Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Melihat Kebun



"Hentikan omong kosong mu itu! Aku benar-benar lelah saat ini!" Pinta Thalia yang masih terisak.


Merasa perkataannya di abaikan oleh Thalia. Angga kemudian meraih tengkuk Thalia dan langsung menempelkan bibirnya dengan bibir Thalia. Ia terus mengaitkan bibir itu, walaupun Thalia terus memberontak untuk melepaskan tautan bibir mereka.


Begitu Thalia sudah mulai kehabisan nafas, Angga langsung melepaskan tautan mereka. Lalu, ia menangkup wajah Thalia, agar mau menatap ke arah dirinya.


Dan dapat Angga lihat, tatapan mata Thalia terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit yang begitu dalam. Sungguh, Angga tidak menyukai tatapan Thalia saat itu. Maka dari itu ia bertekad untuk mengembalikan kembali kebahagiaan milik Thalia.


"Aku mohon. Beri aku kesempatan, Thalia. Aku tau ini benar, tapi aku benar-benar tulus saat mengatakan aku akan bertanggung jawab atas anak yang tengah kau kandung." lirih Angga sambil menatap dalam mata Thalia.


"Tapi aku tidak ingin kau mengorbankan mas depanmu, hanya demi wanita yang sudah rusak sepertiku," balas Thalia yang tak kalah lirih.


"Aku mohon, berikan aku waktu agar dapat meyakinkanmu. Aku benar-benar menyayangimu, dan tidak ingin kehilangan dirimu, Thalia." gumam Angga.


Thalia terdiam, ia tengah memikirkan kembali permintaan dari Angga. Dan ya, Thalia juga sebenarnya membutuhkan sosok yang bisa melindunginya, tapi tetap saja ia khawatir jika Kakak tirinya itu akan menghancurkan Angga sama seperti sahabatnya, Axel.


Thalia menghela nafas sejenak. "Akan ku pikirkan kembali tawaran darimu," lirihnya.


***


Sementara itu, di rumah Keenan...


Keenan membanting semuanya barang yang ada di hadapannya dan kini ruang kerjanya tampak begitu berantakan dan pecahan beling berada di lantai, bahkan dia tidak mempedulikan ruangannya yang tampak begitu kacau. Dan amarah di dalam diri Keenan tidak bisa lagi di tahan.


Keenan mengumpat kasar. Dia menggeram, mengingat semua perkataan dari Thalia. Di tambah dengan Thalia yang pergi meninggalkannya. Namun, Keenan pun menyadari jika dirinya itu begitu egois. Karena jika dirinya berada di posisi Thalia. Dia tentu tidak bisa menerima semua itu.


"Tuan Keenan," ucap Bian, salah satu anak buah dari Keenan masuk kedalam ruang kerjanya.


"Kau sudah tahu dimana keberadaan adikku?" tanya Keenan dingin saat Bian ada di hadapannya.


"Maafkan saya, Tuan Keenan. Tapi kami benar-benar tidak mendapatkan sedikitpun jejak dari Nyonya Thalia. Karena hampir semua CCTV yang mengarah ke jalanan seperti telah di sabotase oleh seseorang," jawab suara seorang pria bernama Pedro yang datangnya bersama dengan Bian tadi.


"Apa? Mencari wanita lemah saja kalian tidak bisa! Padahal sudah hampir satu minggu berlalu, tapi apa hasilnya, Hah?!" Bentak Keenan pada anak buahnya yang membawakan laporan jika belum bisa menemukan keberadaan adik tirinya.


"Pergi dari sini, aku benar-benar muak, melihat wajah kalian!" Bentak Keenan yang langsung di ikuti oleh beberapa suara langkah kaki menjauh pergi dari ruangannya.


"Sebenarnya kau ada dimana, Thalia!!" Geram Keenan mengusap wajahnya kasar, kemudian dia mengambil gelas sloki yang ada di hadapannya yang berisikan wine, lalu menegaknya hingga tandas.


"Maafkan aku, Thalia." lirih Keenan


***


Setelah kejadian semalam keadaan psikis Thalia pagi ini semakin membaik. Ia bahkan sudah mulai melemparkan senyumannya walau itu hanya senyuman tipis. Dan walaupun hanya begitu, Bik Nila dan Angga merasa sangat senang melihat Thalia bisa ceria kembali.


"Nona Thalia, bagaimana dengan salad buahnya? Apakah Nona Thalia menyukainya?" tanya Bik Nila sambil meletakkan susu untuk ibu hamil di dekat Thalia.


"Ini benar - benar enak, Bik. Buahnya terasa sangat segar dan manis. Tolong, ajarin aku cara membuatnya ya." pinta Thalia yang mendapatkan anggukan dari Bik Nila.


"Apa Nona Thalia tahu, buah - buahan yang ada di salad buah itu, semuanya adalah hasil panen dari kebun milik Tuan muda Angga yang ada di belakang Villa ini. Jika Nona Thalia masih tidak percaya. Nona Thalia bisa menanyakan langsung kepada Tuan Angga." tutur Bik Nila.


Angga yang merasa namanya disebut memilih untuk menghentikan makannya. Ia kemudian menoleh ke arah Thalia yang tengah menatapnya dengan pandangan. Ia kemudian menyemburkan senyumannya begitu melihat tatapan yang ingin penuh tahu dari wajah Thalia.


"Apa benar di sana ada kebun strawberry juga? Jika memang ada aku ingin sekali melihatnya." ucap Thalia sambil meremas kedua tangannya yang gugup.


"Tentu saja ada. Bukankah aku pernah berjanji kepadamu untuk membawanya kesana. Bagaimana kalau kita berangkat setelah pukul 9?" tanya Angga setelah menengok jam yang telah menunjukkan pukul delapan pagi lebih.


"Baiklah, aku ikut saja." sahut Thalia.


***


"Pegangan tanganku..." ujar Angga mengulurkan tangannya kepada Thalia saat melewati jalan yang sedikit curam.


Thalia lalu meraih tangan Angga. Dengan perlahan ia melangkah melewati jalanan yang cukup curam itu. Namun naas. Kaki kirinya tiba - tiba tergelincir yang membuat Thalia hampir terjatuh ke arah depan.


Greb.


Dengan sigap Angga langsung menangkap tubuh Thalia yang hampir menubruknya. Ia lalu membantu Thalia untuk berdiri, dan langsung mengecek tubuh Thalia apakah ada yang terluka atau tidak.


"Kau hampir membuat jantungku copot Thalia. berhati - hatilah dan jangan berbuat ceroboh. Menurut perkiraanku, kandunganmu masih berada di trimester pertama. Yang mana di masa itu, janin kamu masih lemah dan rawan sekali keguguran." tutur Angga seraya mengusap pelan kepala Thalia.


"Maaf..." lirih Thalia begitu menyadari kecerobohannya.


"Simpan maafmu untuk bayi kita. Ummhmm... Bagaimana kalau sekarang kamu ku gedong saja? Akan jauh lebih efektif jika kita menggunakan cara tersebut." saran Angga.


Thalia terdiam sejenak untuk memikirkan saran dari Angga. Memang benar apa yang di katakan oleh Angga, jika akan lebih efektif. Tapi masalahnya, Thalia mengaggap jika tubuhnya itu berat. Ia pun takut jika sewaktu - waktu Angga akan menjatuhkannya.


"Jika kau berpikir bahwa kau berat, maka kau salah. Tubuhmu itu bahkan lebih ringan dari pada ban mobilku. Sudah, ayo cepat naik." tutur Angga lalu berjongkok di hadapan Thalia.


"Sepertinya kau itu cenayang ya? Bagaimana bisa kau menebak isi pikiranku itu dengan sangat tepat." gerutu Thalia yang berada di dalam gedongan Angga.


Mendengar semua gerutuan Thalia. Angga hanya bisa terkekeh pelan. Lagi pula, apa - apaan itu cenayang. Dan mana mungkin seorang Angga Pratama yang tampan, kaya, tinggi dan menggoda ini adalah seorang cenayang.


"Nah, kita sudah sampai." ujar Angga sambil menurunkan Thalia dari punggungnya.


Begitu Thalia turun, dia pun langsung terpukau, melihat banyaknya tanaman strawberry yang ada di sana. Terlihat juga beberapa buahnya yang telah siap untuk di panen. Thalia pun kemudian langsung berlari menghampiri salah satu taman strawberry itu, lalu mencoba untuk memetik salah satu buahnya.


"Ah, manis sekali. Apa benar ini buah Strawberry?" gumam Thalia saat memakan buah yang baru saja dia petik itu.


Thalia yang terpukau dengan rasa buah yang ada di hadapannya, segera memetik banyak sekali buah yang berwarna merah itu dan meletakkannya di keranjang yang telah Angga ambil dari tempat taman buah itu. Thalia yang juga sangat menyukai buah strawberry, merasa bahwa tempat ini adalah surga dunianya.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....