
"Axel, aku takut sama Kak Keenan?" ucap Thalia saat melihat sosok Keenan sedang berjalan ke arah Thalia dan Axel.
"Eh, dia itu kan Kakak kamu, Lia. Kenapa kamu takut?"
"Tapi-"
"Thalia, bukankah Kakak sudah menyuruh kamu untuk menunggu sampai Kakak datang?!" Seru Keenan saat sudah sampai di hadapan Thalia.
"Kak aku-"
"Siapa yang nyuruh kamu buat pulang bareng dia?" ucap Keenan yang kini menunjuk ke arah Axel.
"Axel tadi cuma nemenin Thalia aja, Kak. Karena tadi Thalia udah nunggu Kak Keenan lama jadi aku mau pulang bareng sama Axel." jawab Thalia sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Kakak tirinya itu.
Keenan berdecak sebal. "CK, di depan Kakaknya sendiri ternyata adikku ini sudah berani membela cowok lain." bisik Keenan
Ya, Keenan tidak habis pikir dengan jawaban dari Thalia yang terus - menerus membela laki - laki yang bernama Axel itu.
"Liat Kakak, Thalia!" Seru Keenan "Kamu sudah melanggar aturannya." lanjutnya
"Tapi Axel hanya temanku, Kak. Gak lebih." jawab Thalia yang kini memberanikan diri untuk menatap wajah Keenan yang terlihat begitu kesal.
"Pakai alasan lagi. Jangan coba - coba selalu bikin alasan sama Kakak. Kakak bahkan bisa bertindak lebih buruk dari ini." ucapnya dengan nada yang begitu emosi. "Sekarang pulang! Ayo pulang!" Lanjutnya
"I... Iya, tapi aku mau pamit dulu ke Axel." ucap Thalia
Thalia langsung menatap ke arah Axel dan berkata, "Axel maaf ya. Aku harus pulang bersama dengan Kakakku."
Mendapati Thalia yang masih mengobrol dengan teman sekolahnya membuat Keenan geram. Ia langsung bergegas mendekati adiknya itu dan kembali membentaknya.
"Cepetan,Thalia! Pulang sekarang! Bikin kesel aja kamu!" Tegur Keenan dengan nada membentak.
Keenan pun langsung menarik tangan Thalia dan mengajaknya untuk pulang.
"Tunggu!"
"Apa - apaan ini?!" Bentak Keenan saat Axel menghalangi jalannya.
"Di sini saya sangat menghargai kalau anda sebagai Kakaknya Thalia. Jadi, saya hanya ingin bicara baik - baik."
"Minggir!"
"Tidak. Saya tidak akan mau menyingkir sebelum saya berbicara kepada anda."
Keenan berdecak marah dan langsung menarik kerah baju Axel. "Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan, huh?! Kalau itu tentang Thalia, sebaiknya kau tidak perlu lagi untuk menjelaskannya." setelah itu Keenan langsung mendorong kuat tubuh Axel hingga tersungkur ke bawah. "Aku peringatkan padamu, mulai hari ini dan seterusnya jauhi adikku!" Lanjutnya memberikan ancaman pada Axel.
"Maaf, tapi saya tidak bisa untuk menuruti perintah anda." jawab Axel
"Kak Keenan-"
"Diam!" Kemudian Keenan langsung menarik tangan Thalia dan langsung menuju masuk ke arah mobil.
Keenan pun langsung mengendarai mobilnya menuju rumah dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia bahkan sampai menyalip - nyalip mobil besar di jalanan tanpa rasa takut.
"Kak Keenan. Aku takut, Kak. Jangan terlalu ngebut ya? Karena aku masih pengin hidup." ucap Thalia sambil merangkul lengan Keenan dari samping.
Melihat ekspresi wajah ketakutan dari Thalia. Keenan pun tersenyum menyeringai. Ya Keenan merasa senang karena sudah berhasil membuat Thalia ketakutan.
"Makanya, kalau kamu masih pengin hidup. Kamu itu harus nurut dan jangan pernah membantahku. Aku itu paling tidak suka di bantah ya, Thalia!"
"Iya, Iya, Kak. Thalia bakalan nurut sama Kak Keenan. Tapi Thalia mohon jangan ngebut - ngebut bawa mobilnya.Dan sekarang, pelan kan mobilnya." pinta Thalia dengan raut wajahnya yang mulai memucat karena ketakutan.
***
Saat sudah sampai di dalam rumah, Thalia hendak masuk kedalam kamarnya namun Keenan mencengkram tangannya kuat. " Kau mau kemana, Thalia?"
Thalia hanya bisa meringis kesakitan saat Keenan mencengkram tangannya dengan kuat.
"Ikut Kakak, Thalia!" Ucap Keenan kemudian langsung menarik pergelangan tangan Thalia untuk mengikuti langkahnya menuju ke ruang keluarga.
Di dalam hati Thalia berharap bisa bertemu dengan Bundanya, mengingat Bundanya itu paling suka bersantai di sana. Namun, entah kenapa keadaan rumahnya terlihat sangat sepi.
"Kak Keenan, apa yang akan Kakak lakukan."
"Duduk!"Perintah Keenan dengan suara yang pelan.
"Nggak mau!" Tolak Thalia kemudian dia hendak melangkah ke arah tangga namun di berhasil di hadang oleh Keenan.
"Mau kemana? Hukumanmu itu belum selesai." ucap Keenan sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping Thalia, supaya gadisnya itu tidak kabur lagi. Keenan memejamkan matanya saat kepalanya terbenam di ceruk leher Thalia dan menghirup dalam - dalam bau vanila yang berasal dari tubuh Thalia.
"Apa yang Kak Keenan lakukan. Nanti kalau Bunda melihat bagaimana?"
"Dengarkan Kakak, Thalia. Kakak itu tidak peduli dengan semua itu, karena kamu itu milik Kakak. Jadi terserah Kakak dong, mau melakukan apa ke kamu. Mereka tidak berhak ikut campur dalam hubungan kita."
"Cukup Kak! Kak Keenan sudah keterlaluan!" Dengan sekuat tenaga Thalia langsung menghempaskan tangan Keenan yang melingkar di pinggangnya.Dan langsung mendorong Keenan kemudian Thalia langsung berlari menuju ke arah kamarnya dengan air mata yang mulai menetes.
Namun, saat hampir masuk kedalam kamarnya Thalia berpapasan dengan Ibunya. "Thalia, kenapa kamu menangis, sayang. Siapa yang sudah membuatmu menangis?"
Thalia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ya, Thalia tidak ingin mengaku kepada Ibunya jika yang membuatnya menangis adalah Kakaknya.
Dan Thalia pun langsung masuk kedalam kamarnya. Dia tidak ingin jika bertemu dengan Kakak tirinya lagi.
"Keenan? Kenapa tadi Thalia pulang sekolah menangis? Apa kamu marahin dia lagi?" tanya Vina saat melihat Keenan di ruangan keluarga.
Keenan melepaskan jaket kerjanya dan di sampir kan pada lengannya.
"Bunda tanya sendiri aja sama, Thalia. Jujur ya, Bund. Keenan cuma nyaranin ke Bunda. Jangan biasakan Thalia hidup sesuka hatinya, ajarin dia hidup disiplin biar Thalia itu gak manja. Pasti Papa dan Bunda sudah manjain Thalia selama ini, kan?"
Vina menghela nafasnya panjang sambil menatap lekat ke arah putranya.
"Keenan, Bunda dan Papa itu tidak pernah memanjakan Thalia. Kamu aja yang selalu berlebihan sama adik kamu."
Ya, Vina pun merasa kesal dengan kelakuan Keenan yang pastinya telah memberikan teguran keras pada Thalia hingga membuatnya menangis seperti tadi.
"Udahlah, Bund. Keenan tadi hanya ngasih saran aja pada Bunda. Tapi, kalau nanti Thalia udah berubah menjadi gadis yang pembangkang Bunda pasti akan menyesal." ucap Keenan kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan Ibunya yang masih di buat bingung oleh ucapan dari anak tirinya itu.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.