Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Mengajak Ke Pesta



"Thalia, malam ini kamu harus temani Kakak ya?" ucap Keenan sambil mengendarai mobilnya.


Ya, sesuai janjinya tadi pagi. Akhirnya Thalia kembali pulang di jemput oleh Kakak tirinya itu.


"Memangnya mau kemana, Kak?" tanya Thalia ingin tahu.


"Enggak jauh kok. Cuma pergi ke tempat rekan kerja Kakak," jawab Keenan.


"Tapi aku lagi sibuk, Kak. Bisakah Kak Keenan berangkat ke pesta sendiri?"


Dan ya, kali ini pun Thalia langsung menolak ketika Keenan mengajaknya. Alasannya karena dia takut jika nantinya Kakak tirinya itu akan menodai kehormatannya lagi. Karena selama ini Kakak tirinya itu tidak pernah menunjukkan sikap baik padanya dan tentu saja itu membuat Thalia sebenarnya merasa trauma jika berdekatan dengannya.


"Kau mau menolakku?" ucap Keenan yang kini mulai tampak kesal.


"Enggak, aku tidak sedang menolak Kakak. Tapi aku sekarang sedang benar - benar sibuk mempersiapkan untuk ujian. Tapi, kalau Kak Keenan mau, nanti aku akan minta Siska buat temenin Kak Keenan ke pesta bagaimana? Dan Siska pasti mau kalau di ajak sama Kakak. Sama aja kan?"


"Apanya yang sama.Jelas - jelas berbeda lah. Aku sama dia gak ada kecocokan. Tapi kalau sama kamu..."


Keenan mengerlingkan bola matanya menggoda Thalia dan itu membuat Thalia bergidik ngeri.


"Udahlah, Kak Keenan. Mendingan Kak Keenan cari perempuan lain aja deh. Aku beneran lagi sibuk dan gak bisa temenin Kakak, okey."


"Hmm, baiklah. Kalau kamu nggak mau nemenin Kakak aku bakalan nyari perempuan lain sesuai saran dari kamu. Tapi malam nanti setelah Kakak pulang dari pesta, kamu jangan kunci pintu balkon ya?"


"Kenapa gitu?"


"Karena malam nanti Kakak pengin menemani kamu. Sekarang lagi musim dingin, kamu pasti butuh selimut tebal. Aku rasa, hanya akulah yang bisa menghangatkan mu, sayang." jawab Keenan.


Seketika bola mata Thalia melotot kesal, akan ucapan dari kakak tirinya itu.


"Tutup mulutmu Kak! Kakak itu sudah sangat keterlaluan ya? Selama ini aku udah diem. Aku udah gak ngadu kelakuan bejat Kak Keenan ke Papa dan Bunda. Tapi kali ini, aku tidak bisa tinggal diam saja. Kakak sudah terlalu banyak mengancam aku dan Kakak juga sudah menghancurkan kehormatan dan masa depanku. Kalau Kak Keenan melakukan tindakan hal kurang ajar lagi padaku, lihat saja, aku akan mengakhiri hidupku sendiri di depan Kakak."


"Apa sekarang kau sedang mengancam Kakak mu, Thalia?"


"Tidak! Kali ini aku tidak mengancam. Aku serius, Kak." jawab Thalia tegas.


"Terserah. Kau boleh melakukan apapun sesuai keinginanmu. Silahkan saja kalau kamu ingin mengakhiri hidupmu. Ayo lakukan saja." ucap Keenan kali ini menepikan mobilnya di pinggir jalan.


Ya, Thalia sangat kesal dengan perilaku Kakak tirinya yang memang tidak pantas padanya. Entah apa yang ada di otak Kakaknya. Tapi yang jelas, Keenan bukanlah orang yang baik. Buktinya saja ia mengejar - ngejarnya, namun tidak peduli pada keluarganya yang lain.


"Kak Keenan. Bisa gak sih kalau gak gangguin aku. Aku ingin fokus belajar. Jadi Kak Keenan gak usah gangguin aku, Kak." tegas Thalia.


"Tidak. Aku akan gangguin kamu terus, jika kamu gak mau ikut bersama denganku." ucap Keenan.


"Tapi..."


"Nggak ada kata tapi, Thalia. Pokoknya nanti malam kamu harus temani Kakak ke pesta." ucap Keenan yang kini mengambil paper bag di belakang kursi pengemudi dan melemparkan paper bag ke arah Thalia.


"Apa? Gaun? Kenapa Kak Keenan bisa segini niatnya mau ajakin aku ke acara pesta temannya itu. Bagaimana kalau sampai Papa dan Bunda mengetahuinya. Ini bakalan menjadi malam petaka untuk hidupku." ucap Thalia di dalam hati.


"Kenapa kamu hanya diam saja, Thalia. Apa kamu tidak suka dengan gaun yang sudah Kakak berikan itu? Dan kamu ingat, nanti malam kamu harus temani Kakak dan pakai gaun itu? Tapi kalau mau, biar Kakak yang memakaikan gaun itu padamu, bagaimana?" ucap Keenan sambil tersenyum penuh arti.


"Ah, enggak! Biar aku yang pakai bajuku sendiri aja. Nanti, kalau aku pakai gaun yang kurang bahan begini, aku akan terlihat seperti perempuan dewasa." jawab Thalia.


"Jangan pernah membantahku, Thalia! Nanti malam kamu itu jangan sampai lupa untuk memakainya. Kalau kamu tidak mau, kamu tau kan, kalau Kakak masih punya pistol. Dan Kakak harap kamu tidak lupa hal itu, sayang?" peringat Keenan sambil menarik tangan Thalia dengan kasar agar sedikit mendekat ke arahnya.


"Argghh! Kak Keenan mau apa?! Lepaskan aku, Kak!" Ucap Thalia terkejut.


"Dengar! Aku itu paling tidak suka jika ada orang yang tidak mau menurut sama perintahku. Apa kau pikir ancaman ku itu main - main. Kakak bahkan bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini, Thalia. Dan buktinya kau sudah liat sendiri saat melihat laki - laki sialan itu akhirnya kakinya patah."


"Iya, baiklah - baiklah. Aku akan langsung memakainya nanti. Tapi kumohon, jangan sakiti Axel lagi." jawab Thalia.


"Dasar perempuan menjengkelkan. Oke, untuk sementara Kakak akan berbaik hati dan tidak menganggu laki - laki sialan itu dulu. Tapi kamu harus janji padaku, jangan coba kabur dariku." ucapnya memperingatkan Thalia.


"CK! Mana mungkin juga aku bisa kabur dari mobil Kakak. Ya udah, cepat jalankan mobilnya lagi. Dasar menyebalkan sekali." ucap Thalia kini langsung mendorong Kakak tirinya agar menjauh darinya.


Dan ya, Thalia terpaksa menerima keinginan Kakaknya itu untuk pergi ke pesta.


"Bagus. Kalau kamu dari tadi nurut sama Kakak kan enak gak perlu berdebat seperti tadi."


****


Malam harinya..


"Duh, ini kan pakaian dewasa. Dan aku tidak pantas memakai pakaian seperti ini. Aku heran deh sama Kak Keenan. Kenapa dia memperlakukan aku seperti ini? Awas aja kalau aku udah lulus sekolah. Aku akan pergi dari rumah ini. Dan aku akan bilang sama Papa dan Bunda, untuk kuliah di luar kota dan mencari kebahagiaanku sendiri. Mana mungkin aku bisa berdampingan dengan Kakakku sendiri. Itu mustahil dan tentunya sangat menjijikkan." gerutunya sambil memakai gaun pemberian dari Kakak tirinya itu.


Setelah mengganti pakaiannya ia pun berdandan untuk menyeimbangkan antara make up dan pakaiannya. Terlihat sangat dewasa, namun terkesan elegan.


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.