
"Baiklah, aku bakalan keluar dari kamarmu. Tapi ingat Thalia, mulai hari ini aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi bebas seperti sebelumnya. Jika kamu berani menentang ku jangan salahkan aku, jika kau akan mendapatkan hukum dariku. Ingat Thalia, kau itu hanya di takdirkan untuk menjadi milikku dan bukannya sebagai adikku!" Peringat Keenan langsung melangkah pergi dari kamar Thalia dan membanting pintu kamar Thalia dengan begitu keras. Hingga membuat Thalia sangat terkejut, di tambah lagi dengan peringatan dari sang Kakaknya yang tadi mengatakan bahwa dirinya hanya miliknya.
"Tidak. Aku tidak mau! Padahal, aku ini adalah adikmu sendiri, tapi kenapa kamu punya pikiran yang seperti itu, Kak.Perubahan sikapmu itu membuatku merasa tak nyaman lagi saat tinggal di mansion ini." ucap Thalia bergumam lirih seorang diri.
Dia pun bergegas langsung mengunci pintu kamarnya dan segera beranjak menuju ke arah ranjangnya.
Sedangkan di kamar Keenan dia sedang melampiaskan amarahnya karena mendapatkan penolakkan dari adik tirinya. Ya, tentunya Keenan sangat kecewa dengan sikap Thalia yang secara terang-terangan langsung menolaknya.
"Berani - beraninya kamu menolak Kakak, Thalia. Kamu itu gak punya hak untuk menolakku karena kamu itu milikku. Ya, kamu itu cuma milikku. Lihat saja nanti, aku tidak akan pernah membiarkan laki-laki lain mendekatimu." ucap Keenan sambil mengepalkan tangannya kemudian Keenan langsung meninju dinding kamarnya.
Nafas Keenan memburu menahan amarahnya, dan dengan seringai tajamnya dia pun bergumam. "Ingat Thalia, jika kamu membuatku kecewa lagi, maka jangan pernah salahkan aku, jika aku akan bertindak sesuka hatiku. Kita lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan padamu."
***
"Thalia, pagi - pagi begini kamu mau pergi kemana? Dan kenapa, kamu itu terlihat buru - buru begitu?" tanya Keenan saat melihat Thalia sudah memakai seragam sekolah lengkap.
"Berangkat sekolah lah, Kak." jawab Thalia ketus.
"Sekolah?" tanya Keenan curiga. Kemudian, dia pun melirik sekilas ke arah jam dinding. Pasalnya, ini masih terlalu pagi jika adiknya tirinya itu akan berangkat ke sekolah.
"Thalia? Apa kamu yakin, mau berangkat di jam segini? Ini masih sangat pagi loh?" tanyanya sambil menatap Thalia dengan sorot tajam penuh dengan kecurigaan.
Thalia langsung meneguk salivanya susah payah. "Aku gak bohong kok, Kak. Aku itu memang ada jadwal piket pagi."
Keenan menghela nafasnya kasar, seraya melipatkan kedua tangannya di depan dada dan tak berhenti menatap wajah Tahlia yang pagi ini terlihat begitu sangat cantik. Sebenarnya bukan hari ini saja tetapi setiap harinya sehingga Keenan tak pernah merasakan bosan untuk melihat adik tirinya berlama-lama.
"Kamu itu cantik sekali, sih? Kapan yah bisa Kakak milikin?" Keenan merancau dengan suara seraknya.
"Hah? Maksud Kak Keenan apa coba?" tanya Thalia yang tidak terlalu fokus mendengar ucapan dari Keenan tadi. Karena yang ada di pikiran Thalia tadi hanya fokus pada tujuannya yaitu segera pergi dari hadapan Keenan.
"Tadi Kakak cuma bilang kalau kamu itu cantik banget. Ingat ya Tahlia, pokoknya kamu itu gak boleh dekat - dekat sama cowok lain selain Kakak!" Keenan kembali memberikan peringatan kepada Thalia.
"Terserah Kakak. Kalau begitu aku mau berangkat ke sekolah dulu." ucap Thalia dengan nada kesal. Ya, dia tidak ingin berdebat lagi dengan Kakaknya. Lebih baik dia segera pergi dari hadapan Kakak tirinya itu.
Keenan hanya mengamati gerak-gerik dari Tahlia yang terlihat mulai tak nyaman ketika berada di dekatnya
"Thalia! Apa kamu gak mau minta uang saku ke Kakak?" tanya Keenan lagi. Dan Tahlia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat
"Nggak, Kak. Karena aku masih ada simpanan uang yang di kasih sama, Papa." Thalia langsung menolak tawaran dari Keenan.
Keenan menaikkan salah satu alisnya. Kemudian Keenan langsung berjalan mendekat ke arah adiknya itu.
"Baby, jangan bilang begitu dong? Kakak tau kok, kamu itu pasti membutuhkan uang untuk keperluan kamu. Ayolah, sekarang kamu tinggal bilang aja sama kakak, berapa yang kamu butuhkan." ucap Keenan sambil mendekatkan dirinya hingga lebih dekat dengan Thalia.
Thalia memejamkan matanya dengan nafasnya yang memburu sambil menahan amarahnya.
"Bukankah tadi aku udah bilang, aku itu tidak membutuhkan uang dari Kakak, jadi tolong, biarkan aku pergi." tolak Thalia
Kali ini, bukannya marah Keenan malahan terkekeh pelan sambil menatap kearah Tahlia yang menurutnya sangat lucu ketika adik tirinya itu sedang marah-marah kepadanya.
Kali ini Keenan menggelengkan kepalanya sambil meraih tangan Thalia untuk di genggamnya. "Tidak boleh, kamu itu harus sarapan dulu baru Kakak ijinkan kamu buat berangkat ke sekolah."
Kali ini Thalia pun langsung menepis genggaman tangan dari Keenan. Dan dia harus mengatakan lagi pada Kakak tirinya itu jika dirinya adalah saudaranya sekarang jadi, tidak ada namanya saling menyentuh.
"Kenapa, Thalia? Bukannya dulu kamu itu sangat senang?" tanyanya ingin tahu.
"Tapi itu dulu, Kak. Dan sekarang semuanya sudah berbeda."
"Apanya yang berbeda? Perasaan Kakak itu masih sama." kata Keenan sambil tersenyum lebar ketika Keenan berhasil membungkam mulut Thalia dengan bibirnya. Walaupun dirinya hanya sekilas mencium bibir sang adik tapi itu sudah cukup baginya.
"Bagaimana? Apa kamu mau sarapan sekarang bersama Kakak?"
"Maafkan aku, Kak. Tapi aku sudah kenyang." Thalia menolak tawaran untuk sarapan pagi dengan Keenan.
"Baik. Kalau begitu biar Kakak yang mengantarmu ke sekolah."
"Apa? Aku itu tidak mau. Aku mau berangkat sama sopir saja." tolak Thalia cepat.
"Kamu masih belum lupa kan, Thalia? Kalau Kakak itu tidak pernah mau mendengar kata penolakan yang keluar dari mulut kamu itu. Jadi? Suka tidak suka kamu itu harus berangkat bareng ke sekolah di antar oleh Kakak.
Akhirnya, Thalia pun mengalah lagi. Dan membiarkan Kakak tirinya itu mengantar dirinya ke sekolah
"Thalia, kamu kenapa jadi diam begitu. Memangnya kamu gak pengin gitu ngobrol bareng sama Kakak" rayu Keenan dengan menoleh pada Thalia yang masih betah membuang muka ke arah jendela.
"Dan sekarang tangan Keenan kini diam - diam meraih tangan Thalia dan langsung mengecupnya.
"Lepas!" Sentak Thalia penuh dengan kilatan emosi.
"Thalia! Kamu itu kenapa sih? Kakak itu sayang banget sama kamu tahu? Memangnya apalagi yang kurang?"
"Karena Kakak itu sudah sangat kurang ajar!"
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.