Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Cinta Dan Obsesi



Di sekolah, Thalia bercanda gurau dengan teman - temannya untuk melupakan semua masalah yang sedang di alaminya. Apalagi jika dia mengingat perbuatan Kakak tirinya itu semalam. Sungguh membuat Thalia semakin kesal dan jijik pada Kakak tirinya itu.


"Thalia, gimana dengan keadaan tangan lo itu, apa udah baikan?" tanya Siska.


"Udah baik kok. Kamu bisa liat sendiri kan tangan gue sudah tidak di perban lagi." jawab Thalia.


"Iya juga sih. Lain kali, kalau kamu pulang gak ada yang jemput mending pulang bareng gue atau Nino. Jadi kejadian yang seperti kemarin gak bisa terulang lagi."


"Iya, Sis. Sekarang gue kalau pulang sekolah juga sama pak supir kalau Kak Keenan lagi sibuk di kantornya. Dan gue gak mungkin berani lagi kabur kaya kemarin."


"Oh ya, Thalia. Liburan minggu depan kita jalan - jalan yuk? Lo gak ada acara, kan?" tanya Siska lagi.


"Kalau aku gak ada acara, memangnya kamu mau ajak aku kemana?"


"Kita pergi ke pantai lah, kamu pasti suka."


"Ah, tapi aku gak yakin, Sis. Bisa liburan bareng sama lo."


"Loh, memangnya kenapa? Bukannya dulu lo itu suka banget ya kalau gue ajak liburan."


"Sekarang udah beda, Sis. Karena Kak Keenan langsung yang pegang kendali buat gue. Lo tau sendiri kan, bokap dan nyokap gue itu udah nyerahin sepenuhnya tanggung gue ke Kak Keenan."


"Jadi kamu khawatir kalau Kakak kamu itu gak bakalan kasih izin buat kamu."


Thalia mengangguk pelan. "Iya. Jangankan buat liburan, Sis. Buat ngumpul bareng aja gue udah gak di bolehin sama Kak Keenan. Kalau gue gak nurut sama dia pasti gue yang bakalan di marahin lagi. Dia keras banget, Sis gak kaya Papa."


"Wah, Kakak lo itu benar - benar gila ya Thalia. Padahal, sebelum dia pulang dari negara E lo itu bebas keluar masuk rumah. Tapi sekarang, lo itu gak bisa sebebas kaya dulu."


***


Keenan kini sedang menatap beberapa berkas yang ada di hadapannya. Dan sudah beberapa kali menghembuskan nafas kasar, karena banyaknya dokumen yang harus dia periksa.


Suara ketukan pintu terdengar, dan Keenan mengalihkan pandangannya sebentar ke arah pintu, kemudahan menginterupsi untuk masuk.


"Hai, Ken?" tanya Gilang dengan tersenyum manis ketika dia masuk kedalam ruangan kantor Keenan dan langsung duduk di hadapan Keenan.


"Ada apa kau kesini?" Keenan menyandarkan punggungnya di kursi dan tatapannya menatap dingin Gilang yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Apa kabar, Bro?" tanya Gilang yang mengabaikan pertanyaan dari Keenan.


"Antara baik dan tidak." jawab Keenan dengan tersenyum getir.


"Hah, maksudnya bagaimana? Kok antara baik dan tidak?" tanya Gilang sambil mengernyitkan dahinya bingung dengan ucapan sahabatnya itu.


"Baiknya itu karena aku masih waras dan bisa bekerja. Dan tidak baiknya aku sangat marah kepada Papaku sendiri." jawab Keenan yang mulai tampak kesal.


"Itu karena aku mencintai adik tiriku sendiri dan selama ini Papaku tahu kalau aku mencintai adik tiriku, dan Papaku menentang hubunganku dengan adik tiriku. Dan aku tidak mau berpisah dengannya, karena aku sangat mencintainya dan aku akan selalu memperjuangkannya." jawab Keenan.


"Wah, lo itu emang sudah gila. Pantas saja Ayah kamu marah sama kamu."


"Memang apa salahnya jika aku mencintai adik tiriku sendiri. Lagi pula kami tidak ada hubungan darah apapun. Dan aku sudah muak jika Papaku selalu mengatur perjodohan untukku" jawab Keenan.


"Gak ada salahnya juga. Tapi kamu kan sudah tinggal satu atap dengan adik tirimu cukup lama dan Ayahmu sudah menganggap anak tirinya itu sebagai anak kandungnya sendiri. Jadi, wajar saja kan kalau Ayahmu ingin mencarikan jodoh untukmu."


"Ya begitulah. Tapi aku itu tidak mau, mencari wanita lain selain adikku."


"Wah, sepertinya lo itu memang sudah tidak waras." ucap Gilang mengumpat Keenan. "Lalu? Bagaimana dengan adik tirimu sendiri? Apa dia juga memiliki perasaan yang sama sepertimu?"


"Tidak. Dia selalu menolakku dan tidak ingin memiliki hubungan percintaan denganku.Tapi aku akan selalu memaksanya agar dia bisa mencintaiku juga. Dan kau tahu Gilang, sudah sejak lama aku mencintainya dan hasratku selalu muncul jika berdekatan dengannya dan ingin segera memilikinya agar dia bisa menjadi milikku seutuhnya."


"Aku tidak percaya kalau lo itu sangat terobsesi dengan adik tirimu sendiri. Memangnya sudah tidak ada stok perempuan yang lainnya lagi, Ken? Dan kamu itu benar-benar sudah gila ya mau menikahi adikmu sendiri?" omel Gilang dengan kegilaan temannya itu.


"Kamu memang benar, perempuan di dunia ini sangat banyak. Tapi aku maunya sama adik tiriku karena hanya dia yang sudah berhasil membuatku tergila-gila seperti ini. Dan selama delapan tahun aku berpisah dengannya rasa cintaku padanya semakin besar dan aku ingin segera memilikinya."


Sedangkan Gilang hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengarkan penjelasan dari Keenan. Ya, pantas saja jika Ayahnya Keenan itu sangat marah pada anaknya sendiri karena sumber masalahnya itu berasal dari anaknya sendiri.


"Ken, menurutku di sini yang salah itu memang kamu dan bukan Ayah kamu. Masalahnya, jika kamu menjalin hubungan percintaan dengan adik kamu sendiri, itu akan membuat aib untuk keluarga. Lagi pula, orang lain juga mengiranya kalau Thalia adalah adik kandung kamu bukannya adik tiri kamu.Cobalah Ken, pikirkan baik - baik tindakanmu. Jika sampai kau menikah dengan Thalia aku yakin kedua orang tuamu juga akan sangat malu. Lebih baik kau menerima perjodohan dari Ayahmu atau kau bisa mencari perempuan lain saja."


"Aku tidak peduli. Karena yang aku mau hanya ingin bersama dengan Thalia bukannya dengan wanita lain. Apalagi harus bersama dengan wanita pilihan Papaku. Sampai kapanpun aku hanya akan mencintai Thalia"


"Dasar keras kepala. Begitu cintanya kau pada adik tirimu sendiri."


"Iya, dan mungkin saja aku sudah cinta buta dengan adikku. Yang paling penting aku hanya ingin membuat Thalia juga bisa mencintai diriku juga."


"Percuma saja aku menasihatimu karena sepertinya kau itu sudah benar - benar tidak waras. Cinta dan obsesi sudah menyatu di dalam dirimu untuk adik tirimu itu."


***


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.