Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Masih Memiliki Belas Kasih



Konten dewasa, Harap bijak dalam membaca! untuk anak di bawah umur, harap menjauhi bab ini!!!


...******** ...


Detik itu pula langkah mereka terhenti di sebuah kamar di lantai dua belas. Dimana itu adalah kamar milik Keenan yang sudah Keenan pesan untuk menghabiskan malamnya dengan Thalia.


"Ayo masuk," ajaknya menarik kasar lengan Thalia agar mau masuk kedalam kamar hotel miliknya.


"Aku ingin pulang! Atau Kak Keenan bisa pesankan kamar untukku sendiri." tolak Thalia menyentak tangan Keenan.


Keenan terkekeh, ia menggelengkan kepalanya. "Tidur denganku atau aku memberitahu pada Bundamu kalau kau dan aku sudah bercinta dengan sangat..."


"CUKUP! Ya, aku mau tidur di sini tapi Kak Keenan jangan menyentuhku." ancam Thalia dengan tegas.


Keenan berdecih, ia langsung membuka tuxedonya dan berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan santai. Thalia mengamatinya lekat - lekat. Dan ya, Thalia masih takut jika Keenan tiba - tiba menerkamnya.


Thalia menghembuskan nafasnya pelan. Ia tersenyum tipis saat muncul ide di pikirannya. Thalia duduk di sofa dan pandangannya tidak lepas dari Keenan.


"Thalia kemarilah." panggil Keenan dengan nada memerintah.


Thalia langsung bersandar dan memejamkan kedua matanya, biar saja, ia berpura - pura tertidur. Keenan menoleh ke arah Thalia, ia langsung beringsut dan terkekeh.


Langkah Keenan kini kian mendekati Thalia. Laki - laki itu membungkukkan badannya di hadapan Thalia. Laki - laki itu mengusap pipinya dan mendekatkan wajahnya.


"Buka matamu, jangan pura - pura di hadapanku atau malam ini juga aku akan mengulangi kejadian.."


Thalia seketika membuka kedua matanya namun sedetik itu pula Thalia memekik saat Keenan menarik tengkuk lehernya dan mengecup bibirnya penuh puja.


Kedua tangan Thalia memukuli kepala Keenan dengan kuat. Ia terus memukulinya hingga Keenan menarik pinggangnya sampai Thalia bangkit dari duduknya tanpa melepaskan tautan bibir mereka meskipun Thalia menangis terisak.


Takut, ia sangat takut kejadian beberapa malam itu terulang kembali.Belum kering luka di hatinya, dan ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Kakak tirinya malam ini.


"Kamu tidak suka kalau Kakak melakukan ini?" tanyanya karena sedari Thalia tidak membalas pagutannya dan hanya memukuli dirinya.


Thalia lagi - lagi tersentak kaget saat merasakan sentuhan di sekitaran leher jenjangnya.


"Ah, biar aku coba di sini" gumam Keenan mengusap kulit leher Thalia. Bukan Keenan namanya jika tidak melakukan hal yang menggilakan.


Aroma tubuh Thalia begitu memabukkan. Membangkitkan sesuatu di bawah sana. Dia tidak menyangka bahwa dengan melakukan hal ini saja sudah sangat bergairah.Padahal, dia hanya menciumnya di sekitar leher Thalia. Dan ini hanya di awal belum sampai ke tahap intinya.


"Kak Keenan, lepas, Kak. Jangan lakukan itu. Aku ingin pulang, Kak." cicit Thalia saat tangan nakal Keenan mengusap pahanya yang terekspos. Thalia segera menahan tangan Keenan yang ingin masuk kedalam sana.


"Jangan berani menahan tangan Kakak, Thalia. Kamu itu seharusnya cukup diam saja dan menikmatinya saja." perintah Keenan.


"Aku mohon, jangan lakukan itu." rengek Thalia memelas, memasang wajah sedihnya yang kini mampu meruntuhkan pertahanan dari Keenan.


"Baiklah.." Keenan mengalah, tidak melanjutkan aksi bejatnya. Tapi tangannya masih berada di gaun Thalia dan beralih ke arah perut Thalia sambil mengusap perut rata gadis itu.


"Aku tidak ingin membahas tentang itu, Kak? Kumohon ijinkan aku untuk pulang?"


"Tapi Kakak butuh kepastian, tidak enak menunggu lama?"


"Kak, tolong ngertiin aku bisa?"


"Baiklah. Gini - gini Kakakmu ini sangat ngertiin kamu. Jadi, gimana kalau kita memulai lagi? Karena Kakak sudah tidak sabar lagi liat benih Kakak tumbuh dengan baik di sini," ujarnya masih mengusap perut Thalia dengan lembut tanpa henti.


Thalia memejamkan matanya mengingat ucapan dari Keenan yang di mengertinya. Namun kenapa dia masih memintanya. Sungguh Thalia kesal dan sayangnya dia tidak bisa menyuarakan isi hatinya.


"Ahh, Kak Keenan!" Teriak Thalia terkejut.


Begitu cepat terjadi bahkan tidak bisa di pungkiri, tubuh Thalia kini sudah terbaring di sofa. Tak lama setelah itu, Keenan berada ke atas tubuhnya dengan seringainya yang begitu menakutkan.


Thalia menahan napasnya saat Keenan mendekatkan wajahnya dan menyisakan jarak yang tidak lebih sekitaran tiga centimeter. Ya, jarak yang sangat dekat hingga seluruh hal tentang Keenan dapat di lihat dengan jelas olehnya. Sangat tampan, itulah yang di pikirkan oleh Thalia. Namun, bayangan apa yang terjadi padanya malam ini muncul dalam benak Thalia. Terlebih perkataan Kakak tirinya itu yang berkata akan mengulang kembali malam panas dengannya lagi membuat Thalia begitu gelisah dan ketakutan.


"Bagaimana, sayang apa kamu sudah siap?" tanya Keenan sekali lagi menyadarkan lamunannya. Ternyata laki - laki itu masih keras kepala dan egois.


"Bukannya Kak Keenan itu harus ngertiin aku? Kenapa masih nanya lagi?Seakan masih tidak mengerti aku. Aku masih sekolah, Kak dan aku masih belum siap." sungguh Thalia ingin segera melarikan diri dari tempat ini. Kamar hotel yang megah ini membuat Thalia seperti sedang berada di dalam kamar hantu.


Keenan tersenyum tipis, kembali mengecup bibir Thalia lalu ********** sebentar.


"Tapi kamu juga jangan salahkan Kakak kalau Kakak khilaf." ujar Keenan dan kini bangkit dari posisinya yang menindihi tubuh Thalia.


Keenan tersenyum samar kala melihat wajah Thalia yang terlihat tampak semakin takut dan gugup. Dan hal yang membuat Keenan tampak senang dan puas adalah saat melihat wajah pucat Thalia yang begitu takut. Ya, sepasang mata Thalia begitu terpancar kecemasan yang mendalam.


"Kau takut dengan apa yang akan terjadi malam ini, Thalia?" Keenan menarik dagu Thalia, menatap iris mata coklat gadis itu lekat. "Beritahu apa yang sedang kau takutkan?" tanyanya lagi dengan nada rendah yang membuat Thalia merinding setelah mendengarnya.


"Kak Keenan,aku-" belum sempat Thalia menyelesaikan ucapannya. Dia terkejut saat Keenan menarik tubuhnya dan langsung membalikkan tubuhnya mematut pantulan cermin. Napas Thalia tercekat kala Keenan berada di belakangnya. Kini mereka sama - sama menatap pantulan cermin. Jika Thalia yang begitu gugup dan takut berbeda lagi dengan Keenan yang mengukir seringai kejam di wajahnya.


"Thalia-" Keenan mendekatkan bibirnya ke belakang daun telinga gadis itu. "Aku tahu, imajinasi yang ada pikiranmu saat ini. Tapi kau tidak perlu khawatir. Malam ini aku masih memiliki belas kasih padamu."


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.