Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Kedatangan Keenan



Lampu kamar tamu semalaman tidak Thalia nyalakan, bahkan ia tidak mau makan sesuap nasi.Ia masih marah dan kesal pada Bundanya, hingga akhirnya mengunci dirinya sampai tertidur.


Tepat pukul sepuluh malam, Thalia yang keluar dari kamarnya ia berjalan menuju ke arah meja makan dan duduk di kursi kayu itu sambil menuangkan air putih kedalam gelasnya sebelum ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya.


"Pusing," gumamnya sambil memijit kepalanya yang benar - benar terasa sangat sakit.


"Sayang," panggil Vina yang membuat Thalia menoleh.


Vina mendekati Thalia, Dan ya, wanita itu berjalan mendekat ke arah putrinya "Thalia sayang, maafkan atas ucapan Bunda tadi sore ya," ujar Vina.


"Maafkan Thalia juga, Bund." jawab Thalia, kemudian dia kembali pergi meninggalkan Bundanya. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan Ibunya.


"Thalia, sayang. Kamu mau kemana?" tanya Vina menatap ke arah putrinya. "Jangan pergi, sayang. Kamu dari tadi sore belum makan." teriak Vina lagi.


Namun sama sekali tidak ada sahutan lagi dari Thalia, dan kini Thalia sudah masuk kedalam kamarnya langsung segera pergi tidur untuk melupakan rasa laparnya.


Thalia terdiam menahan rasa marah dan laparnya. Ia meraih ponsel miliknya di atas nakas dan melihat banyak panggilan dari Kakak tirinya.


"Dia mau apalagi? Aku sangat lelah dengannya. Semua ini gara - gara dirimu, Kak Keenan." gumam Thalia lirih.


Ponsel Thalia kembali berdering, dan nama Kakak tirinya itu jelas tertera di layar ponselnya. Ingin sekali Thalia tak acuh pada panggilan itu, namun ia juga memikirkan efeknya nanti. Thalia kemudian menggeser tombol hijau itu untuk menerima panggilan telepon dari Kakaknya.


"Halo Kak Keenan," jawab Thalia, saat panggilannya terhubung.


"Kenapa aku dengar kalau kau masih belum makan, hah?! Apa kau ingin membuat dirimu sakit?" ucap Keenan dari sebrang telepon dengan nada suara yang terdengar kesal.


Thalia baru saja memasang wajah layu, ia kembali tegang dan kaget saat mendengar suara Kakak tirinya itu.


"A..Aku sudah makan," jawab Thalia gugup.


"Jangan membohongiku, Thalia. Aku tau, kau itu masih belum makan. Lebih baik ka-"


Belum selesai Keenan menyelesaikan ucapannya. Buru - buru Thalia langsung mematikan panggilan telepon itu, karena ia sudah malas berurusan dengan Kakak tirinya. Dan Thalia langsung memejamkan kedua matanya.


"Bagaimana mungkin monster itu tahu kalau aku belum makan?" gumam Thalia sambil memukuli kepalanya dan menggeleng kuat. "Oke Thalia, lebih baik sekarang kita tidur."


***


Sedangkan Keenan kini sedang berdecak kesal, karena adik tirinya itu langsung memutus panggilan teleponnya.


Di tambah lagi, Keenan masih berada di kantornya karena banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan karena Ayahnya sedang melakukan perjalanan bisnis siang tadi untuk melihat perusahaan cabangnya yang sedikit mengalami masalah.


Dan sekarang pikirannya menjadi kemana - mana sejak Ibu tirinya itu mulai menghubunginya dan menyuruhnya untuk membujuk Thalia untuk makan, namun adik tirinya itu malah dengan lancang dan beraninya dia berbohong pada dirinya jika dia itu sudah makan.


Keenan menggebrak mejanya dan bangkit dari duduknya sebelum ia keluar dari dalam ruangannya dengan cepat.


"Awas saja kalau kau masih tidak makan juga setelah aku menjemputmu." geram Keenan kini berjalan seraya membenarkan jasnya.


Meskipun Keenan masih menjadi wakil CEO namun sosoknya juga paling di segani di perusahaan sama seperti Ayahnya. Apalagi otaknya yang cerdik dan pintar membawa perusahaan milik keluarganya berkembang menjadi lebih pesat di usianya yang masih muda.


Kini Keenan pergi ke rumah orang tuanya, tepat pukul sebelas malam. Bukan hanya geram pada Thalia, melainkan seolah dunia mendukungnya dengan Ibu tirinya yang terus menerus menghubunginya.


Beberapa menit berlalu, kini mobil Keenan sudah terhenti di depan mansion milik kedua orang tuanya. Dan pintu berwarna putih itu langsung terbuka lebar.


"Keenan," pekik Vina mendekatinya. "Bunda minta tolong ya, kamu bujuk adik kamu. Kalau perlu, ajak saja dia makan di luar, dia kalau marah tidak suka melakukan apapun di rumah. Terlebih lagi Papa kamu juga sedang melakukan perjalanan bisnis jadi itu tidak akan menimbulkan masalah."


Keenan langsung tersenyum miring, di dalam hatinya bersorak kegirangan. Ia pun langsung berjalan ke arah kamar adik tirinya itu.


Dan ya, ternyata pintu kamar Thalia juga tidak di kunci. Keenan kemudian masuk kedalam sana dan Ibunya menunggu di luar, ia tidak mau merusak suasana hati putrinya itu.


"Buka selimutmu, sayang." bisik Keenan di telinga Thalia.


Tidak ada jawaban dari Thalia, meskipun Keenan yakin kalau gadis itu masih belum tidur.


"Bangun, sayang. Atau aku akan menginap di sini," seru Keenan mengancam Thalia.


Mendengar ucapan dari Kakak tirinya itu, Thalia pun langsung membuka selimutnya cepat, ia menatap Keenan dan menggeleng - gelengkan kepalanya.


Tatapan takut dan wajahnya yang pucat, Thalia terlihat lelah hari ini. Gadis itu bangkit dari tidurnya dan menyibakkan selimutnya cepat sebelum ia buru - buru keluar dari kamarnya.


Thalia membuka pintu kamarnya dan melihat Ibunya yang kini sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia menatap ke arah Ibunya marah, jelas Thalia sangat marah kepada Ibunya karena Thalia yakin jika Ibunya yang sudah menyuruh Kakak tirinya itu kembali ke rumah.


"Bunda jahat," teriak Thalia dan langsung berlari turun dari lantai dua.


Vina mengerjapkan kedua matanya. "Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku menjadi serba salah begini," gumam Vina menghembuskan nafas berat.


Thalia berjalan ke arah ruang makan, tidak ada apapun di sana. Ia menatap nanar meja makan yang sudah tampak kosong itu, padahal tadi masih ada beberapa makanan.


"Ayo ikut Kakak," ajak Keenan menarik tangan Thalia.


"Tidak mau, Kak!" Tolak Thalia cepat, menggelengkan kepalanya dan menyentak tangan Kakak tirinya itu.


"Aku bilang ikut, atau...."


Thalia menundukkan kepalanya dan ia pun hanya bisa menuruti perintah Kakaknya itu. Ibunya berjalan ke arah mereka berdua dan melangkah mendekat ke arah Thalia.


"Thalia, sayang. Kamu ikut Kakak kamu ya makan diluar. Kalau nanti kemalaman kamu kan udah biasa tinggal bersama dengan Kakak kamu."


"Tapi Bund-"


"Ya. Bunda tenang saja. Thalia pasti akan aman bersama denganku." ucap Keenan memotong ucapan dari Thalia, kemudian ia menarik pelan tangan Thalia dan mengajaknya untuk keluar dari dalam rumahnya.


Tidak ada percakapan antara Thalia dan Kakak tirinya itu selama berada di dalam mobil. Thalia hanya menatap jalanan saat ini.


Keenan memperhatikan tingkah Thalia dan dia hanya tersenyum tipis setiap kali melihat Thalia mengusap air matanya.


Sebenarnya Thalia sangat jijik dan benci sekali jika bersama dengan Kakak tirinya itu. Dan ya ia pun hanya bisa menangis dalam diam dan sesekali menghembuskan nafasnya yang terbuang berat.


"Kau lihat. Ternyata mudah sekali untuk mendapatkan restu dari Bundamu, tanpa berbuat banyak dia malah menyerahkan mu padaku." ujar Keenan dengan ringannya.


"Tapi aku tidak mau menikah denganmu, Kak. Lebih baik aku mati." Thalia menjawabnya dengan asal.


Keenan terkekeh, ia menggeleng - gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang Thalia katakan.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.