Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Ketahuan Keenan



Thalia memilih untuk diam saja tak menanggapi ucapan Mario.


"Thalia kau tahu? Aku paling tidak suka jika tak di tanggapi saat sedang berbicara!"


"Baik, maafkan saya." ucap Thalia mencoba menyadarkan kembali dirinya.


"Dan sudah aku katakan, jangan bersikap formal. Lagi pula akting kamu sudah selesai tadi."


"Baik, Om" kata Thalia.


"Uhukk. Kau pikir aku om - om?!" Ucap Mario kesal.


Melihat Mario yang tersedak, sebenarnya Thalia ingin tertawa namun ia tahan - tahan.


"Eh, maaf. Karena tadi ada kesan suara om - om yang-" Thalia tak melanjutkan ucapannya sebab saat itu ada beberapa pelayan yang datang mengantarkan makanan.


"Makanlah, Thalia." ucap Mario.


Tentu saja Thalia memilih untuk makan saja daripada harus terjebak dengan obrolan Mario. Dan ya, setidaknya makanan mewah itu bisa mengembalikan mood Thalia yang sedang sedih gara - gara Axel yang akan pergi ke negara S untuk menjalani pengobatan.


"Terimakasih untuk makan malamnya Kak Mario. Kalau begitu, aku pamit pulang!" kata Thalia setelah menyelesaikan makanannya. Dan berbahaya juga jika dia berlama-lama dengan Mario takutnya Kakak tirinya itu akan menghukumnya lagi jika dia mengetahuinya.


"Dua puluh menit lagi kau boleh pulang, Thalia! Makananmu belum sepenuhnya tertata dengan baik di dalam lambungmu." kata Mario.


Thalia menghela nafas. "Baiklah, hanya dua puluh menit."


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?" kata Mario.


"Kenapa Kak Mario tadi tiba-tiba menjadikan aku sektretaris, Kak Mario?"


"Terserah aku!" Balas Mario. Sikap menjengkelkannya mulai kambuh lagi.


Jika sudah begitu, Thalia hanya ingin diam saja. Diam selama dua puluh menit bukanlah hal yang sulit untuk di lakukan. Dan Thalia melihat jam di ponselnya. Memastikan jika sudah tepat dua puluh menit, ia akan pergi dari tempat itu.


"Apa yang kau pikirkan, Thalia? Oh, kamu tidak perlu khawatir soal makanan yang tadi kau pesan. Kau tak perlu membayarnya!" Ucap Mario yang mulai membuka percakapan lagi setelah cukup lama hening.


"Aku baru tahu jika restoran ini milik Kakak Mario." sahut Thalia.


"Nanti kau juga akan tahu semua bidang usaha yang aku miliki, Thalia."


"Saya tidak paham maksud ucapan Kak Keenan." ucap Thalia bingung.


"Hahaha! Aku kira kau akan penasaran tentang diriku." kata Mario sambil menyunggingkan senyum brengseknya yang licik itu. "Kau benar-benar tersiksa bersamaku, Thalia?" lanjut Mario bertanya.


"Sejujurnya, iya." jawab Thalia.


"Hahaha. Jujur sekali. Kenapa begitu? Bukankah aku sudah berbaik hati untuk mentraktir mu makan malam?"


"Sejak tadi Kak Mario sudah membuatku kesal. Dan sekarang aku sudah tidak merasa nyaman dengan Kak Mario. Maaf.." ucap Thalia.


Mario kembali terkekeh ringan mendengarkan jawaban itu.


"Jadi, kamu maunya di perlakukan seperti apa? Lemah lembut? Romantis?" tanya Mario.


Mendengar ucapan dari Mario, Thalia hampir saja tersedak. Dan Thalia kali ini tidak ingin menanggapi ucapan Mario.


"Aku yakin, banyak sekali pria yang menginginkanmu untuk menjadi kekasihnya." ucap Mario tiba - tiba.


"Tapi aku tidak pernah memiliki seorang kekasih." kata Thalia dengan polosnya.


"Kau belum pernah memiliki kekasih?" Mario menatap tak percaya ke arah Thalia. Pasalnya saat berada di pesta Vino. Keenan memperkenalkan bahwa Thalia adalah kekasihnya.


Thalia menggelengkan kepalanya. "Aku memang tidak pernah memiliki kekasih."


"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Keenan. Bukankah Keenan adalah kekasihmu?"


"Sebenarnya Kak Keenan adalah Kakak tiriku. Dan dia sangat terobsesi untuk membuatku menjadi kekasihnya."


"Apa? Jadi adik tiri Keenan itu kamu." ucap Mario terkejut.


"Lalu apa kau juga mencintai Keenan? Toh, diantara kalian berdua tidak memiliki hubungan darah?"


"Kenapa Kak Mario bertanya seperti itu?" tanya Thalia balik tanpa menjawab pertanyaan dari Mario.


"Tidak apa, aku hanya bertanya saja." jawab Mario.


"Sebenarnya Kak Keenan itu sangat baik. Dia menjalankan kewajibannya menjadi Kakak. Dia selalu melindungi ku, membelikan semua yang aku inginkan. Dan merawat ku ketika aku sakit." balas Thalia. "Tapi jika Kak Mario bertanya apa aku mencintai Kakak tiriku, jawabannya aku tidak mencintainya. Tapi aku menghargainya." lanjut Thalia. Dia tidak akan mungkin menceritakan perbuatan bejat Kakak tirinya kepada Mario.


Mario mengangguk paham. "Ya, kamu tidak bisa memilih kepada siapa hatimu akan berlabuh. Tapi percayalah, cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu."


"Ya," jawab Thalia.


"Thalia, apakah kamu masih perawan?" tanya Mario tiba - tiba lagi. Dan pertanyaan itu sangat membuat Thalia merasa tak nyaman.


"Apakah aku harus menjawab. Itu wilayah pribadi saya, yang tak akan aku katakan pada siapapun." jawab Thalia. "Sejujurnya yang kak Mario katakan tadi adalah sebuah pelecehan!" Lanjutnya memberitahu.


"Oh, padahal kau bisa menanyakan hal serupa kepadaku? Dan aku tak menganggap itu sebagai pelecehan?" kata Mario.


"Itu berbeda, Kak." balas Thalia.


"Apa bedanya? Kau juga bisa bertanya, apakah aku masih perjaka? Jelas tidak. Aku sudah ratusan berkali bercinta dengan orang yang berbeda-beda. Dan aku juga sudah melakukan berbagai gaya. Kau tahu, mereka sangat menikmati sodokan yang aku berikan dan ukuran-"


"Stop, Kak Mario. Jangan di lanjutkan lagi." ucap Thalia memotong ucapan Mario sambil menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.


"Dasar bejat. Mesum. Baik Kak Mario atau kak Keenan semuanya adalah laki - laki sinting." ucap Thalia di dalam hati kesal.


"Aku bertanya seperti itu karena aku belum pernah bercinta dengan perawan. Jadi karena itulah aku bertanya padamu?"


"Maaf Kak Mario, sudah dua puluh menit. Saya harus segera pulang dan besok pagi saya harus berangkat ke sekolah. Terima kasih banyak untuk makan malamnya. Selamat malam!" kata Thalia dengan nada kesal lalu berjalan meninggalkan Mario begitu saja. Dan Mario pun berjalan mengikuti Thalia dari arah belakang.


"Thalia!" Saat Thalia keluar dari ruangan makan VVIP itu suara bariton cukup keras memanggil namanya hingga membuat Thalia dan Mario mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara itu.


"K- Kak Keenan?" Thalia mengerutkan dahinya, melihat Kakak tirinya itu mendekat ke arahnya.


Pandangan Keenan kini menatap tajam kearah Thalia dan juga Mario.


"Kenapa sudah malam kau bisa ada di sini?" Keenan bertanya dengan nada dingin dan tersirat tidak suka.


"Ah, aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Kak Mario dan dia sekalian mengajakku makan malam," jawab Thalia.


"Good. Thalia Ivanka. Kau rupanya sudah berhasil menggoda sahabatku."


"Aku tidak seperti itu, Kak Keenan!"


"Ken, kami itu tadi hanya makan malam. I think it's not a big thing." sambung Mario.


Keenan tersenyum sinis. "Thalia itu adalah calon istriku. Aku yang menentukan itu hal besar atau kecil."


Kemudian Keenan langsung menarik, Thalia. Memaksa Thalia untuk pulang dan meninggalkan restoran milik Mario itu.


"Pulang!"


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.