Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Bercinta Untuk Yang Terakhir Kalinya



"Thalia, apa kamu tahu kalau Kakak itu sangat merindukanmu? Bahkan setiap malam Kakak selalu memimpikan mu. Kakak sangat berharap kalau kita akan dapat bersatu menjadi sepasang suami istri." lirih Keenan dengan mata berkaca-kaca. Ia menggenggam jari jemari Thalia yang tengah bergetar, Ya, Thalia kini begitu takut saat bertemu dengan Kakak tirinya lagi.


"Kak Keenan, tidak ada kekurangan apapun di dalam diri Kakak. Kak Keenan bahkan begitu sempurna. Tapi maaf, aku masih belum bisa menerima perasaan cintamu. Aku harap, Kak Keenan tidak usah terobsesi denganku lagi dan buang jauh - jauh rasa cinta Kakak kepadaku. Carilah wanita lain, dan temukanlah kebahagiaanmu, Kak." ucap Thalia dengan air mata yang kini mulai menetes.


"Sayang sekali. Tapi bahagiaku ada padamu, Thalia. Aku tidak mungkin bisa mencari wanita lain kalau itu bukan kamu." ucap Keenan dengan tatapan penuh dengan kesedihan.


"Kak Keenan, aku mohon mengertilah. Cinta itu tidak bisa di paksakan! Aku pamit pulang dulu, Kak" Ucap Thalia penuh dengan penekanan dan hendak pergi, namun Kakak tirinya itu menarik tangan Thalia dan membawa Thalia kedalam pelukannya.


"Aku mohon, jangan pergi, Thalia. Untuk sekarang ini biarkan seperti ini.Aku hampir gila selama dua minggu tidak melihatmu. Dan aku tidak bisa jauh darimu lagi, Thalia." ucap Keenan dengan penuh permohonan.


"Kak Keenan lepaskan aku!" Sentak Thalia. Dia tidak ingin jika Kakaknya menyentuhnya.


"I beg you. Hanya untuk hari ini. Aku tidak mampu lagi, Thalia. Aku tidak sanggup lagi jika harus jauh - jauh darimu. Kau benar-benar membunuhku secara perlahan, Thalia. Berada jauh darimu membuatku gila, Thalia." suara Keenan terdengar begitu lemah. Tatapannya menatap Thalia penuh permohonan.


Dan Keenan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tidak akan pernah bosan mengatakan padamu, jika aku sangat mencintaimu, Thalia. Aku tidak mampu berada jauh darimu."


Thalia terdiam sesaat. "Tidak bisa. Aku tidak bisa di paksa semuanya terlalu menyakitkan. Hatiku terlalu terluka, aku tidak mungkin melupakan semuanya, Kak Keenan. Aku terlalu sakit jika mengingat semuanya. Kau tidak berada di posisiku, tapi kau bisa membayangkan ketika berada di posisiku bagaimana bisa kau menerima semuanya." ucapnya dengan suara yang bergetar. Thalia berusaha keras untuk tidak lagi meneteskan air mata namun sia - sia, karena air matanya terus menetes membasahi pipinya. "Lepas Kak Keenan, aku mau pulang!" Lanjut Thalia mendorong kuat tubuh Kakaknya.


"Pulang katamu? Aku tidak akan pernah mengizinkanmu pulang, tapi puaskan aku dulu!" Ancam Keenan tiba-tiba sambil menatap Thalia dengan tatapan yang tajamnya.


"P- Puaskan aku katamu?"


Thalia menatap ke arah Keenan yang sedang marah di hadapannya.


Kata - kata 'puaskan' benar - benar sangat membuat Thalia sangat sulit bernafas.


Thalia merasakan tubuhnya yang bergetar saat ini, menatap ke arah Kakak tirinya yang kini sedang menatapnya tajam. Dan Keenan langsung menarik tangan Thalia agar lebih dekat dengannya.


"Kak Keenan, Hiks.. Kenapa kau sangat jahat! Kau itu bukan manusia! Aku tidak akan pernah mencintai laki - laki sepertimu, tidak akan, hiks..."


Keenan tidak menjawab, ia melepaskan tas yang Thalia bawa dan menjatuhkannya di lantai. Keenan memeluk Thalia kembali.


"Kak Keenan, lepaskan aku. Jangan seperti ini." Thalia berusaha melepaskan pelukan Keenan.


Keenan menggeram, dia sudah kehilangan kesabarannya. Tanpa menunggu lama dia langsung membopong tubuh Thalia di pundaknya. Thalia memekik terkejut, karena Kakak tirinya itu membopong dirinya seperti karung beras.


"Kak Keenan! Turunkan aku! Kau sudah kehilangan akal sehatmu! Turunkan aku!" Teriak Thalia kencang. Dia memukul punggung Keenan, namun tetap saja Kakak tirinya itu tidak memperdulikan ucapan Thalia.


"Aku sudah mengatakan padamu bukan? Jika aku tidak mengizinkanmu untuk pulang!" Geram Keenan berusaha untuk menahan emosinya. Dan menurunkan Thalia di ranjang kamarnya.


"Tidak peduli kau mengizinkanku atau tidak! Ini hidupku! Aku memilki kebebasan untuk mengatur hidupku!" Sentak Thalia, dia sudah kehilangan kesabarannya bersama dengan Kakak tirinya itu.


Gelengan kepala yang Thalia berikan pada Keenan. "Aku tidak akan menikah dengan siapapun, hiks. Aku tidak mau membuat orang lain kecewa saat menikah denganku dan, dan aku tidak mau menikah dengan laki - laki yang kasar sepertimu, Kak. Aku tidak mau." Isak Thalia menggelengkan kepalanya kuat.


Keenan terkekeh kemudian menarik seragam pakaian Thalia dengan satu tangannya dan tangan kirinya mencengkram kuat kedua tangan Thalia.


"Sebenarnya aku tidak ingin berbuat kasar, jika kau mau menurut padaku, tadi. Berulang kali sudah ku katakan bukan, jika aku tidak pernah menerima kata penolakan, sayang. Tapi sekalinya kau menolakku, aku mempertimbangkan banyak hal untukmu dan kau masih tidak mau juga," bisik Keenan menatap manik mata Thalia saat ini.


"Aku lebih baik mati, Kak Keenan. Bunuh aku sekarang juga, dari pada kau terus menerus meniduri ku! Padahal kau sudah tahu jawabannya bahwa aku tidak akan pernah mau denganmu!" Jerit Thalia kuat.


Keenan mana mungkin memberi ampun, ia menggenggam erat kedua tangan Thalia dan mendekatkan wajahnya pada wajah Thalia.


"Aku tidak yakin ini akan menjadi yang terakhir kalinya untuk kita. Tapi jika kau benar-benar tidak ingin menikah denganku, Thalia. Baiklah, jangan salahkan aku, kalau aku tidak akan mau tau apapun yang terjadi padamu di masa depan."


Thalia menatap Keenan takut, ia mencengkram erat tangan Keenan saat laki - laki itu mengecup bibirnya dengan kasar.


Thalia memejamkan matanya erat, hatinya menjerit untuk tidak menangis saat ini. Dan ia harus rela kalaupun ini untuk terakhir kalinya Kakak tirinya itu menghancurkan dirinya lagi.


Isakan Thalia terdengar begitu kuat, ia menggigit bibir bawahnya dan menangis kuat tidak bisa tertahan.


"Ini yang terakhir kalinya, Thalia. Sekali lagi kau harus merelakan segalanya. Setelah ini kau akan terbebas dan kau bisa pergi yang jauh dari Keenan." ucap Thalia di dalam hati.


Thalia tak berdaya di bawah kuasa Kakak tirinya itu yang tengah menggila. Dan dengan penuh amarah Kakaknya itu menyatukan tubuhnya dengan tubuh Thalia yang terkulai lemah akibat melakukan perlawanan yang tidak ada artinya.


Thalia terpekik, ketika sesuatu tengah membelah dirinya.Rasa sakit seketika menghujam seluruh tubuh, Thalia. Sungguh, ia merasa jijik dan ingin membunuh Kakak tirinya yang kini sedang mengungkung dirinya. Bahkan kini dirinya ingin mati saja, dari pada selalu di rendahkan dan di hinakan terus - menerus seperti ini. Kehormatan sudah di renggut dan di rusak begitu kejam oleh Kakak tirinya sendiri.


Thalia melemah pasrah, ia terus menerus terisak merasakan dirinya benar-benar begitu hancur. Bahkan dirinya sangat jijik saat melihat Kakak tirinya itu menyeringai mengejek dirinya yang begitu lemah dan tidak mampu melawan.Ia begitu muak ketika Kakak tirinya itu melenguh dan mendapatkan kepuasan sendiri. Bahkan dengan lancangnya Kakak tirinya selalu menaburkan benih kotornya di rahim Thalia.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.