Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Keenan Brengsek



Thalia menghela nafasnya. "Itu terdengar sangat aneh? Apalagi Kakakku sendiri yang mengatakannya."


"Kenapa aneh? Bukankah setiap orang akan sangat suka jika di panggil dengan kata sayang? Termasuk Kakakmu ini yang sangat suka memanggil dirimu dengan sebutan sayang."


"Aku rasa, aku bukan salah satu dari mereka, Kak." jawab Thalia cepat.


"Thalia, mulai sekarang kamu itu harus terbiasa jika aku memanggilmu dengan sebutan sayang.Yah, meskipun sekarang kamu masih belum terbiasa di panggil seperti itu oleh seorang laki-laki."


Mendengar ucapan dari Keenan, rasanya Thalia ingin segera pergi dari ruang makan tersebut Thalia tidak tahan melihat kegilaan yang di buat oleh Kakak tirinya. Kemudian dia membawa piring - piring kotor itu ke arah wastafel.


"Harus bersih ya cuci piringnya. Dan ingat, bersihkan juga meja makannya." ucap Keenan kemudian beranjak pergi dari ruangan makan tersebut.


***


Malam semakin larut dan Thalia telah menyelesaikan cuci piringnya. Dan Thalia juga sudah menyelesaikan tugas sekolahnya dan sekarang Thalia bergegas pergi menuju ke arah kamar mandi. Tidak lupa juga dia juga sudah mengunci pintu kamarnya, karena tidak ingin jika Kakak tirinya itu akan masuk lagi kedalam kamarnya.


Namun, saat Thalia keluar dari kamar mandi. Dia langsung di kejutan dengan kedatangan Kakak tirinya itu yang sudah duduk di sofa kamarnya sambil tersenyum saat melihat ke arahnya.


"Apa yang sedang Kak Keenan lakukan di kamarku? Bagaimana Kak Keenan bisa masuk kedalam kamarku. Aku minta Kak Keenan keluar, Kak?" Teriak Thalia dengan nada suaranya yang cukup tinggi.


"Tenanglah, sayang. Nggak usah teriak - teriak seperti itu."


"Sekarang aku benar-benar membenci semua yang ada pada Kakak." ucap Thalia dengan ketus.


"Iya, Kakak mengerti. Tapi jangan salahkan jika takdir berpihak kepada Kakak dan kamu akan menyesali bahwa kamu pernah membenci calon suamimu sendiri."


"Apa? Suami? Jangan terlalu kebanyakan mimpi! Hanya orang gila yang ingin menikahi adiknya sendiri. Dan orang gila itu adalah Kak Keenan."


"Siapa yang kamu bilang orang gila?!" Tanya Keenan dengan amarahnya.


"Bukankah sudah jelas, jika orang gila itu adalah Kak Keenan."


Brak!


Keenan langsung menggebrak meja dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mengarah ke arah Thalia.


Keenan menyeringai sambil menahan pergelangan tangan Thalia. "Oke, kalau begitu biar Kakak yang menjelaskan arti gila yang sesungguhnya. Ayo, kemarilah."


"Lepaskan aku, Kak!"


Keenan pun langsung membungkam mulut Thalia dengan cara menciumnya.


"Hmmmmpttt." Thalia terus meronta di dalam dekapan tubuh Keenan, namun rontaan itu malahan membuat Keenan semakin buas mencium bibir Thalia.


"Kak Keenan benar - benar kurang ajar!!"


Plak.


Tanpa ragu Thalia mendaratkan tamparan yang cukup keras di pipi Kakak tirinya itu begitu ciuman mereka terlepas.


"Ah, ternyata kamu sudah berani menampar Kakak ya." ucap Keenan "Jangan kamu pikir setelah menampar Kakak, kamu akan bisa lolos dengan mudah. Tentunya tidak sama sekali." desis Keenan, lalu merobek paksa baju tidur yang di kenakan oleh Thalia. Dan Thalia pun tidak bisa melawan lagi. Ya, yang bisa di lakukan Thalia hanya menangis sekeras-kerasnya. Apalagi saat Keenan mendorong tubuh Thalia hingga berbaring di ranjang dan kini tubuh Keenan langsung menindih tubuh Thalia, hingga Thalia kesulitan untuk bergerak untuk menyelamatkan dirinya dari kebuasan Kakak tirinya itu.


"Tolong, jangan lakukan ini, Kak. Aku ini adikmu." pinta Thalia dengan Isak tangisnya.


"Memangnya kenapa jika kamu adalah adikku. Di luar sana banyak kok, jika Kakak adik menikah dan hidup mereka juga bahagia. Apa salahnya jika kita coba menjalin hubungan seperti pasangan kekasih."


"Kak Keenan makin gila ya! Kalau Kak Keenan berani macam-macam aku bakalan aduin sikap kurang ajar ini ke Papah."


"Kalau kamu berani aduin aja. Tapi ingat, sekalinya kamu berani mengadu ke Bunda ataupun Papa. Jangan salahkan aku, kalau aku sampai berbuat lebih buruk lagi dari ini."


"Maksud Kak Keenan apa? Kak Keenan jangan berani macam-macam sama aku ya? Lebih baik kak Keenan itu cari perempuan lain yang cantik di luaran sana kan banyak. Mereka juga jauh lebih baik daripada aku, karena mereka gak ada ikatan apapun sama Kakak. Sedangkan aku adalah adik Kakak."


"Diam Thalia!" Bentak Keenan sambil membungkam mulut Thalia dengan tangannya hingga suara teriakan dari Thalia tertahan. "Kamu itu sudah di takdirkan untuk Kakak! Dan tidak ada yang bisa memilki kamu selain Kakak! Camkanlah itu!" Ucap Keenan dengan amarahnya "Dan hentikanlah tangisanmu itu!" Lanjutnya memberikan perintah pada Thalia.


Keenan kemudian mencengkram kuat kedua tangan Thalia dan mengangkatnya tinggi setelah melepaskan bungkaman tangan di mulut Thalia.


"Kakak! Apa yang sudah kau lakukan padaku. Aku mohon, jangan rusak masa depanku. Aku masih sekolah, aku masih ingin kuliah dan aku juga ingin bekerja. Sadarlah, Kak. Kita itu adalah saudara. Kita tidak akan pernah bisa bersatu. Tolong sadarlah, Kak. Aku ini adalah adikmu. Kak Keenan ini gak mungkin serius untuk menikahi adikmu sendiri, bukan?"


"Aku gak janji. Tapi, kalau kamu mau menurut padaku, mungkin aku tidak akan merusak kehormatanmu. Tetapi, jika kamu melanggar peraturan yang aku buat, maka jangan pernah salahkan aku, jika aku akan menghancurkan masa depanmu." ucap Keenan sambil menciumi leher Thalia.


"Lepaskan aku! Lepaskan brengsek! Ini gak bener, Kak. Setan apa yang sudah merasuki memori otakmu!"


"Diamlah, Thalia! Atau ku patahkan lehermu! Aku tidak pernah main - main, Thalia!"


"Kak Keenan memang benar - benar sudah gila! Tidak ada seorang Kakak yang tega melakukan hal seperti ini kepada adiknya sendiri. Bersikaplah yang bijaksana, jangan seperti bajingan seperti ini?" maki Thalia dengan penuh emosi.


"Terserah saja kau mau bilang apa Thalia. Aku itu tidak akan pernah mendengarkan mu. Karena aku ingin mengajakmu bermain cantik denganku. Jika kamu bersedia menjadi kekasihku, maka aku akan menjaga kehormatanmu. Tapi jika kau berani melawanku, maka jangan pernah salahkan aku, jika aku berbuat hal kurang ajar itu padamu."


"Dasar sinting! Kau itu memang bedebah! Lelaki brengsek. Apa matamu itu sudah buta. Sehingga kamu belum sadar juga jika aku adalah adikmu sendiri!"


"Ah, kalau di cium rasanya manis, tapi kalau sudah bicara rasanya pedas dan yang lebih sialnya Kakak malah menyukainya." komentar Keenan saat mendengar umpatan kasar dari Thalia.


"Lebih baik Kak Keenan benar - benar pergi dari sini, sebelum aku benar-benar membenci Kakak!"


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.