
Di sebuah ruangan nampak seorang pria yang tengah duduk santai di sebuah sofa. Ruangan itu di dominasi oleh warna monokrom yang membuat suasana di ruangan itu terasa cukup menyeramkan.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?" tanya pria itu kepada seseorang yang berdiri tidak jauh di depannya.
"Sepertinya, wanita itu sudah melakukan tugasnya dengan baik, Tuan." sahut pria itu.
Sedangkan pria yang tengah duduk itu kini tertawa bahagia saat mendengar jawaban dari anak buahnya. Ia lalu berdiri dan memberikan amplop yang di yakini berisi uang. Ia melemparkan amplop itu kepada seseorang yang ada di hadapannya.
"Kalau begitu, berikan amplop itu kepadanya. Anggap saja itu adalah bonus dariku, karena sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Dan untukmu, akan aku kirimkan langsung ke rekening pribadimu." ujar pria itu seraya memberikan kode, agar pria itu segera meninggalkan ruangannya.
Begitu anak buahnya pergi, ia lalu melangkah mendekati dinding kaca yang langsung mengarah pada pemandangan indah dari atas Apartemennya di malam hari.
"Permainan baru akan di mulai. Jadi, tunggu saja."
***
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan sampai saat ini Angga belum juga kembali di kamar. Ya, sejak mengantarkan makan malam untuk Thalia. Pria itu tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Dan selama satu jam terakhir Thalia hanya berbaring, tanpa ada niatan untuk menutup kedua matanya. Tubuhnya terasa lelah dan butuh istirahat, namun hatinya menolak untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Ya, mungkin itu karena Thalia yang sudah terbiasa tidur di samping Angga. Dan mungkin juga karena tubuhnya sudah terbiasa akan kehadiran Angga, hingga membuatnya menjadi kesulitan tertidur. Jika Angga tidak berada di dekatnya. Dan dengan perlahan, Thalia pun mencoba untuk bangkit dan turun dari arah ranjang. Ia lalu melangkah meninggalkan kamar menuju ke arah ruang kerja Angga.
Terlihat pintu ruang kerja Angga yang tertutup rapat, namun masih dapat Thalia lihat cahaya lampu yang terpancar dari dalam ruangan itu, dan dengan sedikit ragu Thalia mencoba untuk mengetuk pintu ruang kerja milik Angga itu. Namun, tiga centimeter sebelum kepalan tangannya itu menyentuh ganggang pintu itu, Thalia pun lebih memilih untuk menghentikannya.
Entah mengapa keraguan tiba - tiba saja datang pada dirinya. Ya, biasanya Thalia bisa langsung masuk kedalam ruang kerja Angga tanpa perlu mengetuk pintu lebih dulu. Namun, saat mengingat perseteruan yang terjadi baru - baru ini membuat Thalia berpikir jika Angga tidak akan menyukai keberadaannya.
Dan dengan berat hati Thalia melangkahkan kakinya meninggalkan pintu ruangan kerja Angga. Thalia merasa jika dirinya seperti pengecut karena tidak berani menghadapi Angga saat ini.
"Loh, Nona Thalia belum beristirahat?" sebelum Thalia memasuki ruangan pintu kamarnya, tiba - tiba Bik Nila datang dari arah yang berlawanan dengan membawa seprai yang sepertinya berasal dari kamar tamu.
"Aku merasa haus tadi," sahut Thalia yang berbohong kepada Bik Nila.
"Bik Nila, malam - malam begini kenapa membawa seprei ke arah kamar tamu?" tanya Thalia penasaran.
"Ah, tadi sore Tuan Angga meminta saya untuk mengganti seprai ke kamar tamu. Ya sudah Nona, kalau begitu saya kembali ke lantai satu dulu. Nona Thalia beristirahatlah, ini sudah hampir tengah malam dan tidak baik untuk wanita hamil jika terlalu sering begadang." jawab Bik Nila sambil memberikan nasehat pada Thalia.
Setelah itu Bik Nila melangkah ke arah tangga menuju ke lantai satu meninggalkan Thalia yang masih terpaku memikirkan perkataan Bik Nila. Dan pikiran negatif pun mulai kembali memenuhi otaknya. Thalia berpikir, jika Angga benar-benar tidak ingin berada di dekatnya lagi.
Dan dengan perasaan kecewa, Thalia kembali memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya itu dengan keras tanpa peduli jika orang - orang villa akan mendengar kerasnya suara benturan pintu itu.
***
Thalia pun mencoba untuk melupakan hal ini. Terlalu banyak memikirkan masalahnya dengan Angga hanya akan membuat dirinya bertambah stres dan dia juga takut akan hal ini yang menyebabkan kesehatan janinnya bisa terganggu. Maka dari itu, dia berencana untuk melakukan me time agar bisa mengembalikan moodnya yang terlanjur hancur.
Terkesan lari atau menghindar dari masalah memang, tapi Thalia lebih memilih untuk tidak peduli. Karena yang terpenting kesehatan dari janinnya yang paling utama saat ini.Jika Angga memilih untuk tidak memperdulikannya, lalu ia bisa apa?
"Nona Thalia, mau pergi kemana? Kenapa sudah rapi? Bukankah ini masih sangat pagi untuk Nona berpergian. Lagi pula Tuan Angga juga masih belum bangun." ucap Bik Nila saat melihat Thalia yang berada di anak tangga paling bawah dengan outfit yang terlihat rapi.
Ya, Bik Nila tentu saja sangat bingung saat memikirkan tingkah dari kekasih majikannya itu. Saat ini bahkan waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dan sarapan saja belum siap untuk di hidangkan, tetapi Thalia telah siap dengan semua perlengkapannya untuk melakukan me time.
"Bik Nila, aku hanya ingin pergi sebentar. Aku berniat untuk pergi menghibur diriku sendiri, Bibi. Terlalu banyak di villa membuatnya sedikit stres akhir - akhir ini." sahut Thalia.
"Lalu bagaimana, jika nantinya Tuan Angga mencari anda, Nona? Karena saya pasti akan bingung untuk menjawabnya." terlihat wajah Bik Nila menampilkan raut wajahnya yang panik.
Bagaimana pun juga Bik Nila telah di berikan tanggung jawab untuk menjaga Thalia selama Angga tengah pergi.
"Bik Nila, tenang saja. Lagi pula aku tidak akan pergi jauh - jauh kok. Aku hanya ingin pergi jalan - jalan di sekitar komplek ini saja. Baiklah, aku pergi dulu ya, Bik." Thalia bergegas melangkah keluar dari villa.
Thalia pun melangkahkan kakinya ke arah jalanan. Dan harus Thalia akui, ia berbohong kepada Bik Nila tentang ia yang akan melakukan me time tak jauh dari villa.Faktanya dari semalam ia sudah memesan taksi dan memintanya untuk menunggu sekitar lima puluh meter dari villa milik Angga berada.
Begitu melihat taksi yang telah ia pesan, telah terparkir tak jauh darinya, Thalia pun langsung melangkah memasuki taxi tesebut dan langsung meminta pada sang supir untuk mengantarkannya ke alamat yang telah ia beritahu semalam.
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....