Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Menagih Janji



Jreess...


Tiba - tiba suara hujan terdengar dengan jelas dari kamar Angga. Thalia yang penasaran membalikkan sedikit badannya ke arah pintu balkon yang terbuat dari kaca. Terlihat pintu kaca itu mulai mengembun akibat dinginnya udara luar yang sedang di basahi oleh air hujan.


Baru ingin membalikkan badannya kembali, namun Angga lebih dahulu memeluk tubuhnya dari belakang. Selama beberapa menit berlangsung. Angga terus terusan mengecup leher belakang Thalia. Dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.


"Geli." ucap Thalia. Namun sepertinya Angga mengabaikan ucapan dari Thalia dan kembali mengecupi leher Thalia.


"Hey, aku tak nyaman dengan posisi ini. Aku ingin saling berhadapan denganmu," protes Thalia.


Dengan terpaksa Angga langsung melepaskan pelukannya itu. Ia lalu meraih selimut yang berada di ujung ranjang, dan menariknya hingga menutupi tubuh keduanya.


"Ini sudah hampir pukul satu siang, apa kau tidak berangkat bekerja?" tanya Thalia.


Di dalam selimut tangan Angga kembali merengkuh Thalia. "Hari ini aku meliburkan diri. Lagi pula sudah lama sekali aku tidak mengambil jatah liburku. Sesekali meliburkan diri apa salahnya."


Angga pun menarik tubuh Thalia agar semakin mendekat dengan tubuhnya. "Apakah Keenan juga pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang tengah aku lakukan padamu?" tanya Angga yang penasaran.


"Tidak, kau yang pertama." sahut Thalia.


"Harus aku akui, walaupun Kak Keenan adalah sosok yang kasar dan selalu mengekang ku, tapi di satu sisi dia adalah sosok Kakak yang sangat baik terlepas dari perbuatan bejatnya kepadaku."


Angga mengerutkan dahinya bingung. Karena pada dasarnya sosok Keenan yang Angga kenal itu adalah sosok yang begitu kasar dalam memperlakukan adiknya. Bagaimana mungkin Thalia masih menganggap baik sosok Kakaknya itu.


"Baik seperti apa yang kau maksud itu?" tanya Angga penasaran.


"Kak Keenan selalu menjagaku dengan sangat baik. Kak Keenan bahkan pernah menyelamatkan nyawaku saat aku dalam bahaya waktu itu. Kak Keenan juga bahkan tidak tidur semalaman hanya untuk merawat ku ketika aku sedang sakit.Bukan hanya itu saja, Kak Keenan juga selalu memenuhi semua keinginanku dengan catatan, aku harus selalu mematuhi perintahnya." jelas Thalia.


Thalia mendongakkan kepalanya untuk melihat ekspresi wajah Angga, terlihat wajah pria itu datar tak berekspresi setelah mendengar cerita tentang Keenan dari Thalia. Namun dengan cepat Angga pun langsung merubah ekspresi wajahnya begitu tau Thalia tengah menatapnya.


"Lalu bagaimana denganmu? Kau tak pernah menceritakan sosok Kak Logan kepadaku." Thalia mengelus kembali rahang tegas Angga.


"Tidak ada yang menarik dengan kisahku dan Kak Logan." sahut Angga.


Thalia sedikit kecewa saat mendengar jawaban dari Angga. Mau bagaimana pun juga sebenarnya Thalia ingin mendengar sedikit kisah masa lalu Angga. Bukankah curang namanya jika Thalia saja yang mau menceritakan sedikit kisahnya. Hingga akhirnya terpikirkan lah satu cara yang menurut Thalia sangat efektif.


Thalia mengangkat kedua telapak tangannya ke arah wajah Angga dan berusaha untuk menangkupnya dengan kedua telapak tangannya. Dan dengan perlahan Thalia memajukan wajahnya menuju ke arah Angga, dan...


Cuupp..


Thalia mengecup pelan bibir Angga. Angga yang memang dalam posisi belum siap, hanya bisa terdiam mematung sembari memikirkan kejadian yang baru beberapa detik itu berlalu.


Ya, pasalnya Angga benar - benar tidak menyangka, jika Thalia bisa melakukan hal seperti itu, karena selama inilah Angga yang selalu memulainya lebih dulu. Begitu Angga kembali dapat menguasai tubuhnya, Angga hanya tertawa seraya mengusap wajahnya pelan.


"Berani sekali kau mengecup ku." ucap Angga mencubit hidung Thalia gemas.


"Hei, yang tadi itu tidak gratis kan. Cepat ceritakan masa lalu mu bersama dengan Kak Logan. Aku benar-benar penasaran," seru Thalia kepada Angga.


Mendengar ucapan dari Thalia itu. Entah mengapa, Angga semakin gemas dengan wanita yang ada di hadapannya ini. "Akan aku ceritakan setelah kita melanjutkan kegiatan tadi."


Namun dengan dorongan yang kuat dari Thalia, kedua tautan bibir mereka pun akhirnya terlepas. Dan Thalia langsung menghirup udara sebanyak - banyaknya dengan nafasnya yang nampak masih tersendat - sendat.


"Kau mau membunuhku ya!"Seru Thalia yang hanya di balas tawa dari Angga.


"Sebuah kecupan tidak akan bisa membunuh mu, sayang."


"Mana janjimu, kau bilang akan menceritakan semua masa lalumu bersama dengan Kak Logan?!" Protes Thalia kepada Angga yang masih asyik memandang ke arah wajahnya.


Angga hanya bisa menghela nafas pasrah, ketika Thalia terus menagih janjinya itu. Ya, Angga telah hafal dengan karakter Thalia yang cukup keras kepala. Thalia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia mau.


"Baik - baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Tapi itu khusus untukmu saja, sayang." ucap Angga dengan ekspresi wajah yang tampak pasrah.


Sedangkan Thalia yang melihat hal itu hanya tertawa menanggapinya. Menurut Thalia, membuat Angga memperlihatkan wajah pasrahnya itu cukuplah menyenangkan. Karena selama ini, hanya ekspresi tersenyum lembut saja yang sering Thalia lihat. Maka dari itu, saat melihat ekspresi lain dari wajah Angga, malah terlihat seperti hiburan tersendiri bagi Thalia.


"Dengarkan semua ceritaku dengan baik - baik, karena aku tak akan mengulanginya lagi. Apa kau paham?"


Thalia yang merasakan aura Angga kini mulai berubah menjadi serius, memilih untuk menganggukkan kepalanya saja. Ia takut, jika berbicara malah akan mengubah suasana.


"Percaya atau tidak, tapi sepertinya ibuku tidak pernah mengharapkan kehadiranku." ucap Angga.


Mendengar ucapan dari Angga, Thalia pun begitu terkejut. Thalia pun berpikir, bagaimana mungkin seorang Tante Abella yang terlihat begitu menyayangi Angga ternyata tidak mengharapkan kehadiran laki - laki itu.


"Bagaimana mungkin?" tanya Thalia yang sangat penasaran.


"Mengejutkan bukan? Tapi seperti itulah faktanya?" sahut Angga dengan suaranya yang terdengar begitu tenang.


Angga menghela nafasnya sejenak, sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Kau tahu? Ketika sebuah keluarga kaya telah memiliki seorang pewaris utama, lalu untuk apa mereka membutuhkan pewaris yang lain. Yang mereka butuhkan lagi hanyalah seorang anak yang bisa di gunakan sebagai alat untuk memperluas koneksi dengan pewaris utama dari keluarga kaya lainnya."


Thalia pun sepertinya sudah mulai paham, kemana arah pembicaraan dari Angga.


"Apa Tante Abella sebenarnya menginginkan seorang anak perempuan?" tanya Thalia berhati - hati.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....