak. Ini hanyalah kesalahpahaman saja." jawab Axel dan tentunya Thalia masih tidak mempercayainya.


Cukup lama mereka saling mendiami. Dan Thalia mulai kesal karena Axel tidak mau jujur padanya. Sementara Axel sangat berharap jika Thalia melupakan masalahnya dan berhenti untuk menunjukkan rasa khawatirnya.


"Permisi," ucap seseorang yang tak lain adalah seorang dokter. Dokter muda itu segera masuk kedalam kamar rawat Thalia untuk segera memeriksa keadaan Axel sekarang ini.


"Apa kamu masih merasakan sakit?" tanyanya mencoba memastikan dan tampak membuat Axel gelagapan.


"Sekarang sudah baik - baik saja, dok?" jawabnya sesekali melirik ke arah Thalia.


Dokter muda itu terlihat mengerutkan dahi menatap Axel tidak percaya.


"Bukankah beberapa menit yang lalu kamu mengatakan bahwa kalau kak-"


"Dok, nanti saja ya membahasnya. Saya sedang kedatangan tamu." potong Axel secepat mungkin.


"Baiklah. Saya permisi dulu." pamitnya undur diri meninggalkan ruang rawat Axel.


Axel pun bernafas dengan lega. Dia menatap Thalia takut - takut. Tak terduga, gadis itu beranjak dari duduknya dan tanpa ba-bi-bu lagi, Thalia langsung membuka selimut yang menutupi kedua kaki Axel.


Terkejut. Tentu saja Thalia sangat terkejut. Ternyata apa yang di bilang oleh Bundanya memang benar. Dia menyorotkan kekecewaan pada Axel.


"Aku bisa jelaskan tentang ini, Thalia." ucap Axel setelah Thalia mengetahui kondisi yang sebenarnya.


"Kenapa kamu menutupi kondisi kamu yang seperti, El? Benarkah ini perbuatan Kak Keenan? Maafkan aku, El. Karena aku kau selalu terluka." ucap Thalia yang mulai menangis melihat kondisi kaki Axel.


"Aku mohon kamu jangan menangis seperti ini, Thalia. Aku terluka seperti ini memang karena ulah Kakak kamu. Tapi ini bukan kesalahan kamu. Dan lihatlah, sekarang aku juga sudah baik - baik saja."


"Tapi tetap saja Kak Keenan melakukan hal itu padamu pasti karena aku. Untuk itu aku harus segera menemuinya. Maaf, El. Aku harus segera pergi. Semoga kamu cepat sembuh." ucapnya kemudian beranjak dari duduknya.


"Thalia apa yang akan kau lakukan dengan menemui Kakakmu, aku mohon Thalia jangan pergi kesana." Teriak Axel.


Teriakkan dari Axel di abaikannya. Dan Thalia langsung pergi meninggalkan Axel tanpa sepatah katapun.


Setelah dari rumah sakit bukannya pulang, Thalia malah pergi ke Apartemen Kakaknya. Dimana Kakak tirinya itu tinggal sekarang. Dan ya, tujuan Thalia datang ke Apartemen milik Kakaknya karena dia ingin meminta penjelasan secara langsung dari mulut Kakaknya tentang perbuatannya yang telah melukai Axel.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.