Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Kekhawatiran Keenan



Thalia sedang menatap langit yang mendung gelap, hampir seperti malam. Kematian berada di pihaknya saat ini.


"Aku akan mati sekarang, Thalia anak kesayangan Bunda Vina akan mati muda. Hiks." ucap Thalia dengan Isak tangisnya.


Saat kedua tangannya memegang pipa jembatan. Tiba - tiba saja Thalia merasakan pusing pada kepalanya.


Bruk


Belum sempat Thalia melompat. Dia sudah jatuh pingsan dengan posisi yang tengkurap. Dan saat itu ada sebuah mobil yang melintas yang tak jauh dari Thalia, melihat seorang wanita yang tengah tertidur di dekat jembatan. Pemilik mobil itu pun langsung keluar dari dalam mobil karena dia mengetahui identitas wanita yang tidak sadarkan diri itu. Dan dia pun berlari ke arah wanita itu.


"Tubuhnya demam tinggi." gumam Angga setelah mengecek suhu tubuh Thalia. Ya, laki - laki itu adalah Angga Pratama seorang psikolog yang pernah bertemu Thalia di sebuah pesta dan halte bus.


Dengan segera, Angga langsung menggendong tubuh Thalia dan meletakkan di bangku belakang mobilnya. Ia pun berniat membawa Thalia ke Villa miliknya yang berada jauh di pegunungan. Dan tidak mungkin juga jika dirinya membawa Thalia ke rumah sakit. Karena mungkin saja Kakak tirinya Thalia akan menemukan keberadaannya.


Setelah dua jam lebih berkendara. Angga pun telah sampai di villanya. Dengan perlahan, Angga langsung mengangkat tubuh Thalia dan membawanya menuju kamar tamu di Villa miliknya.


Bik Nila yang merupakan pembantu yang telah bekerja di keluarga Pratama sejak lama, sangat terkejut saat Tuan mudanya membawa seorang gadis cantik asing masuk kedalam Villanya.


"Bik Nila, bisakah kau menggantikan baju gadis ini. Bajunya basah, dan saat ini dia sedang demam. Dan aku hanya takut, jika demamnya nanti semakin parah." ucap Angga pada wanita setengah baya yang mengikutinya dari arah belakang.


"Baiklah Tuan muda. Dan lebih baik Tuan muda mengganti pakaian Tuan muda yang basah kuyup juga. Saya takut, nantinya Tuan muda akan ikut - ikutan demam juga." ujar Bik Nila.


Mendengarkan ucapan dari Bik Nila. Angga pun langsung keluar meninggalkan kamar yang di tempati oleh Thalia menuju ke arah kamarnya.


"Semoga saja Kakak benar - benar bisa menghilangkan jejak kami." gumam Angga sambil melepaskan bajunya.


***


"AARRRGGHHH....! BODOH!!" Teriak Keenan keras - keras.


Keenan meraih cincin berlian yang ada di lantai. Ia meremat kuat benda itu dan menggeram marah saat ini juga.


"Bisa - bisanya kau membuat aku gila, Thalia! Kenapa kau bodoh, Thalia!" Teriak Keenan dengan sangat marah.


Langkahnya kini membawanya turun ke lantai, satu, Keenan menatap ke sekitar dan Thalia ternyata benar - benar pergi dari rumahnya.


Pintu rumah itu terbuka dengan lebar - lebar. Keenan kemudian menjatuhkan cincin yang ada di tangannya. Ia kemudian berjalan ke arah pintu dan menatap hujan yang sangat deras kini sedang turun.


"Thalia, sebesar apapun rasa benci mu padaku. Tidak akan pernah mengimbangi rasa cintaku padamu."


Keenan berlari keluar dari teras rumahnya, ia menatap jalanan yang sangat sepi dimana semuanya terlihat berkabut.


Dan ia melihat sepasang sepatu milik Thalia dengan cepat Keenan berlari menembus derasnya air hujan.


Panik, takut dan sangat di buat gila oleh keadaan Thalia saat ini, adik tirinya itu pasti sedang kesakitan, kedinginan.


Keenan mengusap seluruh wajahnya yang seluruh tubuhnya kebasahan karena hujannya yang deras.


Setelah berlari mencari keberadaan Thalia, Keenan kini duduk di aspal jalanan. Ia merasa kehilangan, tetapi juga merasa sebagai orang yang rendah karena apa yang telah ia lakukan pada Thalia. Ya, Keenan merasa bersalah telah memperlakukan Thalia demikian buruk dan ia pun menyesalinya. Air mata pun mengalir dari balik telapak tangan yang menutupi wajahnya.


"Thalia dimana kamu? Jangan pergi, sayang. Jangan tinggalkan aku!" Teriak Keenan frustasi.


***


Cahaya matahari masuk melewati celah gorden, dan langsung mengenai kelopak mata wanita yang masih bergelung dengan mimpinya. Merasa terganggu dengan perlahan ia membuka kelopak matanya dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar.


"Ini dimana?" gumam Thalia yang tengah kebingungan melihat nuansa kamar yang terasa asing baginya.


Ceklek.


Suara pintu kamar di buka. Menampilkan wanita paruh baya yang tengah membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas susu hangat. Melihat Thalia yang sedang duduk di atas ranjang, wanita paruh baya itu langsung meletakkan nampan di nakas samping ranjang.


"Nona Thalia sudah bangun ternyata. Apa kepala Nona masih terasa sakit. Semalaman Nona pingsan akibat demam yang cukup tinggi.Tapi sepertinya sudah sedikit turun." ucap wanita paruh baya itu. Sembari menempelkan punggung tangannya di dahi, Thalia.


"Aku baik - baik saja. Terima kasih juga, sudah mengkhawatirkan aku. Kalau boleh tahu Bibi siapa ya? Dan saat ini, aku ada dimana?" tanya Thalia penasaran.


"Ah, iya. Kau pasti tidak ingat. Saat ini Nona tengah berada di villa milik Tuan muda Angga, Dan Tuan muda yang sudah membawa Nona kesini saat sedang pingsan semalam. Dan juga perkenalkan, nama saya Nila, kau bisa memanggilku Bik Nila seperti yang Tuan muda Angga lakukan. Saya adalah pengurus villa ini." jelas Bik Nila tersenyum tulus ke arah Thalia.


Mendengar penjelasan dari Bik Nila, seketika ingatan tentang semalam berputar di dalam otaknya. Thalia mengingat kembali saat dirinya pergi dari rumah Kakak tirinya dan hendak bunuh diri dan dirinya berakhir pingsan.Mungkin, Tuhan masih menyayangi dirinya, sehingga sekarang dirinya berada di sini.


"Lalu dimana Angga saat ini? Dan kalau aku boleh tahu, apakah yang di maksud Bik Nila itu Angga Pratama?" tanya Thalia memastikan, jika laki - laki yang sudah menyelamatkannya dia adalah seseorang yang pernah ia kenal.


"Benar, Nona. Dia Tuan muda Pratama. Tapi sepertinya Tuan muda belum bangun. Karena setelah membawa Nona kemarin, Tuan muda tidak langsung beristirahat. Karena dia harus mengurus berkas - berkas milik pasiennya dan Tuan muda baru tidur saat jam 5 pagi tadi." tutur Bik Nila.


"Ah, begitu. Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggunya bangun saja." gumam Thalia.


"Nona, ini bubur yang sudah saya siapkan. Mohon di makan ya. Karena saya ingin melanjutkan pekerjaan saya." ucap Bik Nila sambil meninggalkan kamar Thalia.


"Rasanya tidak begitu buruk." gumam Thalia saat menyuapkan satu sendok bubur masuk kedalam mulutnya dan akhirnya terus menyuapkan bubur itu sampai habis.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.