Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Cerita Masa Lalu



Thalia pun sepertinya sudah mulai paham, kemana arah pembicaraan dari Angga.


"Apa Tante Abella sebenarnya menginginkan seorang anak perempuan?" tanya Thalia berhati - hati sambil menatap lekat wajah Angga.


"Terdengar konyol, tapi seperti itulah faktanya. Papa sama sekali tidak pernah mempermasalahkan tentang itu, tapi Mama lah yang selalu terobsesi akan hal itu. Sejak dulu, ia selalu mengutamakan dan mengunggulkan Kak Logan dari pada aku.Kau tahu, dulu aku selalu bekerja keras agar setidaknya dapat menarik sedikit perhatian dari Mamaku. Namun sepertinya usaha yang tengah aku lakukan berkahir dengan sia - sia. Hingga akhirnya aku memilih untuk menyerah, dan mulai melakukan hal yang seperti aku inginkan, bukan seperti yang Mamaku inginkan."


Dapat Thalia lihat, senyum getir kini terpampang di wajah tampannya Angga. Dan Thalia benar - benar tidak menyukainya.Karena Thalia lebih suka jika Angga menampilkan wajahnya yang tengah tersenyum manis dari pada wajah yang tengah tersenyum getir seperti ini.


"Lalu? Bagaimana dengan Kak Logan?" tanya Thalia ingin tahu.


"Ah, Kak Logan. Dia sejak dulu adalah sosok yang begitu cuek, bahkan dengan keluarganya sendiri. Dia seperti seseorang yang tidak tertarik dengan orang - orang yang ada di sekelilingnya, karena yang ia pedulikan hanyalah dirinya sendiri," balas Angga.


Thalia sedikit bingung saat mendengarkan penjelasan dari Angga ini. Bagaimana bisa seseorang tidak memperdulikan lingkungan sekitar terkecuali dirinya sendiri.


"Bukankah dia sangat peduli denganmu? Mengingat Kak Logan itu sangat membantumu? Ya, contohnya saat Kak Logan tengah menolong diriku." tutur Thalia.


"Hubungan kami memang baru membaik setahun belakangan ini. Namun sebelum itu, kami berdua lebih tampak seperti seorang yang asing yang tidak saling mengenal. Tapi entah mengapa setahun ini Kak Logan mulai mendekatkan dirinya kepada diriku." jelas Angga.


Sedangkan Thalia yang nampaknya belum puas mendengar semua jawaban dari Angga pun berusaha untuk kembali menggali lebih jauh tentang masa lalu dari Angga.


"Lalu bagaimana dengan Papamu? Apa dia juga bersikap sama seperti Tante Abella?" tanya Thalia yang masih penasaran.


"Tidak. Walaupun Papaku bukanlah sosok yang bisa dengan mudah menunjukkan perasaannya, tapi aku bisa merasakan jika Papaku itu sangat menyayangiku. Entahlah, sebenarnya aku juga tidak begitu tahu. Tapi aku selalu merasa jika Papa itu jauh lebih memperhatikanku dari pada memperhatikan Kak Logan." jelas Angga.


Thalia menganggukkan kepalanya seakan paham dengan semua yang telah Angga sampaikan.


Sudah beberapa menit berlalu, namun Angga masih belum melanjutkan ceritanya kembali. Baru saja Thalia ingin melontarkan kembali pertanyaan, namun semua itu harus terpotong akibat dari Angga yang sudah lebih dulu memberikan pertanyaan kepada Thalia.


"Sekarang gantian. Ceritakan semua kisah masa lalumu. Aku juga ingin mendengar ceritamu, sayang." pinta Angga pada Thalia.


Thalia mengalihkan pandangannya sejenak. Ia pun bingung mau menceritakannya darimana. Terlalu panjang dan rumit masa lalunya. Ia takut, jika Angga nantinya tidak akan paham dengan cerita yang akan dia sampaikan.


"Sebenarnya aku bingung harus menceritakannya mulai dari mana. Tapi akan aku usahakan untuk menceritakan semuanya dari awal saja, semoga saja kau paham ya," ujar Thalia sambil tersenyum manis. "Seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu saat itu. Jika Ayah kandungku sudah meninggal dunia karena menjadi korban tabrak lari, dari seorang pengemudi yang membawa mobilnya dalam keadaan mabuk. Ya, jadi bisa dibilang aku telah menjadi seorang anak yatim sejak aku berusia lima tahun." lanjut Thalia memberikan penjelasan pada Angga.


Thalia mengeratkan tangannya yang berada di dalam genggaman Angga. Menceritakan masa lalu bagi Thalia seperti membuka kembali luka lamanya. Dan Angga yang paham dengan gelagat dari Thalia, mengusap punggung tangan wanita kesayangannya itu.


"Seingat ku, saat itu tidak ada satupun kerabat yang mau mengurusku dan Bundaku setelah kematian Ayahku. Hingga akhirnya Bunda bertemu dengan Papa Tristan dan pada akhirnya Bundaku menikah dengannya." tutur Thalia.


Thalia masih belum menyelesaikan ceritanya, tapi Angga sudah membawanya kedalam rengkuhannya. Dengan hati - hati Angga mengelus puncak kepala Thalia dengan sangat lembut.


"Awalnya banyak sekali yang menyuarakan penolakan mereka terhadapku dan juga Bundaku. Namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai menerima kehadiran diriku dan Bundaku. Ya, walaupun aku masih di perlakukan dengan beda dengan anggota keluarga Alexander yang asli. Tapi aku merasa sangat bersyukur, mereka mulai membuka hatinya untuk diriku." jelas Thalia.


Angga mulai mencerna semua informasi dalam cerita yang telah di sampaikan oleh Thalia. Hingga satu pertanyaan tiba - tiba saja muncul dari benaknya.


"Sejak kapan Keenan mulai terobsesi denganmu?" tanya Angga yang penasaran.


Terlihat Thalia menghela nafasnya sejenak. "Aku tidak tahu pasti kapan, tapi Kak Keenan mulai menunjukkan gejala - gejala itu sejak kepulangannya dari luar negeri."


"Jadi? Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi kepadaku?" tanya balik Thalia.


"Tidak, sepertinya ini sudah cukup. Terima kasih, karena sudah mau menceritakan kisah pahit masa lalumu. Maafkan aku jika aku malah membuka luka lamamu kembali." sesal Angga.


"Tak apa, aku tidak masalah. Lagi pula itu hanyalah kisah masa lalu. Tanpa adanya masa lalu, mana mungkin akan ada diriku yang saat ini," sahut Thalia dengan senyuman manis yang tersungging apik di wajahnya.


Thalia lalu mengangkat sebelah tangan Angga dan langsung menempelkannya pada pipi tembam nya. Ia dengan sengaja menggesek - gesekan pipinya pada telapak tangannya Angga.


"Apa kau akan meninggalkan aku setelah mengetahui masa laluku?" tanya Thalia dengan penasaran.


Dengan cepat Angga langsung menggelengkan kepalanya. "Mana mungkin aku meninggalkanmu hanya karena mengetahui kisah masa lalumu. Aku tak sejahat itu. Lagi pula yang seharusnya takut itu aku. Aku takut jika suatu nanti kau itu akan pergi jauh dariku. Kumohon jangan pernah tinggalkan aku. Aku tidak tahu harus apa, jika tanpa sosokmu di sisiku," lirih Angga.


Thalia mengangkat telapak tangan kanannya dan langsung mengacungkan jari kelingkingnya. Angga yang paham dengan maksud dari Thalia pun kemudian ikut mengangkat tangannya yang masih berada di pipi Thalia dan langsung menautkan jari kelingking mereka.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan kau bisa pegang janjiku ini, Angga." ucap Thalia mengucapkan janjinya kepada Angga.


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....