Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Wanita Menyebalkan



Sedangkan Angga masih tampak bingung dan terkejut saat seorang wanita yang nampak asing tiba - tiba saja langsung mendorong tubuh Thalia, dan langsung memeluk dirinya dengan begitu erat. Ya, mengingat kejadian itu berlangsung sangat singkat, membuat tubuhnya telat untuk merespon dan berakhir dengan tubuh sang kekasih yang pada akhirnya membentur tembok dengan sangat keras.


Dengan sedikit kasar, Angga berusaha untuk melepaskan kaitan kedua lengan wanita itu yang melingkar erat di pinggangnya. Namun, setelah beberapa kali mencoba Angga masih belum bisa juga melepaskannya.


Hingga dengan sangat terpaksa, Angga memegang kedua bahu wanita itu, dan mendorongnya dengan keras hingga membuatnya jatuh tertunduk. Tanpa melihat wanita itu, Angga pun langsung bergegas menghampiri Thalia yang nampak memegangi bahu kanannya akibat berbenturan dengan tembok tadi.


"Apa kau tak apa? Katakanlah di sebelah mana yang terasa sakit? Apa perutmu baik - baik saja?" tanya Angga sembari mengecek kembali sekitar tubuh Thalia.


Thalia hanya menggelengkan kepalanya, dan tentu saja membuat Angga semakin bingung dan khawatir. Dan dengan segera Angga langsung menggendong tubuh Thalia ala bridal style dan membawanya untuk duduk di sofa.


Dapat Thalia lihat dari sudut matanya, perempuan itu tengah berdiri di bantu oleh Ibunya Angga. Namun, tiba - tiba perempuan itu berbalik menatap ke arah Thalia dan memberikannya tatapan yang tajam. Thalia yang merinding, memilih kembali untuk menatap Angga yang masih mengecek tubuhnya.


"Angga! Kau itu tidak seharusnya mendorong Celine sampai jatuh seperti itu. Lihatlah, telapak tangannya sampai lecet begitu!" Ibunya Angga berteriak ke arah Angga sembari menuntun wanita itu ke arah sofa yang sama.


"Apa peduliku. Sopan kah seperti itu, tiba - tiba berlari mendorong seseorang dan langsung memelukku. Apa kau tidak pernah di ajarkan sopan santun oleh orang tuamu!" Angga langsung membalas ucapan ibunya dengan tak kalah tinggi, dan berakhir menatap wanita itu dengan tajam.


Bukannya merasa bersalah dan menyesal, wanita yang di panggil Celine itu kembali mendekat ke arah Angga dan duduk di sebelah kanannya. Ya, Celine kembali mencoba untuk melakukan skinship dengan Angga. Namun, buru - buru tangan itu langsung di tepis dengan keras oleh Angga.


"Kau ini binatang atau apa? Sampai tidak bisa memahami bahasa manusia! Minggir!" Bentaknya pada wanita itu. Angga lalu berdiri dan berpindah tempat duduk di sebelah kiri Thalia.


"Angga, kau tidak bisa seperti itu dengan Celine. Dia itu tamunya Mama. Dan Mama yang sudah mengundangnya kemari, karena Ibunya Celine menginginkan agar kau bisa dekat dengan Celine."


Thalia dan Angga sangat terkejut saat mendengar penuturan dari Ibunya Angga, Abella. Ya, bagaimana mana mungkin dia bisa melakukan hal seperti itu. Bagaimana pun juga, Angga itu sudah punya kekasih. Tapi dengan santainya Abella berusaha mendekatkan wanita asing itu dengan Angga. Apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Thalia.


Angga menghela nafasnya kasar. Dia lalu menarik tangan Thalia dengan kasar menuju ke arah kamar mereka. Terlalu di dekat sang Ibu, benar - benar banyak menguras banyak kesabaran. Ia takut jika suatu waktu dapat lepas kendali dan berbalik dengan membentak Ibunya.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Celine yang berusaha untuk mengejar Angga


"Bukan urusanmu!" Bentak Angga tanpa mau memandang wajah ke arah wanita itu.


Brak


Dengan keras, Angga langsung menutup pintu kamarnya tepat di depan wajah Celine. Ia benar - benar tidak peduli jika sampai wajah Celine sampai terluka. Lagi pula, ini bukan salahnya. Ya, salahkan saja wajah wanita yang sangat menyebalkan itu yang terus menerus mengikutinya.


Dan suara gedoran pintu mulai memenuhi kamar mereka. Tanpa harus membukanya. Kalian juga pasti tahu kalau itu adalah perbuatan dari Celine. Namun mereka memilih untuk mengabaikannya.


"Wanita gila itu benar-benar ya. Kau tunggulah di sini, biar aku ke bawah untuk mengambil obat dan meminta Bik Nila untuk mengantarkan makan malam kita ke kamar saja. " ucap Angga kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar, menyisakan Thalia yang masih termenung memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.


"Aku hanya ingin hidup tenang, apa itu tidak bisa?" ucap Thalia di dalam hati di iringi setetes air yang jatuh dari netranya.


***


Kini mereka berempat tengah menikmati makan malam bersama di meja makan. Entah bagaimana caranya wanita itu bisa menahan Angga untuk duduk di kursi makan dan memerintahkan Bik Nila untuk menyusul Thalia turun dan Celine dengan nyaman duduk di samping kanan Angga, yang seharusnya adalah tempat duduk miliknya. Namun, Thalia harus mengalah dan duduk bersebrangan dengan Angga karena ia terlalu malas jika harus berdebat dengan Ibunya Angga yang kini tengah duduk di sebelah kirinya itu.


Makanan enak yang tersaji di meja makan terasa begitu hambar di lidahnya Thalia. Mungkin karena moodnya yang sudah terlanjur hancur. Apalagi saat melihat tingkah Celine yang selalu mencoba untuk melakukan skinship dengan Angga, menambah hilangnya nafsu makan Thalia.


"Apa perutmu sedang tidak enak? Aku tadi lihat kamu itu baru makan sedikit?" tanya Angga sambil memandang ke arah Thalia dengan raut wajah yang khawatir.


"Sudahlah Angga, kau itu fokus saja dengan makananmu. Lagi pula kalau nanti dia kembali lapar kan, bisa langsung makan." sahut Celine yang menatap tajam ke arah Thalia.


"Bisakah kau diam!" Ucap Angga yang menatap tajam ke arah Celine. "Sayang, makanlah yang banyak. Bayi kita juga perlu nutrisi untuk kandungannya." lanjut Angga yang kemudian berdiri dan berpindah duduk di sebelah kanan Thalia yang masih kosong.


Angga meraih piring Thalia yang masih tersisa banyak sekali makanan. Dengan perlahan ia menyendok kan makanan itu dan membawanya ke hadapan mulut Thalia.Namun dengan cepat Thalia menepisnya.


"Maaf. Tapi perutku agak sedikit sedang tidak enak. Aku izin pergi ke kamar lebih dulu untuk beristirahat." itu hanyalah alasan dari Thalia saja. Karena perutnya itu sebenarnya baik - baik saja, dia hanya kehilangan nafsu makan saja.


Setelah menghabiskan air minumnya. Thalia pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan makan itu untuk menuju ke arah kamarnya. Dan langsung mengubur tubuhnya di bawah kungkungan selimut tebal yang terasa hangat.


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....