
Semenjak pertengkaran yang terjadi di rumah Siska itu, sudah dua minggu Thalia tidak pernah bertemu lagi dengan Keenan. Dan Siska pun tidak pernah lagi membahas tentang pertengkaran yang terjadi saat itu. Alasan dirinya tidak bertemu dengan Kakak tirinya. Karena saat itu, Ayahnya itu meminta Keenan untuk mengurus perusahaan cabang yang ada di negara H yang mengalami penurunan saham akibat Ayahnya yang mengalami kegagalan saat melakukan kontrak kerjasama. Sehingga Kakak tirinya itu di kirim kesana untuk menyelesaikannya. Dan selama beberapa hari ini, Thalia juga sudah menyelesaikan ujian sekolahnya.
"Thalia, ayo kita pergi ke kantin!" Ajak Siska dengan penuh semangat.
Dan mereka berdua kini menuju ke kantin, menghabiskan waktu bersama membuat mereka seperti saudara.
"Thalia, kamu mau pesen apa?" tanya Siska.
"Es jeruk sepertinya, enak!" jawab Thalia. Ia juga ingin makan soto ayam pedas.
Entah kenapa dirinya ingin makan makanan yang bercita rasa asam dan pedas.
Sambil menunggu pesanan, mereka terlibat perbincangan yang cukup hangat. Siska tersenyum bahagia sambil menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
"Lihat, ini cincin yang di berikan Nino semalam!" Bisik Siska pada Thalia. Dan Thalia hanya tersenyum, ia merasa bahagia atas kebahagiaan sahabatnya.
Menu makanan mereka pun telah datang. Thalia dan Siska pun makan dengan lahap. Thalia bahkan secepat kilat menghabiskan makanannya tanpa sisa. Dan ia malah masih merasa lapar, lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan lagi.
"Kamu masih lapar, Thalia?" tanya Siska dengan tatapan keheranan.
Thalia hanya mengangguk dan kembali cuek dengan Siska. Bahkan, ia juga acuh ketika Siska merasakan keanehan dengan nafsu makan Thalia yang tiba - tiba meningkat.
"Thalia, emangnya kamu udah gak makan beberapa hari?" tanya Siska sambil terkekeh.
"A-Aku?" tanya Thalia sambil menunjuk ke dadanya. Dan Siska hanya menganggukkan kepalanya dengan penuh selidik.
"Aku makan terus. Bahkan tadi pagi aku sudah menghabiskan semangkuk sereal dan dua buah sandwich serta segelas susu." jawab Thalia.
"K-Kamu serius?" tanya Siska dengan tatapan yang tidak di percaya.
Thalia hanya mengangguk, karena beberapa hari ini nafsunya makanannya memang cenderung meningkat. Ia pun sampai membawa makanan kedalam kamarnya untuk mengusir rasa laparnya yang kerap datang dan tak mengenal waktu.
"Apa kamu sedang sakit?" tanya Siska dengan penuh perhatian.
"Aku tidak merasa sakit. Akhir - akhir ini aku hanya tidak tahan lapar. Dan setiap beberapa jam sekali, aku harus makan. Kalau tidak perutku akan terus berbunyi, Sis?"
"Thalia, memangnya kamu itu tidak takut gemuk ya? Aku sih tidak munafik, kalau kebanyakan laki-laki itu lebih suka dengan gadis yang bertubuh langsing dan penampilannya yang enak di pandang." Siska berusaha menasehati pola makan Thalia. Kalau di biarkan seperti ini takutnya Thalia akan mengalami obesitas.
"Terima kasih sudah mengingatkanku. Mungkin, aku harus mengendalikan diri supaya tidak makan secara berlebihan."
Thalia masih memikirkan kata - kata Siska, ia takut menderita penyakit membahayakan, mengingat nafsu makannya benar - benar meningkat. Tapi timbangannya juga tidak bertambah.
Acara makan di kantin pun telah selesai. Namun, saat Thalia hendak keluar dari kantin dia melihat rujak buah yang berwarna - warni yang sontak saja membuat Thalia meneteskan air liur. Bahkan perutnya yang sudah terisi penuh tidak menyurutkan niatnya untuk membeli potongan buah lengkap di sajikan dengan sambal yang menggoda.
"Sebentar, ya." ucap Thalia kepada Siska. Dan Thalia pun langsung bergegas menghampiri penjual rujak yang tengah melayani.
"Tuan, rujaknya satu." ucap Thalia dengan air liurnya yang hampir menetes.
Kemudian, penjual rujak itu memberikan pesanan yang di pesan Thalia tadi, dirinya pun tersenyum dengan ramah kepada para pelanggan yang datang.
"Thalia, kamu beli apalagi sih?" tanya Siska dengan wajahnya yang terkejut.
"Aku beli rujak. Lumayan buat cemilan." jawab Thalia senang.
"Thalia, sebenarnya kamu itu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kamu sangat aneh. Bahkan kamu tidak mau bercerita kepadaku lagi." ucap Siska yang terlihat sangat kesal. Terlebih saat melihat Thalia yang seakan tidak pernah merasakan kenyang.
"Memangnya aku kenapa, Sis?" tanya Thalia ingin tahu.
Deg
"Apa? Hamil?" ucap Thalia di dalam hati, sambil menelan salivanya yang terasa pahit di mulutnya.
"Hei, Thalia. Kamu baik - baik aja, kan?" tanya Siska yang kini terkejut melihat reaksi dari Thalia.
"Ya, A - Aku baik- baik saja, Sis." ucap Thalia sambil tergagap. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah kelas mereka.
Ia pun tidak mungkin hamil. Mana mungkin Thalia mengandung benih Kakak tirinya.
"Thalia, kamu melamun lagi?" tanya Siska.
"T - tidak, tidak. Aku tidak melamun!" Jawab Thalia dengan wajah yang tertunduk.
"Kamu pasti masih lapar. Dan kalau kamu lapar aku punya makanan. Daripada nanti kamu sakit lebih baik kamu makan!" Tawar Siska
"Terima kasih, Siska. Kamu baik sekali padaku," ucap Thalia.
"Thalia, kalau kamu sedang sakit bilang ya ke aku. Kita kan sahabat."
"Iya, Sis. Terima kasih sudah perhatian banget sama aku." ucap Thalia dengan netranya yang berkaca - kaca.
"Eh, Thalia. Kenapa kamu jadi nangis. Jangan nangis dong, kamu sensitif sekali, tersentuh sedikit saja langsung berurai air mata seperti itu. Ya udah yuk, kita masuk kedalam kelas aja." ejek Siska pada Thalia yang kini terlihat sangat cengeng.
***
Perusahaan cabang Alexander Group - Negara H.
Keenan duduk di kursi kebesarannya, sudah dua minggu Keenan tidak bertemu dengan Thalia. Setiap harinya dia merasakan kesepian tanpa Thalia. Jika biasanya dia melihat senyum dan suara Thalia, kini semuanya lenyap.Bahkan dirinya tidak bisa menghubungi Thalia, karena adik tirinya itu sepertinya telah memblokir nomor ponsel nya Sungguh Keenan merasakan penyiksaan yang mendalam.
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Keenan menghentikan lamunannya. Kemudian Keenan mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan langsung menginterupsi untuk masuk.
"Tuan," sapa Billy saat masuk kedalam ruang kerja Keenan.
"Ada apa, Billy?" tanya Keenan dingin.
"Tuan, saya ingin memberitahu jika besok sebenarnya kita sudah bisa pulang. Pekerjaan hampir selesai. Apa Tuan ingin menunda kepulangan kita?" tanya Billy memastikan.
"Ya, besok pagi kita akan langsung kembali ke negara L. Tapi aku tidak ingin jika Thalia itu tahu. Biarkan ini akan menjadi kejutan untuk adikku,"
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Billy menundukkan kepalanya lalu pamit undur diri dari hadapan Keenan.
***
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.