
"Akkkkh...." jerit Thalia, yang kini posisinya sudah di rubah oleh Keenan.
Keenan membalikkan posisi mereka, saat ini Thalia sudah terlentang di atas sofa.
"Kak Keenan, lepaskan!" Teriak Thalia dengan memukuli Kakaknya.
"Dasar cewek cerewet!"
Setelah mengatakan hal itu, Keenan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Thalia. Mata Thalia membulat sempurna ketika bibir Keenan mencium bibirnya.
Thalia berusaha untuk mendorong tubuh Keenan. Namun Keenan mengunci tubuh Thalia dengan begitu erat. Thalia ingin berontak, tapi tubuhnya terlalu kecil saat berhadapan dengan Kakak tirinya itu. Dan di detik selanjutnya, Thalia pun akhirnya membiarkan bibir Keenan ******* bibirnya.Thalia sudah tidak lagi melakukan perlawanan dan perlahan Keenan melepaskan pagutannya.
"Kak Keenan! Kakak memang sudah gila!" Seru Thalia saat pagutannya terlepas.
Keenan menyeringai puas, dia membawa ibu jarinya menelusuri bibir Thalia, dan pastinya Keenan tidak memperdulikan setiap umpatan kasar yang di lemparkan Thalia kepadanya.
"Selesaikan makananmu dan tidurlah di sini, karena aku masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."
"Aku tidak mau, Kak. Karena besok aku mau berangkat ke sekolah."
"Menurut lah, Thalia."
Thalia tidak membalas, dia malas jika harus berdebat dengan Kakak tirinya. Lebih baik dia menghabiskan makanannya dari pada harus berdebat dengan Kakak tirinya.
***
Pagi ini Thalia sudah tiba di sekolah. Dan sebelum masuk kedalam sekolah Keenan sudah mewanti-wanti agar Thalia belajar dengan benar.
"Ingat sayang, kamu itu harus belajar dengan giat ya. Harus konsentrasi penuh. Kamu tidak boleh berpikir yang berat - berat. Apalagi memikirkan laki - laki sialan itu. Semalam Kakak khilaf. Kakak minta maaf. Kamu mau kan, maafin Kakak."
"Hm," Thalia berdehem kecil sebagai jawaban kemudian langsung keluar dari mobil Kakak tirinya itu.
Dan kini Thalia sedang duduk di taman sekolah. Dia duduk bersantai sambil menunggu sahabatnya. Karena Siska sebentar lagi akan sampai di sekolah, itu sebabnya Thalia sedang duduk menyendiri di taman sekolah.
Sedangkan Siska yang baru saja sampai di sekolah dia melihat isi pesan yang di kirimkan oleh Thalia sebelumnya, jika kini Thalia sedang berada di taman sekolah. Dan Siska pun langsung menuju ke arah taman dan benar saja, ternyata sahabatnya itu sedang duduk di taman sambil membaca buku. Kemudian, Siska berjalan mendekat ke arah Thalia. Namun, sebelum duduk Siska mengambil minuman hot chocolate milik Thalia dan meminumnya. Lalu dia duduk di hadapan Thalia dengan wajahnya yang masam.
"Kau ini, sudah datang mengambil minumanku dan menunjukkan wajah yang di tekuk seperti itu," Thalia menyipitkan pandangannya. Terlebih melihat wajah masam Siska.
Siska mendesah pelan. "Kau tahu, ujian sekolah semakin dekat dan membuat kepalaku hampir pecah karena harus belajar terus." ucap Siska, sambil meremas kuat rambut panjangnya.
Thalia menggeleng pelan, seraya mengulum senyumannya. "Sudahlah, nikmati saja masa - masa seperti ini untuk belajar. Jangan mengeluh."
Siska berdecak kesal. "Kamu bicara seperti itu karena kamu itu pintar, tetapi berbeda dengan ku yang harus belajar dengan giat agar memperoleh nilai yang bagus supaya aku bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan."
Thalia mengangguk paham. Kemudian dia menyambar hot chocolate miliknya yang ada di tangan Siska kemudian mulai menyesapnya.
"Thalia, kemarin kamu ijin gak masuk ke sekolah memang kenapa? Kemarin gak ada kamu aku kangen banget tau?"
"Itu semua karena ulah Kak Keenan yang menyuruhku untuk tak masuk ke sekolah dan mengajakku pergi jalan - jalan." jawab Thalia yang tampak kesal.
"Hmm, enak banget ya jadi kamu, Thalia."
"Maksud kamu apa, Sis?"
"Kamu itu beruntung tau, Kakak tiri kamu sepertinya sangat mencintai kamu. Sudah kaya tampan lagi. Tapi kenapa kamu masih menolaknya?"
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas tentang Kakak tiriku. Lebih baik kita masuk ke kelas sekarang. Sepertinya bel masuk sekolah akan segera berbunyi." kata Thalia mengajak Siska untuk masuk kedalam kelas.
"Ya." Thalia beranjak dari tempat duduknya, bersama dengan Siska yang juga beranjak dari tempat duduknya. Kemudian mereka melangkah masuk kedalam kelas.
***
Sepulang dari sekolahnya. Thalia pun langsung pergi ke rumah sakit sesuai janjinya akan bertemu dengan Axel karena hari ini. Axel sudah di perbolehkan pulang kerumahnya. Dan dia pergi di sana di antar oleh supir pribadinya karena Kakaknya itu sedang di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan di perusahaan.
"Thalia? Kau sudah di sini?" Axel sedikit terkejut, melihat Thalia kini sudah berada di ruang rawatnya.
"Ya, aku sudah di sini. Karena aku ingin memastikan kondisi kamu yang sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan aku senang karena kau sudah sehat, Thalia." balas Thalia.
"Ya, seperti yang kau lihat, aku sudah sedikit baikkan sekarang."
"Katanya kemarin kau ingin berbicara denganku. Memangnya apa yang ingin kau katakan itu, El?"
"Thalia, sebenarnya aku akan pergi ke negara S karena kedua orang tuaku memintaku untuk melakukan pengobatan di sana."
"Kenapa tiba - tiba seperti ini, El? Apa itu karena ulah Kak Keenan yang udah buat kamu seperti ini? Jadi, kamu mau meninggalkan aku?" tanya Thalia yang kini sudah meneteskan air matanya.
"Thalia, aku hanya pergi sebentar untuk pemulihan kakiku. Setelah itu, kita pasti akan bertemu lagi. Aku pergi ke negara S juga bukan karena Kakak kamu, jadi kamu jangan pernah menyalahkan dirimu."
"Aku tidak mau. Jangan tinggalkan aku, El. Kalau aku rindu, bagaimana?"
"Kan ada ponsel."
"Tapi rasanya beda, El. Hiks..." lirih Thalia. "Dan bagaimana dengan sekolah kamu?" lanjut Thalia memberitahu.
"Selama pemulihan, di sana aku juga akan home schooling kau tenang saja."
"T- tapi tetap saja aku tidak ingin kau pergi, El."
Ya, Thalia tentu saja tidak terima bila harus berjauhan dengan Axel. Baginya, Axel adalah segalanya. Sahabat sekaligus seseorang yang Thalia sukai. Dan ia berharap, jika Axel akan menjadi cinta pertama dan cinta terakhirnya.Namun, Thalia masih tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya karena dia tidak ingin membuat Axel dalam bahaya lagi.
"Thalia dengar aku,"
"Apa yang harus aku dengar, El?" ucap Thalia, yang kini sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis sejadi - jadinya saat ini.
Melihat Thalia menangis seperti itu, Axel pun sebenarnya tidak tega. "Andai bisa memilih, Thalia sebenarnya aku juga tidak ingin pergi meninggalkanmu. Tapi, apalah dayaku." ucap Axel di dalam hati.
"Thalia, aku janji. Setelah kakiku sudah benar-benar sembuh. Aku akan langsung datang menemui mu." ucap Axel yang kini sudah menangkup pipi Thalia dan mengusap dengan sayang air mata yang menghiasi wajah cantiknya itu.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.