Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Pertengkaran



Siska dan Thalia menuju ke arah parkiran mobil dimana sopir pribadi milik Siska sudah datang untuk menjemputnya. Mereka masuk kedalam mobil. Dan mobil itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area sekolahnya.


"Thalia, apa kamu sudah izin dengan Kakakmu?" tanya Siska yang kini sedang duduk di sampingnya.


"Sudah, aku sudah meminta izin pada Bundaku dan Kak Keenan. Kau tau kan, Sis. jika aku tidak memberikan kabar pada Kakakku takutnya dia akan salah paham lagi denganku."


"Lalu Kakakmu itu mengatakan apa?" tanya Siska memastikan. Entah kenapa perasaan Siska tetap menjadi tidak enak. Dan Siska hanya takut jika Thalia akan bertengkar dengan Keenan.


"Ya, Kakakku mengatakan dia tidak pernah mengizinkan aku untuk menginap. Tapi aku mengatakan padanya jika aku sedang tidak meminta izin padanya." jelas Thalia.


"Hah? Kau sudah gila ya, Thalia! Kenapa kau begitu berani mengatakan hal seperti itu pada Kakakmu?" seru Siska. Dia tidak menyangka jika Thalia begitu berani mengatakan hal seperti itu pada Kakak tirinya.


"Aku hanya berkata apa adanya, Sis.Dia tidak berhak atas hidupku. Dan dia sudah seharusnya memiliki batasan." ujar Thalia, hatinya masih merasa sakit.


Kini mereka sudah sampai di rumah Siska.Dan kebetulan hari ini orang tua Siska juga sedang melakukan perjalanan bisnis, jadi di rumah hanya ada Siska.


Thalia dan juga Siska turun dari mobil. Kemudian mereka masuk kedalam mansion. Untungnya Thalia sebelumnya sudah meminta supir pribadinya untuk membawakan baju yang sudah dia siapkan untuk menginap di rumah Siska. Jadi, dia tidak perlu lagi meminjam baju Siska.


"Siska, nanti kau tidak usah memasak pesan makanan untuk kita saja." kata Thalia.


Siska pun mengangguk setuju, dia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi restoran yang letaknya tidak terlalu jauh. Setelah Siska memesan makanan, dia berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Setelah Siska sudah selesai mandi. Kini giliran Thalia yang langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi dia juga ingin berendam.


Kini Siska sedang duduk di sofa, sembari menunggu kurir restoran datang kerumahnya. Kemudian Siska menghidupkan televisi. Tidak lama kemudian terdengar suara bunyi bell. Siska pun beranjak dari tempat duduknya dia langsung berjalan menuju ke arah pintu. Dia yakin itu pasti kurir restoran yang mengantarkan makanan untuknya. Seketika Siska di buat kaget karena saat dia membuka pintu ternyata Keenan yang kini sedang berdiri di hadapannya.


"A-ada perlu apa Kak Keenan kesini?" tanya Siska dengan gugup.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Siska, Keenan langsung berjalan masuk kedalam rumah Siska. Sedangkan Siska, dia terkesiap karena Kakak tirinya Thalia langsung masuk kedalam rumahnya.


"Dimana Thalia?" tanya Keenan dingin.


"Kak Keenan, lebih baik Kakak pulang. Dan biarkan Thalia menginap di rumahku," jawab Siska.


Keenan melayangkan tatapan tajam pada Siska. "Kau pikir kau itu siapa berani sekali memerintah ku?!"


"Bukan begitu Kak Keenan, hanya saja menurutku biarkan Thalia itu menginap di rumahku," ujar Siska dengan suara tenang.


Tidak lama kemudian Thalia berjalan menuju ke arah Siska. Dan ya, dia baru saja selesai mandi, saat dia berjalan ke arah Thalia dan dia pun terkejut saat melihat Kakak tirinya juga ada di sana.


"Kak Keenan, apa yang sedang Kakak lakukan di rumah Siska?" tanya Thalia dengan tatapan yang bingung. Dia sama sekali tidak pernah menyangka jika Kakak tirinya itu akan datang kerumahnya Siska.


"Kita pulang sekarang." Keenan langsung menarik paksa tangan Thalia.


"Lepaskan aku, Kak Keenan! Aku tidak ingin pulang!" Sentak Thalia. Dia berusaha untuk melepaskan tangannya yang di tarik kasar oleh Kakak tirinya.


"Kita pulang sekarang, Thalia!" Seru Keenan dengan nada tinggi.


"Bukankah tadi aku sudah katakan pada Kak Keenan, kalau aku akan menginap di rumah Siska. Kenapa Kakak terus memaksaku untuk pulang!" Ucap Thalia dia berusaha untuk menahan emosinya.


Keenan menggeram dia sudah kehilangan kesabarannya. "Aku sudah mengatakan padamu, bukan? Jika aku tidak pernah sekalipun mengizinkanmu untuk menginap di rumah Siska!" Seru Keenan.


Plak.


Untuk pertama kalinya tamparan panas itu melayang di pipi mulus Thalia hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Ya, Keenan sangat marah ketika Thalia sudah berani membalas ucapannya.


"Cukup. Apa yang sudah Kak Keenan lakukan pada Thalia sungguh sangat keterlaluan." ucap Siska saat melihat Kakak tirinya Thalia menampar pipi Thalia dengan cukup keras hingga membuat sudut bibir Thalia berdarah.


"Diam kamu. Jangan ikut campur urusanku dengan adikku!" Bentak Keenan pada Siska.


"Seharusnya Kak Keenan itu harus bersikap baik pada Thalia, jangan langsung main kasar seperti itu bis-"


"Sudah cukup! Kau tidak perlu ikut campur lagi." Ucap Keenan penuh dengan amarahnya. "Ayo Thalia pulang kerumah." lanjut Keenan


"Lepas!" Thalia berontak ketika Kakak tirinya itu mencengkram tangannya dengan begitu kuat.


"Aku tidak akan pernah melepas mu!" Keenan berseru tegas.


Thalia menggeram. Kakak tirinya itu tidak henti - hentinya memaksa dirinya. Hingga kemudian, tatapan Thalia beralih pada pisau yang berada di samping piring buah. Dengan cepat Thalia langsung mengambil pisau itu dan menempelkannya ke lehernya.


"Thalia apa yang kau lakukan?" teriak Siska melihat Thalia yang seperti itu.


"Thalia! Apa kau itu sudah gila? Lepaskan pisau itu!" Wajah Keenan berubah menjadi panik saat Thalia menempelkan pisau ke lehernya.


"Lebih baik Kak Keenan itu pergi dari sini. Atau Kak Keenan mau melihat aku melukai diriku," tukas Thalia dengan penuh ancaman.


"Aku bilang lepaskan pisau itu!" Bentak Keenan.


Kali ini, Thalia semakin menekan pisau itu ke lehernya. Hingga kini mengeluarkan sedikit darah dari leher Thalia kemudian dia pun langsung melepas tangan Thalia dan melangkah mundur.


"Jangan pernah memaksaku lagi, Kak!"


"Aku tahu aku salah kemarin, karena sudah membentak mu. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu." kata Keenan.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Karena apa yang kau katakan itu selalu benar. Kau tidak salah Kak Keenan. Dan masalah kau membentakku, aku sudah melupakannya. Jadi aku mohon pergilah berikan aku waktu untuk menenangkan diri di rumah Siska."


Thalia berkata penuh dengan ketegasan. Dia pun mulai menurunkan pisaunya saat Kakak tirinya itu melangkah mundur. Kini Keenan berbalik dia berjalan cepat meninggalkan Thalia karena dia tidak ingin melihat jika Wanita yang di cintainya itu akan melukai dirinya sendiri lagi.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.