
"Aku akan mencobanya." ujar Thalia mendongakkan wajahnya menatap ke arah Angga.
Terlihat salah satu tangan Angga, langsung membuka laci yang paling atas dari nakas itu. Ia kemudian mengambil test pack yang masih berada di dalam kemasannya dan langsung menyerahkannya ke arah Thalia.
"Apa kau tahu cara pakainya?" tanya Angga yang di jawab gelengan kepala dari Thalia.
"Kau hanya perlu menampung air senimu dalam wadah ini. Kemudian kamu masukkan test pack ini kedalam wadah yang berisi air senimu. Tunggu, sekitar 5 - 10 menit, baru kau bisa melihat hasilnya. Apa kau paham?" tanya Angga kembali.
"Aku paham." lirih Thalia.
Dengan tangan yang bergetar, Thalia menerima alat tersebut. Dan dengan perlahan ia bangkit dari tempat tidur, dan melangkah menuju ke arah kamar mandi.
Dan sesuai instruksi dari Angga, Thalia langsung menampung air seninya dalam wadah, dan memasukkan test pack itu kedalamnya.
Menit demi menit telah berlalu. Setelah merasa menunggu lebih dari lima menit, Thalia dengan perlahan mengambil test pack itu. Ia kemudian membalikkannya untuk melihat hasilnya dan ternyata. "Apa? Du- Dua garis.Ini tidak mungkin!" Gumam Thalia yang langsung di iringi oleh suara jeritan dan tangis darinya.
"Tidak. Aku tidak mungkin hamil!" ucap Thalia dengan nada yang meninggi. Ya, Thalia berusaha untuk menyangkalnya. Ia benar - benar tidak bisa menerima kenyataan jika ia sedang mengandung.
Mendengar suara teriakan Thalia di dalam kamar mandi Angga pun langsung berlari dan mengetuk pintu kamar mandi dengan panik.
"Thalia, Thalia. Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?"
Tidak lama setelah itu, pintu kamar mandi pun terbuka dan menampilkan wajah Thalia terlihat sedang frustasi dan terisak. "Angga, Angga! Hasil test ini pasti salahkan? A-Aku tidak mungkin hamil, kan? Tolong kamu periksa lagi. Hiks."
Deg. Angga yang mendengar ucapan dari Thalia pun begitu terkejut dan terdiam sejenak. Namun tak lama setelah itu Angga langsung menarik tangan dan memeluk Thalia.
"Sudah Thalia. Tidak apa-apa." ucapnya sambil memeluk dan mengelus rambut Thalia dengan lembut dan berusaha untuk menenangkannya.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau mengandung anak ini!" Ujar Thalia memberontak dan melampiaskan segala amarahnya dengan memukul dada Angga berulang kali.
Ya, Thalia begitu kecewa dan marah dengan apa yang terjadi. Kabar kehamilannya benar - benar merupakan pukulan berat buatnya. Padahal ia baru saja terbebas dari Kakak tirinya itu. Dan sekarang ia tengah mengandung anak Keenan?
"Thalia..." ucap Angga sambil meraih tangan Thalia, namun Thalia segera menariknya. "Aku tahu, kamu pasti terkejut. Tapi kamu nggak boleh seperti ini." ujar Angga.
"Aku tidak menginginkannya, Angga. Aku tidak menginginkan anak ini!" Sergah Thalia, yang kini mulai memukul - mukul perutnya.
"Thalia... Thalia!" Ujar Angga menarik tangan Thalia dari perutnya dan memeluknya kembali.
"Ingat Thalia. Anak itu tidak berdosa. Jangan kau sakiti dia." ujar Angga tidak melepaskan pelukannya. Ia tidak ingin jika Thalia menyakiti anak dalam kandungannya ataupun menyakiti dirinya sendiri.
"Kenapa seperti ini Angga? Kenapa aku harus mengandung anak Kak Keenan?" ucap Thalia sambil menangis.
"Aku ingin bebas, Angga! Aku tidak ingin bersama dengan Kak Keenan lagi! Kenapa sekarang ada anak Kak Keenan di dalam perutku? Kenapa?" tanya Thalia berurai air mata.
Angga melepaskan pelukannya dan menangkup wajah sedihnya Thalia.
"Thalia dengarkan aku. Sekarang kau sudah berhasil kabur dari Keenan. Dan sekarang kau sudah aman bersama denganku." ujar Angga sambil menatap manik mata Thalia tanpa berkedip dan begitu juga Thalia.
"Siapapun Ayahnya. Kau adalah ibunya. Dan anak ini, adalah bagian dari kamu, Thalia. Dia mengandalkan kamu. Jangan sakiti dia." ujar Angga seperti menghipnotis Thalia yang memandangnya tak berkedip.
"Dan aku janji Thalia, akan selalu menemani kamu untuk melewati semua ini. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri." ucap Angga, memeluk Thalia kembali dan mengusap lembut rambutnya.
***
"Aku menjijikan, aku Lebih baik mati saja daripada harus menjalani hidup seperti ini." teriak Thalia dalam pelukan Angga.
Thalia benar - benar merasa jijik dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia mengandung bayi Keenan.
Walaupun Keenan hanya sekedar Kakak tirinya. Tapi tetap saja tidak mengubah fakta jika mereka adalah saudara.
"Jangan berkata seperti itu, masih banyak sekali orang yang sayang padamu." ucap Angga yang tidak henti - hentinya terus mengusap lembut punggung Thalia.
Air mata Thalia terus berderai. Ia terus memikirkan bagaimana nanti kedepannya. Ia bingung bagaimana pandangan orang-orang nanti kepadanya. Dan raut wajah kecewa dari kedua orang tuanya yang terus berputar-putar di pikirannya, membuatnya semakin mengeraskan isakan tangisnya.
Thalia benar - benar ingin menghantamkan kepalanya di tembok hingga hancur sekarang. Entah kenapa otaknya kini berhenti untuk berpikir positif. Hanya, bayang - bayangan buruk yang terlintas di kepalanya saat ini.
"Aku benar - benar anak yang tidak berguna." gumam Thalia sambil mencengkram dengan kuat kaos yang tengah di pakai Angga.
Hati Angga terasa begitu sakit, melihat wanita yang ada di pelukannya menangis. Ia pun tidak tahu mengapa, padahal sebelumnya ia adalah seseorang yang sangat cuek dengan orang - orang di sekitarnya.
Tapi begitu bertemu dengan Thalia, rasa melindungi yang kuat tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Seakan melindungi dan membahagiakan Thalia adalah tugas yang harus ia laksanakan.
"Aku yakin, kedua orang tuamu pasti akan paham dengan kondisimu saat ini. Terlebih, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan mu, Keenan juga ikut andil dalam masalah ini."
Mendengar nama Keenan di sebut oleh Angga. Thalia langsung menghentikan tangisannya. Ia kemudian memandangi wajah Angga, sembari menarik - narik baju Angga.
"Angga, tolong jangan biarkan Kak Keenan tahu tentang masalah ini. Jika sampai dia tahu aku sedang mengandung anaknya, aku yakin dia akan menikahi ku secara paksa. Aku mohon, aku tidak mau dosaku semakin bertambah besar." ucap Thalia dengan suara yang serak.
"Baiklah. Aku tidak akan memberitahunya. Tapi dengan syarat. Sekarang kau beristirahatlah. Tubuhmu pasti sudah sangat lelah seharian ini." tutur Angga sambil menidurkan Thalia perlahan di tempat tidurnya.
Angga langsung menyelimuti Thalia. Ia kemudian mengelus pelan kepala Thalia serta mengecup dahi Thalia dan ia pun berniat melangkah pergi dari kamar itu, sebelum sebuah tangan menghentikannya.
"Jangan tinggalkan aku sendiri di sini. Aku mohon." pinta Thalia.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Tidurlah, aku akan berbaring di sebelahmu sampai kau bangun nanti," tutur Angga yang mulai membaringkan dirinya seraya membawa kembali Thalia kedalam pelukannya.
"Selamat malam, mimpi indah." gumam Angga saat melihat Thalia mulai memejamkan matanya.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....