
Hari ini, Angga terpaksa meliburkan dirinya karena ingin menghabiskan waktunya dengan Thalia. Walaupun perang dingin di antara mereka telah berakhir, tapi menurut Angga mereka perlu melakukan pembicaraan terkait kelanjutan hubungan mereka.
Sesi makan telah berakhir sejak satu jam yang lalu, dan saat ini Angga tengah duduk di ruang kerjanya untuk mengurus beberapa dokumen milik pasiennya.Sedangkan Thalia sepertinya tengah bersantai di kamarnya.
Begitu Angga menyelesaikan berkas terakhirnya ia pun langsung bergegas melangkah ke arah kamarnya dengan Thalia. Terlihat Thalia tengah asik membaca novel yang memang setiap seminggu sekali Angga selalu bawakan sebagai bahan hiburan bagi Thalia selama di villa.
Karena terlalu fokus dengan novelnya. Thalia sampai tidak menyadari bahwa Angga sudah bersandar di kusen pintu sembari menatap ke arah Thalia yang tengah fokus membaca novel.
Ekhemm!" Suara deheman dari Angga langsung menyadarkan Thalia. Ia pun langsung mengalihkan atensinya dari buku ke arah Angga. Angga pun terlihat mulai melangkahkan kakinya ke arah Thalia yang tengah duduk di atas ranjang.
Angga pun mendudukkan dirinya di ranjang di sebelahnya Thalia yang masih kosong. Ia pun mengintip sejenak ke arah buku Thalia yang sedang di baca itu, dan kembali mengalihkan perhatiannya kepada Thalia
"Apa sebegitu menariknya buku - buku itu, sampai kau tidak sadar jika aku sudah berada di dekatmu?" goda Angga
"Uhm.." Thalia menganggukkan kepalanya. "Genre buku ini adalah tipe genre yang sangat aku suka. Dan penyampaian ceritanya beserta alurnya juga sangat menarik. Terlebih lagi, tokoh utama prianya itu, nampak seperti dirimu, Angga." ucap Thalia
Karena penasaran yang di ucapkan oleh Thalia tadi, Angga pun langsung mengambil buku yang tengah di baca oleh Thalia. Ia membalikkan buku itu sejenak dan membaca sinopsis yang tertulis di sana.
"Kisah cinta antara dokter dengan pasiennya ya. Hmmm. Sepertinya menarik. Oh ya lupa aku. Thalia, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Angga. Kemudian Angga langsung menutup buku yang di baca oleh Thalia. Tak lupa juga, ia meletakkan pembatas buku pada halaman yang tengah di baca oleh Thalia.
"Kamu ingin membicarakan apa?" tanya Thalia yang penasaran dengan penuturan dari Angga tadi.
Dan tanpa menjawab pertanyaan dari Thalia, Angga malah meraih kedua bahu Thalia dan mendorongnya seakan memberikan kode untuk berbaring. Dan Thalia yang paham pun langsung membaringkan tubuhnya di ranjang yang biasa mereka tempati. Angga juga terlihat ikut membaringkan dirinya tepat di sebelah Thalia.
"Aku ingin membicarakan banyak hal padamu. Khususnya untuk kelanjutannya hubungan kita. Kau tahu, aku merasa akhir - akhir ini kita itu semakin jarang berkomunikasi.Maka dari itu, kesalahpahaman yang kemarin sempat terjadi."
Angga pun memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Thalia. Nampak wanita itu serius mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut Angga.
"Apa kau ingin melakukan pillow talk bersama ku?" tebak Thalia yang sepertinya memang benar.
"Apa itu terdengar aneh?" tanya balik Angga.
"Aku tidak pernah mengatakan hal itu aneh, bukan? Kalau begitu, ayo kita lakukan." sahut Thalia yang nampak sangat bersemangat mendengar ajakan dari Angga untuk melakukan pillow talk. Sedangkan Angga hanya tersenyum, saat melihat bagaimana semangatnya Thalia atas ajakannya. Ia lalu meraih salah satu tangan Thalia dan menuju ke arah bibirnya.
Cup!
"Baiklah, kita mulai."
Thalia masih menatap ke arah Angga yang sepertinya masih enggan untuk berbicara. Angga terlihat masih dengan hal yang ingin di bicarakannya.
"Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Kau tahu kan, hubungan kita saja baru berjalan selama dua bulan. Dan masih banyak yang belum di ketahui satu sama lain. Aku pernah membaca jika pillow talk adalah salah satu cara untuk menjaga keharmonisan dalam hubungan. Ya, walaupun yang akan kita lakukan masih berupa obrolan singkat tanpa di dahului, uhmm... Kau tau lah..."
"Hei, tak selamanya pillow talk itu di dahului dengan adegan intim terlebih dahulu. Dan apa - apaan wajah malu - malumu itu. Hanya karena tak bisa mengatakan kata itu, wajahmu itu langsung memerah. Ah, menggemaskan sekali."
Wajah Angga sedikit cemberut ketika Thalia berhasil menggoda dirinya. "Jangan menggodaku, sayang." ujar Angga.
"Baiklah - baiklah." ucap Thalia berusaha untuk menahan tawanya.
Angga mencoba untuk meletakkan telapak tangan kirinya pada pipi sebelah kanan Thalia dengan ibu jarinya. Ia pun mengusap pipi Thalia dengan sangat hati - hati, seakan jika pipi Thalia adalah sebuah porselen yang akan mudah pecah jika di sentuh.
"Apa yang kau pikirkan tentangku saat pertama kali kita bertemu?" kini tangan Angga yang tadinya mengusap pipi, kini beralih menekan - nekan hidung mungil milik Thalia.
"Entahlah, aku tidak begitu ingat. Pertemuan pertama kita sangatlah singkat. Aku yang berlari tak sengaja menabrak mu dan kau mencoba membantuku untuk bangun. Entahlah, tapi jujur saja saat itu aku merasakan adanya desiran aneh di hatiku. Tidak hanya itu, kau juga sangat menyebalkan saat itu." ungkap Thalia dengan jujur
Entah keberanian darimana, tapi Thalia tiba - tiba saja mengangkat tangan kanan nya dan kemudian ia letakkan di rahang tegas Angga dan dengan perlahan Thalia mengusap jari - jarinya pada rahang Angga itu.
"Desiran aneh? Seperti apa itu?" tanya Angga yang sepertinya tak menghiraukan tangan Thalia yang tengah menjelajahi rahangnya.
"Entahlah, aku juga tidak paham. Karena terlalu membingungkan untuk di jabarkan.Lalu bagaimana kesanmu saat pertama kali bertemu denganku?" tanya balik Thalia.
Angga terlihat tengah menghela napasnya. Sembari memejamkan matanya sejenak, namun tak sampai sepuluh detik ia pun kembali membuka matanya.
"First impressionku saat melihatmu adalah kau gadis yang ceroboh. Mengingat jalanan saat di pesta itu yang begitu lebar tapi kau masih bisa menabrak ku yang hanya berdiam diri saja di situ."
Angga kembali terkekeh pelan saat mengingat kembali momen pertamanya saat bertemu dengan Thalia. Tapi jujur saja, walaupun Angga menganggapThalia adalah gadis yang ceroboh, tapi dia langsung terpesona begitu melihat wajah cantik dari Thalia yang tampak sangat manis menurutnya.
Jreess....
Tiba - tiba suara hujan terdengar dengan jelas dari kamar Angga.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....