
Thalia menatap benci ke arah Keenan, laki - laki dengan tubuhnya yang shirtless dan balutan celana bahan hitam yang ia pakai saat ini.
Pandangan Thalia terus menatapnya saat Keenan membuka lemarinya dan memberikan gaun baru untuknya saat ini.
"Pakai ini, aku akan mengantarkan mu pulang dan bilang pada Bundamu kalau setelah lulus sekolah nanti kau akan langsung menikah denganku." serunya terdengar serius.
"No, Kak Keenan! Aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun." Tolak Thalia cepat.
Kali ini Keenan tidak membalas ucapan dari Thalia. Karena dia terlalu malas berdebat dengan adiknya itu. Ia pun memilih untuk berjalan masuk kedalam kamar mandinya dan menutup pintunya kasar.
Thalia menoleh ke arah pintu itu dan buru - buru memakai bajunya yang semula berantakan dan meraih tasnya.
Sesakit apapun ia sekarang. Ia harus segera pulang, tanpa perlu menunggu Keenan yang mengantarkannya.
Thalia berjalan cepat keluar dari sana dan ia sudah memesan taksi saat ini. Begitu ia sudah keluar dari Apartemen milik Kakaknya, dan ia pun langsung masuk kedalam taksi dan menangis di dalam mobil taksi itu sepuas - sepuasnya.
***
"Pa, Bunda waktu itu pernah menemukan cincin berlian di kamar Thalia dan cincin itu ada ukiran nama Keenan. Dan Bunda rasa, sepertinya Keenan itu sudah menyukai seorang gadis. Apa mungkin Keenan menyukai salah satu teman Thalia, ya?"
Tristan mengusap wajahnya kasar, ia pun tidak mungkin menjawab hal yang sebenarnya terjadi pada putri tirinya itu pada istrinya.
"Mungkin iya, Bund." jawab Tristan. "Lalu dimana Thalia, Bund?" tanya Tristan menatap istrinya.
"Ah, Thalia. Kemarin Keenan memberitahuku kalau dia membawa Thalia ke Apartemennya. Dan aku pun mengijinkannya. Lagi pula hari ini kan weekend, mungkin saja Keenan mau mengajak Thalia jalan - jalan. Bunda ingin melihat agar Thalia bisa segera akrab dengan Keenan, Pa. Dan juga, Thalia kan belum pernah berpacaran, semoga dengan lebih dekatnya Thalia dengan Keenan, dia bisa menjadi lebih dewasa lagi." ujar Vina dengan senyuman di bibirnya.
Kedua orang itu menoleh ke arah pintu yang terbuka dan ia menatap sosok Thalia yang berdiri di sana.
Jelas sekali kalau Vina ingin sekali menginterogasi putrinya saat ini. Tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah sendu dari putrinya yang lemas dan lesu tertunduk pandangannya.
"Sayang, are you oke baby?" tanya Vina yang kini menatap ke arah putrinya yang kini langsung berlari ke arah Thalia.
"Yes, I am okay Bund." jawabnya lirih.
Setelah menjawab ucapan dari Ibunya. Thalia pun langsung menutup pintu kamarnya, ia terduduk di bawah pintu kamarnya saat ini. Sakit sekali. Dan ya, untuk berjalan saja kedua kakinya terasa gemetar. Keenan sangat menyeramkan, Thalia ingin sekali menghabisi Kakak tirinya saat ini.
Dan dengan cepat Thalia langsung masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan tangisannya terisak - Isak
"Akhh! Aku sangat benci Kak Keenan! AKU BENCI!" Teriaknya keras - keras.
Thalia memukuli lantai kamar mandinya untuk meluapkan semua emosi yang menampung di dalam pikirannya saat ini. Ya, Thalia muak dan mengutuk perbuatan laknat Kakak tirinya itu.Dirinya larut dalam kesedihan di bawah guyuran air shower yang kini mengalir deras di sekujur tubuhnya. Thalia juga tidak merasakan kedinginan saat dirinya terpaku cukup lama di sana. Ingin sekali rasanya Thalia mengakhiri hidupnya yang begitu suram dan menyakitkan ini. Dan kini tangannya mulai beralih menggosok - gosok seluruh permukaan kulitnya sampai memerah karena ia tidak sudi membiarkan bekas - bekas percintaan kemarin malam masih ada yang tertinggal di sana. Rasa perih yang mendera seakan tidak ia hiraukan.
"Aku sudah sangat kotor. Aku benci diriku sendiri." rancau Thalia berulang - berulang.
Beberapa menit berlalu, nampak Ibunya kini masuk kedalam kamar Thalia. Dan ya, wanita itu ingin bertanya - tanya tentang putrinya. Namun, saat Ibunya itu masuk kedalam kamar dia melihat putrinya sudah tidur.
"Apa yang dia pukul? Biasanya Thalia tidak pernah begini?"
Vina menggeleng - gelengkan kepalanya menepis pikiran buruknya. Kemudian dia pun keluar dari kamar Thalia tidak ingin menganggu tidur nyenyak putrinya.
***
Langit sudah berwarna orange menandakan bahwa matahari akan segera tenggelam. Thalia yang merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Namun, Thalia tiba - tiba teringat dengan Axel. Sudah dua hari Tahlia tidak bertemu dengan Axel. Biasanya saat jam istirahat Axel akan menemuinya dan mengajaknya pergi ke kantin atau menjemputnya ke sekolah.
Thalia ingin sekali menghubungi Axel. Karena dia sangat merindukan laki - laki itu. Tapi Thalia tidak memiliki nomor kontak Axel. Bukan hanya kontak Axel saja melainkan semua kontak yang ada di ponselnya terhapus dan tentunya semua itu adalah perbuatan dari Kakak tirinya. Sungguh, Kakak tirinya itu sangat berniat sekali memisahkan dirinya dengan Axel.
Thalia menghela napasnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Untuk menemui Ayahnya dan bertanya tentang keberadaan Axel yang sudah dua hari tak terlihat di sekolah. Saat Thalia hendak berjalan keluar dari kamarnya. Tiba - tiba, pintu kamar Thalia terbuka dan nampak Ibunya yang masuk kedalam kamarnya dan berjalan mendekatinya dan tersenyum manis seperti biasa.
"Sore, Bund." sapa Thalia dengan manis.
Vina hanya diam dan wanita itu meletakkan jus Alpukat di atas meja kamar Thalia kemudian dia berkata, "Bagaimana keadaan mu?"
"Ah, aku sudah baikan, Bund." jawab Thalia pelan.
"Kau yakin?" Vina menghampiri Thalia, memegang kedua bahu putrinya itu. "Kalau kamu masih tidak enak badan, kamu istirahat saja. Nanti Bunda bawakan makanan ke kamar kamu?"
"Aku sudah baik - baik saja, Bund."
"Thalia, jika kamu ada masalah. Kamu boleh cerita sama Bunda, sayang?"
"Kenapa Bunda tiba - tiba bertanya seperti itu?" tanya Thalia cemas, Apakah Ibunya sudah mengetahui bahwa dirinya sudah ternoda oleh Keenan.
"Sayang, tadi saat kamu tidur Bunda melihat luka di tangan kamu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu? Dan beberapa hari Bunda lihat kamu terlihat berbeda tidak ceria seperti biasanya? Katakan pada Bunda kamu ada masalah apa?"
"Ah, maksud Bunda luka ini?" Ucap Thalia menunjukkan luka di tangannya. "Kemarin Thalia jatuh, Bund. Saat olahraga di sekolah. Dan Thalia tidak memilki masalah apapun kok. Mungkin Thalia sedang di pusingkan dengan jadwal ujian sekolah yang sebentar lagi akan dilaksanakan." lanjutnya memberitahu.
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.