
Sudah empat hari sejak Thalia mengetahui kehamilannya dan sejak itu pula, Thalia lebih memilih untuk berdiam diri di kamarnya. Letak kamarnya saat ini telah berubah. Dari yang awalnya berada di lantai satu, kini berada di lantai dua bersebelahan dengan kamar Angga.
Hal ini di lakukan oleh Angga agar ia dapat memantau Thalia jauh lebih mudah. Mengingat kondisi psikis Thalia yang sangat terguncang dan tak menutup kemungkinan Thalia akan melakukan hal yang nekat yang dapat melukai dirinya.
Maka dari itu, sebagai seorang psikolog. Angga harus mencegah terjadinya hal - hal yang tidak di harapkan itu.
"Thalia, makanlah. Kau juga butuh nutrisi untuk dirimu dan juga anakmu. Ingatlah, sekarang kau tak sendiri." ucap Angga sambil menyuapkan makanan ke mulut Thalia.
Thalia sepertinya tak mengindahkan Angga. Ia masih diam pada posisi awalnya yang sedang duduk di balkon kamarnya. Ia melihat pemandangan yang begitu memanjakan mata di sana, dengan tatapannya yang terlihat kosong.
"Ayolah, Thalia. Makanlah, walau itu hanya lima sendok saja. Ku mohon, dan aku berjanji akan mengajakmu ke kebun bunga dan kebun strawberry di dekat sini setelah keadaanmu semakin membaik." bujuk Angga kepada Thalia.
Dengan pelan, Angga mencoba kembali menyuapkan makanannya kepada Thalia dan ternyata Thalia mau membuka mulutnya walaupun tak begitu lebar. Dan dengan sabar, Angga terus menyuapi Thalia sampai makanan di piring Thalia habis.
"Ini, makanlah obat ini. Aku mendapatkannya dari temanku yang bekerja sebagai dokter kandungan. Dia bilang, obat ini sangat baik untuk menjaga kesehatan kandunganmu, Thalia." tutur Angga sambil memberikan dua pil obat dan segelas susu ibu hamil untuk Thalia.
Sembari Thalia memakan obatnya. Angga terus memberikan Thalia usapan di puncak kepalanya. Hal ini di maksudkan untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada Thalia.
"Baiklah, setelah ini beristirahatlah. Aku akan kembali ke ruang kerjaku. Jika butuh apa - apa katakan saja pada Bik Nila atau kau bisa katakan langsung padaku." ujar Angga sambil meninggalkan kamar itu. Tanpa tahu kemana tatapan Thalia tertuju.
***
Dua anak kecil sedang bermain di tengah padang rumput yang hijau. Mereka tengah berlarian dan sedang berkejar-kejaran dengan senyuman yang mengembang. Thalia menatap kedua anak itu penuh dengan kelembutan.
"Mommy!" Teriak mereka serempak sambil berlari ke arah Thalia. Mereka memeluk kaki gadis itu dengan sangat erat. Dua anak laki - laki yang begitu menggemaskan tengah menatap lekat ke arah Thalia dengan penuh kerinduan.
"K-kalian siapa? A-Aku bukan Ibumu?!" Thalia berusaha untuk melepaskan pelukan mereka. Ia berlari dan menjauh dari dua anak laki - laki yang berusaha mengejarnya.
"Tidak! Mommy... Mommy!" Teriak mereka dengan wajah sedihnya. Dan Thalia berlari semakin menjauh, namun suara itu semakin memekakkan telinga. Ia berusaha menutupnya sekuat tenaga. Lagi - lagi suara itu terus menggema.
"Tidaaaak!!"
Thalia terbangun dengan napasnya yang terengah-engah dan kini tubuhnya sudah di banjiri oleh keringat dingin. Ia merasakan mimpi itu seperti kejadian yang nyata. Bahkan tubuhnya terasa sangat lelah seperti baru saja sedangkan melakukan lari maraton. Ia kemudian turun dari ranjang dan mengambil air minum yang ada di samping tempat tidurnya untuk menghilangkan dahaga dan rasa sakit di tenggorokannya. Thalia termenung, karena ia masih memikirkan mimpinya, siapa anak - anak itu? Mengapa mereka memanggilnya dengan sebutan Mommy? Apa anak itu ada hubungannya dengan dirinya? Ia pun kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan berusaha untuk melupakan mimpi yang baru saja di alami olehnya.
"Thalia, mimpi itu hanyalah adalah bunga tidur. Jadi, tidak ada kaitannya dengan kehidupanmu. Ayo lupakan dan jangan pikirkan!" Ucap Thalia untuk menenangkan hatinya.
***
Hari mulai berubah menjadi gelap, menandakan adanya pergantian tugas antara sang mentari dan rembulan. Dan saat ini, Thalia sedang berdiri di dekat kolam renang yang berada tidak jauh dari balkon kamarnya.
"Hanya lima menit saja, bukan? Dan semuanya akan benar-benar berakhir," guma Thalia seraya melihat ke arah air kolam renang itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bunda, Papa. Maafkan Thalia, ya. Maaf karena telah mengecewakan kalian, maaf karena telah gagal membanggakan kalian dan juga maaf, jika Thalia akan memilih jalan yang salah. Thalia benar - benar sudah tidak kuat menahannya." gumam Thalia dengan air matanya yang telah membasahi wajah pucatnya.
Dengan perlahan, Thalia menutup kedua matanya dan melanjutkan langkahnya yang membuatnya langsung jatuh sepenuhnya kedalam kolam renang itu.
Byuurr.
"Astaga, Nona Thalia!" Teriak Bik Nila dari atas balkon kamar Thalia.
Bik Nila yang saat itu sedang menata pakaian milik Thalia, tiba - tiba mendengar sesuatu yang terjatuh ke kolam. Bik Nila yang merasa curiga, memutuskan untuk menengoknya ke arah kolam renang itu dari atas balkon kamar Thalia.
Ia langsung terkejut saat melihat tubuh Thalia yang tenggelam di kolam dan dengan spontan ia berteriak dan langsung berlari menuju ke ruang kerja milik Angga.
"Tuan muda, Nona Thalia tenggelam di kolam renang! Cepat tolong Nona Thalia, Tuan!" Teriak Bik Nila dengan tangannya yang terus menggedor - gedor pintu ruang kerja Tuan mudanya itu.
Angga yang mendengar teriakan Bik Nila, langsung membuka pintu itu dan langsung berlari menuju ke arah kolam renang itu. Saat sampai di sana, Angga sangat terkejut saat melihat Thalia yang nampak sudah tidak bergerak di dasar kolam renang itu.
Dan tanpa berbasa-basi lagi. Angga langsung menceburkan dirinya ke kolam renang dan langsung menarik tubuh Thalia hingga ketepian kolam dalam keadaan yang sudah tidak sadarkan diri.
Angga langsung memeriksa denyut nadi Thalia yang berdenyut dengan pelan. Dengan pelan, ia langsung menjepit hidung Thalia dan langsung memberikannya nafas buatan. Sesekali, Angga juga menekan beberapa kali pada diafragma Thalia agar air yang masuk dapat keluar.
Uhukk... Uhukk...
Thalia terbatuk dan langsung memuntahkan air yang ada di dalam tubuhnya. Dan perlahan-lahan kesadarannya pun mulai kembali, dan perlahan kedua kelopak matanya mulai terbuka.
Sedangkan Angga yang melihat Thalia sudah mulai sadarkan diri. Langsung membawa Thalia kedalam pelukannya. Ya, Angga memeluk Thalia dengan sangat erat, sembari terus menggumamkan rasa kata syukur. Pikirannya benar - benar kalut, saat melihat Thalia tidak sadarkan diri tadi. Angga berpikir akan kehilangan gadis di pelukannya itu.
"Aku benar-benar takut kehilanganmu, Thalia." ucap Angga. "Please don't leave me." lirih Angga berbisik di telinga Thalia.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....