
Thalia terbangun dari tidurnya, ketika ia merasakan mual yang tak tertahankan dan Thalia pun segera berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hoek... Hoek.. Hoek!'
Thalia terduduk lemas, keringat deras mengucur deras di pelipisnya. Ia merasa bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Mungkin karena beberapa waktu yang lalu dirinya sering itu sering begadang untuk belajar, sehingga membuat raganya melemah dan tumbang. Dan ia pun segera membersihkan diri, mengingat sebentar lagi jika dirinya harus berangkat ke sekolah.
Thalia memoles wajahnya yang terlihat pucat, ia sebenarnya merasa baik - baik saja. Badannya juga tidak demam, ia segera meminum vitamin untuk menjaga staminanya. Demi apapun, ia harus menjadi anak yang di banggakan keluarganya.
Thalia yang sudah rapi bergabung dengan kedua orangtuanya yang sudah duduk di ruang makan, mereka biasa melakukan sarapan bersama untuk menjaga keharmonisan keluarga.
"Thalia, Bunda membuat roti kukus kesukaan kamu. Rasanya sangat manis dan kamu bisa membawanya sebagai bekal ke sekolah, sayang."
Thalia segera mengambil roti kukus yang ada di piring saji. Namun, belum sempat Thalia menggigit roti kukus yang begitu menggoda, seketika rasa mual menguasai dirinya.
"Hoek... Hoek!" Thalia segera menutup mulutnya, ia juga meletakkan roti kukus itu kembali kedalam piringnya.
"Sayang, apa kamu sakit? Kalau sakit, kamu jangan pergi ke sekolah? Kamu istirahat saja!" Tristan dan Vina menatap Thalia dengan wajah yang khawatir.
"Bund, aku tidak apa - apa. Aku baik - baik saja!" Thalia berusaha untuk menenangkan kedua orang tuanya. Terlebih Tristan yang merasa bersalah padanya.
"Thalia, apa karena kemarin kamu sibuk belajar untuk mempersiapkan ujian kamu akhir nya sakit?" tanya Tristan.
"Pah, aku itu baik - baik saja." ucap Thalia dengan senyuman hangat.
"Lagi pula ujian kamu kan sudah selesai. Jadi jangan terlalu lelah dan sebentar lagi kamu juga kan akan lulus sekolah."
"Iya, Bund." ucap Thalia. " Papa, Bunda. Thalia berangkat ya?" ucap Thalia kepada kedua orang tuanya.
***
Pagi ini, Thalia datang ke sekolahnya lebih awal.
"Thalia," suara seorang perempuan memanggil nama Thalia dengan cukup keras, hingga membuat Thalia yang tengah berjalan, menoleh ke sumber suara.
"Siska? Kenapa kau ada di sini?" Thalia menautkan alisnya melihat Siska sudah duduk di samping pintu gerbang sekolah.
Siska membuang napas kasar. "Aku kesal dengan Ayahku. Aku habis bertengkar dengannya. Dia tetap memintaku untuk kuliah di negara J. Padahal, aku sudah mengatakan jika aku tidak ingin meninggalkan negara L. Kenapa dia sulit sekali mendengar perkataanku itu."
Thalia tersenyum. "Sudah, jangan di pikirkan. Kau bisa kembali berusaha untuk membujuk Ayahmu itu. Berikanlah sedikit waktu untuk Ayahmu itu. Aku yakin, dia akan mengerti kamu, Siska."
"Ya, kau benar." balas Siska. Kemudian dia menatap lekat Thalia. "Apa kau sedang sakit, Thalia? Kenapa kau terlihat sangat begitu pucat? Meskipun, kau sudah memoles wajah mu dengan make up seperti biasa tapi aku melihat kau terlihat tidak seperti biasanya."
"Mungkin aku hanya lelah. Karena kemarin aku terlalu sibuk mempersiapkan ujian. Tapi kau tidak usah khawatir, Siska." Thalia menjelaskan alasan dirinya terlihat begitu pucat.
"Aku juga sama sepertimu.Sudah lebih baik kita kelas."
"Thalia, tadi pagi aku memasak spaghetti. Aku sengaja membawakan untuk kamu. Ayo kita sarapan bersama." ucap Siska setelah sampai di dalam kelas, sambil mengeluarkan kotak bekal yang cukup besar dari tasnya. Namun, saat Siska membuka kotak bekal itu dirinya mulai merasakan mual yang begitu menyiksa.
"Hoek... Hoek... Hoek...!" Thalia pun langsung berlari ke arah toilet. Lagi - lagi dirinya kembali memuntahkan isi perutnya, ia bersandar di pintu toilet dengan tubuh lemas nya dan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia sungguh bingung, dirinya sakit apa sehingga harus mengalami mual? Apa perlu dia pergi ke dokter? Tapi ia rasa tubuhnya baik - baik saja. Namun, entah kenapa dirinya itu mudah mual dan merasa lebih cepat lelah.
"Thalia, kamu baik-baik saja, kan? Kamu terlihat sangat pucat." Ucap Siska yang terlihat begitu panik, melihat Thalia yang begitu sangat pucat.
"Thalia, kamu sudah sarapan atau belum?" Siska bertanya kepada Thalia yang tengah serius menatap ke layar handphonenya.
"Sudah, akhir - akhir ini sebenarnya aku mudah lelah!"
"Thalia, kalau kamu masih sakit. Mendingan kamu istirahat di UKS ya. Lagi pula sudah ada tidak ada mata pelajaran." ucap Siska. Dan Thalia pun menganggukkan kepalanya kemudian Siska menuntun Thalia ke UKS untuk beristirahat.
****
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Awalnya Siska ingin mengantar Thalia pulang kerumah karena masih khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Namun, Thalia meyakinkan kepada Siska bahwa dirinya sudah baik - baik saja. Dan kini, Thalia sedang menunggu jemputan dari sopir pribadi.
Namun, secara tiba - tiba ada seseorang yang mendatangi dirinya.
"Nona Thalia, ikutlah bersama dengan saya."
"Ada apa?" tanya Thalia.
"Yang terpenting Nona Thalia, ikut saya."
"Aku tidak mau." Tolak Thalia. Karena Thalia tahu jika laki - laki itu adalah Billy, asisten dari kakak tirinya.
"Tapi tuan muda tidak ingin mendengar kata penolakan, Nona. Jika Nona Thalia tidak mau ikut maka saya terpaksa harus membawa Nona." ucap Billy, kemudian langsung menarik paksa tangan Thalia.
"Apa yang kau lakukan. Lepaskan!"
"Menurut lah Nona." ucap Billy, kemudian langsung mendorong Thalia masuk kedalam mobil.
Dan tidak lama kemudian, akhirnya Thalia sudah sampai di rumah milik Keenan.Dan Billy pun pamitan undur diri setelah mengantarkan Thalia kerumah Keenan.
"Kak Keenan." lirih Thalia dengan bibir yang bergetar.
"Thalia, aku sangat merindukanmu. Kamu apa kabar, sayang?" tanya Keenan dengan penuh rasa canggung. Ada rindu jelas yang tergambar di netranya. Namun seakan dia masih ragu untuk memeluk dan mendekap adik tirinya yang sangat dia cintai itu.
"K- Kabarku baik, Kak." jawab Thalia dengan wajahnya yang tertunduk. Sebenarnya ia tidak baik - baik saja.
"Thalia, apa kamu tahu kalau Kakak itu sangat merindukanmu? Bahkan setiap malam Kakak selalu memimpikan mu. Kakak sangat berharap kalau kita akan dapat bersatu menjadi sepasang suami istri." lirih Keenan dengan mata berkaca-kaca. Ia menggenggam jari jemari Thalia yang tengah bergetar, Ya, Thalia kini begitu takut saat bertemu dengan Kakak tirinya lagi.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.