
Saat ini, Thalia tegah berada di pangkuan Angga dengan posisi tubuh yang menghadap ke arah pria itu. Terlihat kepala Thalia yang sedang bersandar di bahu Angga, dengan kedua tangannya memeluk erat pinggang pria yang ada di hadapannya. Dan kini, baju mereka juga telah berganti dengan pakaian hangat.
"Kenapa kau menolongku." gumam Thalia.
"Karena aku tidak ingin kehilanganmu, Thalia." lirih Angga dengan sesekali mengecup rambut Thalia dengan sayang.
"Sekarang aku yang akan bertanya, kenapa kau nekat sekali melakukan aksi seperti itu." tanya Angga mengeratkan pelukannya pada pinggang Thalia.
Thalia terdiam mendengar pertanyaan dari Angga. Ia bingung harus menjawabnya dengan apa. Karena pada dasarnya juga ia tidak pernah berpikir untuk melakukan hal seperti itu. Ia hanya mengikuti kata hatinya saja untuk melompat pada kolam renang itu.
"Hanya ingin," sahut Thalia yang mendapatkan kekehan pelan dari Angga.
"Jangan lakukan lagi, kau benar-benar membuatku ketakutan tadi." gumam Angga yang membuat Thalia langsung mengangkat kepalanya dari bahu Angga.
Thalia menatap dalam mata Angga, ada sesuatu hal yang ingin dia utarakan tapi akhirnya tak terjadi karena tiba - tiba keraguan datang padanya. Angga yang paham dengan gelagat Thalia, langsung menangkup wajah Thalia dengan kedua tangannya.
"Katakan saja, jika ada yang ingin kau sampaikan padaku." ujar Angga kepada Thalia.
"Bukankah kau seorang psikolog? Tentunya kau punya banyak kenalan dokter, bukan?" tanya Thalia yang membuat Angga mengernyitkan wajahnya bingung.
"Memangnya kenapa?"
"Tolong bantu aku untuk menyingkirkan anak ini dariku." tutur Thalia yang membuat Angga sangat terkejut.
Angga benar - benar tak habis pikir dengan penuturan Thalia. Bisa - bisanya Thalia berpikir untuk membuang anaknya yang tak berdosa itu. Walaupun memang anak itu tidak di inginkan, tapi tetap saja itu adalah darah dagingnya sendiri.
"Aku tak akan membantumu. Apa kau telah kehilangan akal sehatmu, Thalia? Dia hanya anak yang tidak tahu apa - apa. Tidak sepantasnya kau mengambil tindakan yang seperti itu." ujar Angga dengan menahan emosinya.
Thalia yang sadar permintaannya telah di tolak, langsung bangkit dari pangkuan Angga dan langsung berdiri di hadapannya.
"Ya, kau benar! Aku memang telah kehilangan kewarasanku karena adanya anak ini! Kau tahu, hidupku yang sudah berantakan menjadi semakin hancur berkat kehadirannya!" Teriak Thalia yang mulai terisak sembari menunjuk - nunjuk perutnya yang masih rata.
"Tapi bukan berarti kau dengan mudah ingin menyingkirkannya, Thalia!" Ujar Angga yang mulai menaikkan nada bicaranya.
Angga menghela nafasnya kasar. Ia kemudian merengkuh Thalia kembali kedalam pelukannya dan ia berusaha menenangkan Thalia yang masih terisak dengan cukup keras.
"Tenanglah, aku akan memikirkan cara yang lain. Sekarang tidurlah. Aku akan membawamu kedalam kamarku. Mulai sekarang, kau akan tidur bersamaku. Apa kau paham?" ucap Angga yang tidak mendapatkan respon apapun dari Thalia.
****
Malam harinya Angga memilih tidur bersama dengan Thalia. Hal ini, karena kondisi psikis Thalia yang sedang tidak stabil. Di takutkan nantinya, Thalia akan berbuat hal yang lebih nekad dari apa yang ia lakukan tadi sore.
Dan dalam tidurnya, Angga mencoba untuk meraba - raba kasur di sebelahnya. Namun, ia tidak mendapati apapun di sana. Tempat yang harus di tempati oleh Thalia, terlihat kosong.
Angga pun langsung membuka matanya dan mengedarkannya ke samping tempat tidurnya. Dan benar saja, ia tidak mendapatkan eksistensi Thalia ada di sana. Angga kemudian melihat jam yang berada di atas nakas telah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Baru saja ia ingin melangkah keluar ke arah kamarnya. Ia mendengar suara isakan suara perempuan dari arah kamar mandinya.Karena penasaran, ia mendekat ke arah kamar mandi tersebut dan mulai membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan.
Begitu pintu kamar mandi di buka, suara isakan tangis di sertai suara air mengalir yang terdengar semakin jelas. Angga langsung memasuki kamar mandi itu, dan mendapati Thalia tengah memukuli perutnya dengan air shower yang mengguyur sekujur tubuhnya.
"Berhentilah menyiksaku. Dasar anak tidak tahu diri!" Geram Thalia sambil terus memukul - mukuli perutnya dengan kencang.
"Apa yang kau lakukan! Berhenti menyiksa dirimu seperti itu, Thalia!" Teriak Angga yang kalang kabut.
Angga yang panik melihat tingkah Thalia, langsung menghentikan tindakan gila yang di lakukan wanita itu. Dan ia pun langsung mematikan shower itu, dan membawa Thalia untuk duduk di closet yang ada di hadapannya.
"Ada apa lagi, Thalia? Kenapa kau semakin berbuat nekat,Hah?!"
"Anak ini benar - benar menyebalkan. Dia terus menerus menyiksa diriku saja. Aku sudah sangat lelah, tapi ia terus memaksaku untuk mengeluarkan isi perutku yang memang telah kosong. Aku ingin menyerah." Terdengar suara isakan Thalia yang semakin keras.
"Jangan sakiti anak tak berdosa itu, Thalia! Bagaimana pun juga, anakmu itu adalah darah dagingmu juga. Dan dia akan sedih jika Ibunya sendiri tidak menginginkannya," ucap Angga dengan pelan.
"Aku tidak perduli!" Teriak Thalia.
"Aku malah akan sangat bersyukur jika anak ini mati.Lagi pula anak ini adalah anak yang tidak di inginkan dan anak yang akan lahir tanpa Ayah. Selamanya akan tetap seperti itu." sambung Thalia yang semakin mengencangkan isakan tangisnya.
"Baiklah, kalau begitu. Mulai hari ini anak yang ada di kandunganmu itu adalah anakku.Aku yang akan bertanggung jawab atas dirimu dan juga anak yang ada di kandunganmu itu. Apa kau paham." sahut Angga mencoba untuk menenangkan Thalia.
Thalia langsung memberontak dari pelukan Angga begitu mendengar penuturan lelaki itu. Ia tahu, Angga mengatakan hal itu hanya karena rasa kasihan terhadapnya. Lagi pula, Thalia juga tidak ingin jika Angga akan mengorbankan masa depannya hanya untuk membantu Thalia.
"Hentikan kata - katamu. Aku benar-benar tidak ingin mendengarnya! Dan berhentilah membual, kau itu pasti hanya merasa kasihan saja padaku. Jadi, aku mohon berhentilah untuk mempermainkan hatiku." ujar Thalia.
"Aku tidak pernah bermain - main dengan perkataanku, Thalia. Karena semua yang aku katakan adalah kebenaran. Aku akan bertanggung jawab atas anak itu. Aku melakukan ini karena aku menyayangimu " tutur Angga sambil mengaitkan tangannya dengan tangan Thalia.
"Hentikan omong kosong mu itu! Aku benar-benar lelah saat ini!" Pinta Thalia yang masih terisak.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....