Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Tidak Ingin Pulang



Konten dewasa, Harap bijak dalam membaca! untuk anak di bawah umur, harap menjauhi bab ini!!!


...******...


Dan kini, Keenan langsung menarik paksa kaki Thalia, hinggap membuat Thalia kini terbaring di ranjang. Dan dengan cepat Keenan langsung naik ke atas Thalia. Lalu dia menarik paksa seragam sekolah Thalia hingga kancing bajunya terlepas dan melemparkannya sembarangan.


"K-Kak Keenan jangan seperti ini. Aku tidak mau Kak Keenan." Thalia berusaha untuk mendorong dada Kakak tirinya. Namun sia - sia karena Keenan mengunci tubuh Thalia, hingga membuat tubuh Thalia tidak bisa bergerak.


"Malam ini aku ingin membuktikannya. We just having *** not make love." desis Keenan tajam.


Wajah Thalia menegang. Dia ingin memberontak namun Keenan mengunci tubuhnya. Dia kembali berusaha untuk mendorong tubuh Kakak tirinya tapi Keenan semakin mengunci tubuhnya.


"Ka- Keenan, jangan." ucap Thalia. Kini air matanya mulai membasahi pipinya.


Dan tanpa mempedulikan ucapan dari Thalia. Keenan langsung melepaskan seluruh pakaian dalam milik Thalia dan kini, Thalia sudah tidak memakai sehelai benangpun.


"K-Kak Keenan, hentikan." ucap Thalia dengan suara lemah dan air matanya terus membasahi pipinya.


"Bahkan kau sudah memberikan harga dirimu padaku, Thalia. Kau masih ingin mencari laki - laki lain?" ucap Keenan dan menatapnya menyeringai. "Ingat Thalia, di dunia ini tidak ada laki - laki berpendidikan seperti Mario, mau dengan gadis polos, lugu tapi sudah tidak perawan sepertimu..."


PLAAKK


Tamparan keras itu mendarat mulus di pipi Keenan saat ini. Dan napasnya naik turun saat ini.


Air matanya meleleh dan mengalir membasahi pipinya. Tangannya terasa panas dan gemetar saat ini, Thalia selalu menahan untuk menahan menampar Kakak tirinya itu. Tapi kini di temani isak tangis dan sakit hatinya. Thalia akhirnya benar - benar menamparnya.


"Bahkan kau sudah mengambil kesucianku, Kak. Hiks..." ucap Thalia.


Keenan mengusap pipinya yang panas karena tamparan dari Thalia tadi. Dan kini, Keenan berdehem dan menatap Thalia lekat - lekat.


"Kau itu di ciptakan hanya untuk menjadi milikku, Thalia. Ada saatnya nanti kau akan menangisi aku atau kau akan memohon untuk di cintai olehku, Thalia."


Saat Keenan bangkit, Thalia berusaha untuk lari. Namun, Keenan menarik Thalia dan membanting Thalia ke ranjang. Keenan tidak memperdulikan rintihan dan air mata dari Thalia. Kini dirinya hanya penuh dengan kemarahan.


"Jangan, Kak Keenan. Sudah cukup!"


Sentuhan Keenan begitu kasar, Thalia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Keenan menghentakkan miliknya begitu dalam. Menambah temponya dengan cepat, Thalia terus menjerit dan menangis. Namun Keenan sama sekali tidak mendengarkannya. Dan Keenan terus menghentakkan miliknya.


Thalia sudah tidak lagi menangis, perlahan Thalia membiarkan Keenan melakukannya dengan kasar. Hingga akhirnya Keenan mendapatkan pelepasan. Tubuh Thalia lemah bahkan dirinya terlihat begitu pucat.


Keenan bangkit berdiri memakai kembali bajunya. Tanpa memperdulikan keadaan Thalia, Keenan berjalan meninggalkan kamar. Ia harus segera meninggalkan kamar sebelum dirinya semakin menyakiti Thalia.


Melihat Keenan sudah pergi, Thalia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Thalia terisak pelan, melihat perbuatan Kakak tirinya itu. Dan Thalia tahu, jika Kakak tirinya itu sangat marah padanya. Tapi dia tidak menyangka jika Kakak tirinya akan berbuat seperti ini lagi padanya.


Tubuh Thalia terasa remuk, Thalia bahkan tidak mampu beranjak dari ranjang karena hatinya begitu sakit dengan perbuatan Kakak tirinya itu. Perlahan Thalia berusaha untuk memejamkan matanya, dan berusaha untuk melupakan tindakan kasar Keenan padanya.


***


Tidak lama kemudian, setelah Thalia sudah selesai berendam dan sudah mengganti pakaiannya. Dia pun memutuskan untuk pulang kembali kerumahnya dan mengganti seragam sekolahnya dan langsung berangkat ke sekolah. Dan beruntung, sepertinya Kakak tirinya itu sedang tidak ada di rumah jadi Thalia pun bisa segera pergi dari rumah Kakak tirinya itu.


Beberapa jam kemudian, Thalia kini sudah berada di sekolah. Meski pikiran dan hatinya terus merasakan sakit akibat perkataan kasar dari Kakak tirinya itu. Thalia tetap berangkat ke sekolah karena hari ujian sekolahnya semakin dekat.


"Kau sakit, Thalia? Kenapa cara jalanmu aneh banget hari ini?" tanya Siska penasaran.


Thalia sedikit tersentak mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu. Dia langsung memasang senyum di wajahnya dan berujar. "Ahh, aku tak apa. Tadi pagi memang ada sedikit insiden di kamar mandi, tapi tak ada yang perlu di khawatirkan."


"Oh, seperti itu. Aku pikir kau habis di unboxing oleh Kakak tirimu." ucap Siska dengan santainya dan langsung membuat Thalia berkeringat dingin.


"Tidak kok, kau ini ada - ada saja ya." sahut Thalia dengan tawa yang terdengar di paksakan. "Hmm, Siska. Nanti malam aku menginap di rumahmu ya?" lanjut Thalia sontak membuat Siska terkejut.


"Kau serius mau menginap di rumahku? Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka mengizinkanmu menginap?" tanya Siska memastikan.


"Nanti aku akan mengirimkan pesan ke Bundaku. Karena Bundaku sedang menemani Papa untuk melakukan perjalanan bisnis, jadi di rumah aku sendirian, Sis."


"Ah, seperti itu. Tapi bagaimana dengan Kakakmu, apakah dia akan mengizinkan mu?" tanya Siska lagi.Pasalnya, dia tidak ingin mencari masalah dengan Keenan.


"Dia tidak memiliki hak apapun atas hidupku. Dia juga harus tahu batasannya." tukas Thalia dan kembali mengingat perbuatan kasar Kakak tirinya.


Siska menghela nafas dalam. "Kau yakin akan tetap menginap? Bagaimana kalau Kak Keenan marah padamu?"


"Aku tidak ingin pulang. Apalagi aku tidak ingin melihat wajah Kak Keenan. Aku masih sakit mengingat perkataanya yang begitu menyakitkan ku. Lebih baik aku menghindar, toh di rumah aku juga akan sendirian lebih baik aku bersamamu." ujar Thalia dengan nada penuh penekanan.


Siska menatap Thalia, terlihat dari wajah sahabatnya yang tampak begitu lebih muram. "Kau kenapa Thalia? Apa kau sedang ada masalah dengan Kakak tirimu lagi? Aku yakin, kau pasti ada masalah dengan Kakak tirimu kan?"


"Aku bertengkar dengan Kak Keenan kemarin." balas Thalia.


"Baiklah, jika itu mau mu. Kau bisa menginap di rumahku. Rumahku pasti terbuka untukmu." balas Siska.


"Ya sudah, lebih baik sekarang, kita masuk kedalam kelas." kata Thalia dan Siska mengangguk setuju.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.