
Setiap hari berganti dan berubah menjadi malam hari, di situlah Thalia mulai tidak tenang. Ya, ia selalu waspada jika Kakak tirinya akan datang menyelinap lagi kedalam kamarnya. Kemudian Thalia berjalan keluar dari kamarnya. Ia menuruni anak tangga hingga lantai satu terlihat. Kemudian Thalia pun hendak menuju ke arah kolam renang untuk menenangkan sedikit pikirannya.
"Sayang," panggil seseorang membuat Thalia menoleh.
Tatapannya tertuju pada Ibunya, yang kini berjalan mendekatinya. Wanita itu nampak berdandan dengan sangat cantik. Ya, sepertinya Ibunya itu akan pergi.
"Bunda mau pergi kemana, Bund?" tanya Thalia yang menatap ke arah Ibunya.
Vina tersenyum manis. "Bunda ada acara dengan Papa. Thalia berani di rumah sendiri kan?" tanya Vina dan Thalia mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Jangan Bund. Lebih baik kita ajak Thalia. Menurut papa, Thalia juga butuh hiburan." ujar Tristan muncul dengan pakaian formalnya.
"Iya juga. Kalau begitu kamu ikut kita ya, sayang." ajak Vina, ibunya.
Thalia bingung, kali ini haruskah dia ikut atau tidak saat ini. Ia menundukkan kepalanya dan meremat kedua tangannya. Dan ya, setidaknya Thalia di sana bisa tenang dan tidak memikirkan tentang Keenan.
"Iya, Bund. Thalia mau." jawab Thalia mengangguk kepalanya.
Setelah menunggu beberapa menit Thalia bersiap. Kini Thalia ikut dengan Bundanya. Ada sedikit rasa cemas di hatinya kalau ia takut kemanapun ia akan pergi, ia akan bertemu dengan Keenan.
Dan kini mereka berdua sudah sampai di sebuah pesta pernikahan anak sahabat Ibunya. Usai memberikan ucapan selamat, kini Thalia menikmati upacara outdoor di salah satu hotel berbintang dengan sangat meriah.
Ia membawa gelas berisi minuman di tangannya dan menatap beberapa orang yang sedang berdansa, termasuk kedua orang tuanya.
"Nona ingin berdansa?" tawar seorang laki-laki yang sedang mendekati Thalia saat ini.
"Maaf, tapi aku tidak bisa berdansa." tolaknya dengan sangat sopan.
Laki - laki itu tersenyum dan menundukkan kepalanya, sebelum ia melirik kepada Thalia.
"Wah, sayang sekali. Padahal saya berharap besar dengan Tuan putri Thalia." ujarnya dengan tidak sabaran.
Thalia kembali menggelengkan kepalanya. Ia menundukkan kepalanya dan menatap lagi ke arah kedua pengantin yang tengah berdansa.
Tanpa sengaja Thalia menoleh ke arah pintu masuk, ia melotot lebar dan menutup mulutnya menatap laki - laki tampan dengan berbalut tuxedo hitam dan tidak lupa sisi gelapnya dan misteriusnya seorang Keenan Alexander yang terlihat jelas.
Dan perlahan gelas yang Thalia pegang jatuh di rumput sebelum laki - laki di sampingnya itu menoleh kepadanya yang terlihat sedang bingung menatap Thalia yang terlihat begitu terkejut. Laki - laki itu bernama Angga Pratama.
"Nona Thalia, kau baik-baik saja, kan?" tanya Angga mengikuti arah pandang Thalia.
Laki - laki itu tersenyum. "Ya, saya tahu kalau dia itu memang sangat tampan, jangan terheran juga kalau gelasnya itu sampai terjatuh." sindir Angga sambil terkekeh.
Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya. Ini bukanlah hal yang lucu lagi baginya, gadis itu benar-benar takut. Hingga keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Thalia berjalan mundur dengan pelan - pelan dan matanya tertuju pada laki-laki yang kini tengah bersalaman dengan beberapa orang yang ada di sana.
Bruakkkkk...
Suara itu ketika membuat keadaan menjadi hening, semua orang menatap ke arah Thalia yang terjatuh dengan pakaian dan dirinya yang kotor karena sirup yang berwarna merah yang menumpahinya.
"Thalia!" Pekik Vina langsung berlari ke arah putrinya dan membantunya untuk bangkit.
"Sayang, kau tidak apa-apa,kan?" Vina membantu putrinya bangkit dari duduknya.
Dan dengan cepat Thalia langsung bangkit ia menatap ke arah Ibu dan Ayahnya secara bergantian.
"Bunda, Thalia pamit sebentar ya.." ucapnya sebelum dia berlari menjauh dari sana.
Thalia kemudian langsung berlari ke arah kamar mandi, ia diam di dalam kamar mandi dan terduduk di sana dengan kedua tangannya yang menjambak rambut panjangnya.
Thalia merasa gila tiap kali ia melangkah selalu saja ada Keenan dimana - mana.
"Ya Tuhan, cukup sudah. Kenapa aku terus bertemu dengannya.Kenapa aku selalu terus bertemu dengan laki - laki itu." gumamnya mengusap air matanya.
Thalia bangkit dari duduknya, ia menatap cermin besar di hadapannya dan mencuci wajahnya yang kotor karena sirup yang menumpahi dirinya.
"Thalia tenang. Jangan lagi memikirkan dirinya. Ada Bunda dan Papa dan tidak ada yang perlu di takutkan saat ini." ucap Thalia menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum manis sebelum ia menarik pintu kamar mandi itu.
Dan baru saja Thalia mengatakan tidak ada yang perlu di takutkan, kini ia sedang berhadapan langsung dengan Kakak tirinya yang sangat ia takuti. Dan kini Keenan sudah berdiri menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
Thalia menundukkan kepalanya dan kedua tangannya mencengkram erat gaun yang sedang ia pakai saat ini. Dan gadis itu hendak melangkah menjauh sebelum satu lengannya itu di tarik oleh Keenan dan mendorong Thalia masuk kedalam kamar mandi itu dan menguncinya.
"Apa yang Kak Keenan lakukan? Aku mohon jangan lagi, Kak, aku mohon padamu?" lirih Thalia dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Sayang, apa yang kau lakukan tadi dengan si sialan Angga? Kau menyukainya, hm? Tidak hanya dengan Axel Dirgantara tapi kau juga menggoda Angga Pratama?" tanya Keenan terus melangkah mendekat ke arah Thalia hingga Thalia tersudut. "Dan kenapa kau melakukan hal yang konyol hingga mempermalukan dirimu sendiri?" lanjutnya ingin tahu.
"Aku takut padamu kumohon..."
Napas Thalia tercekat kala punggungnya yang sudah terbentur tembok dan Keenan yang kini semakin dekat dengannya.
Thalia kemudian meletakkan kedua telapak tangannya pada dada bidang Keenan sambil memejamkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Kak Keenan, aku mohon Kak. Jangan melakukan apapun padaku." cicit Thalia yang kini sudah ketakutan.
Mana mungkin permohonan Thalia itu di dengarkan oleh Keenan. Keenan kemudian melepaskan tuxedo hitamnya. Dan Thalia hanya diam dan ia menatapnya takut.
"Ka- Kak Keenan kita tidak mungkin."
Keenan menyeringai sinis. Dia menarik kasar dagu Thalia dan berucap tajam, "Aku berhak melakukan apapun atas dirimu. Termasuk mengurung mu di sisiku atau membuang mu, semuanya adalah keputusanku. Kau berada di bawah kendaliku Thalia Ivanka."
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.