
Hoek... Hoek... Hoek...
Suara muntahan memenuhi kamar mandi di sebuah kamar dan terlihat seorang wanita yang tengah menundukkan kepalanya di wastafel, yang tengah berusaha untuk mengeluarkan isi perutnya. Dan tepat di belakang wanita itu, nampak sesosok pria yang tengah memijat tengkuk sang wanita, agar merasa lebih nyaman.
"Sepertinya sudah tidak ada yang keluar lagi. Ayo kita kembali ke ranjang. Aku akan mengoleskan minyak angin di lehermu. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa mual-mual mu." ujar Angga.
Thalia menoleh menatap sosok sang kekasih dari arah samping dengan tatapan mata yang sayu. Dengan pelan ia menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Angga yang terasa menenangkan.
Thalia mendongakkan kepalanya, lalu mengaitkan kedua lengannya pada leher Angga "Gendong," gumamnya pelan.
Angga yang paham pun langsung mengangkat tubuh Thalia dan membawanya menuju ke arah ranjang yang biasanya mereka tempati.Thalia lalu menyandarkan punggungnya pada bagian kepala ranjang sembari menunggu Angga yang tengah mengembalikan air untuknya.
"Ini minumlah, aku sudah membelikan rasa mangga sesuai pesanan mu. Jadi habiskan ya, dan jangan sisakan sedikitpun." ujar Angga yang kini mengusap punggung sang kekasih dengan penuh kasih sayang.
Padahal dia baru saja muntah dengan begitu banyak. Bukannya membawakan dengan segelas teh hangat, Angga malah membawakan segelas susu hamil untuknya, dengan terpaksa, Thalia pun langsung menghabiskan susu itu, walaupun harus sampai menahan mual saat menghabiskannya.
Angga terlihat sedang membuka laci nakas, yang ada di samping tempat tidurnya. Ia lalu mengambil benda persegi panjang, yang terlihat seperti buku dan menyerahkannya ke tangan Thalia.
"Ini pasport milikmu sudah jadi. Dan kemungkinan besar kita akan berangkat ke negara A di hari minggu. Aku sudah menyiapkan semuanya di sana. Kita hanya menunggu jadwal keberangkatan saja," ujar Angga.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Thalia.
Sedangkan Angga hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon atas pertanyaan dari Thalia, sebenarnya Angga cukup bingung, karena tidak biasanya Thalia akan meminta sesuatu hal tanpa menyebutkannya secara langsung.
"Bisakah aku mengunjungi makam Ayahku. Sebelum kita berangkat ke negara A?" tanya Thalia
"Boleh saja, kenapa tidak. Lalu kau tidak berniat untuk mengunjungi Bunda dan Ayahmu? Sebenarnya aku juga ingin mengunjungi mereka untuk meminta restu." tutur Angga.
Terlihat Thalia yang melamun, begitu mendengar penuturan dari Angga. Dan begitu sadar dari lamunannya, ia langsung menatap ke Angga dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Aku bukannya tidak ingin membawamu kesana, tapi aku takut jika nantinya akan bertemu Kak Keenan di sana. Tapi kau tenang saja, suatu hari nanti aku pasti akan membawamu untuk menemui mereka." sahut Thalia dengan senyuman yang luntur dari wajahnya.
"Baiklah, kalau seperti itu. Lebih baik sekarang kita tidur saja ya. Ini sudah pukul satu dini hari. Terlalu larut untuk ukuran wanita hamil tidur," ujar Angga yang langsung merebahkan tubuhnya di samping Thalia dan memeluknya dengan erat.
***
Tap... Tap... Tap...
Terdengar suara langkah dari sepatu pantofel berwarna hitam yang memasuki sebuah bekas gudang yang tak terpakai. Ia melangkah menghampiri rekannya yang tengah duduk di punggung seseorang yang telah terbaring lemas di lantai yang kotor.
"Hei kawan, kau sudah datang rupanya. Bagaimana menurutmu hasil tangkapan ku hari ini?" ujar Marvel, sembari mengangkat wajah pria yang ada di bawahnya yang tampak sudah babak belur.
"Aku tidak peduli. Memangnya ada apa kau, di tengah malam seperti kau menyuruhku untuk datang kesini." sahut Keenan dengan nada suara yang terdengar malas.
"Apa kau yakin tidak akan peduli. Kau tahu, dia adalah salah satu mata - mata milik Logan. Anak buah ku berhasil menangkapnya, saat ia tengah mengintai di kawasan kami. Apa kamu masih yakin, tidak akan peduli dengan mangsaku kali ini?" bisik Marvel dengan seringai yang tak luntur dari wajahnya.
Mendengar ucapan dari Marvel, seringai di sudut bibir nya terlihat sedikit naik. Ia lalu menepis tangan Marvel yang masih bertengger di bahunya. Keenan kemudian masih menatap Marvel yang sedang menyeringai ke arahnya.
"Sudah kuduga, bekerja sama denganmu memang tidak ada ruginya." sahut Keenan seraya membalas seringai dari Marvel.
Keenan kemudian melangkah mendekati pria yang di duga sebagai mata - mata Logan itu. Dan dengan tak berperasaan Keenan langsung menginjak kepala pria itu dengan kaki kanannya. Dan kemudian beralih menendang perut pria itu, hingga membuatnya menjerit dengan keras.
"Arrrghhh..." teriak pria itu yang meringkuk kesakitan.
Keenan pun lalu berjongkok di dekat pria malang itu dan menarik dengan kencang rambutnya, hingga Keenan dapat melihat wajahnya yang penuh dengan luka lebam.
"Jika kau masih ingin hidup, katakan semua informasi yang sudah kau ketahui tentang bosmu itu. Jika kau sampai berbohong, maka keluargamu lah yang akan mendapatkan balasannya." ujar Keenan dengan tatapan tajamnya.
***
"Bisakah kita mampir dulu ke toko bunga di depan? Aku ingin membeli bunga untuk Ayah. Aku yakin Ayahku pasti akan bahagia jika aku membawakan bunga kesukaannya," ujar Thalia pada Angga yang kini tengah fokus membaca berita lewat notebook nya.
Angga kemudian mematikan sejenak notebook nya, dan beralih menatap ke arah Thalia yang sedang setia menatap pemandangan lewat jendela di mobil.
"Kau bisa mengatakannya langsung pada Hardi, kenapa malah mengatakannya padaku?" jawab Angga dengan senyuman yang menuruti perkataan Thalia yang menjengkelkan.
Thalia menatap Angga tajam, dan mendengus sebal. Ia pun mengalihkan perhatiannya kembali pada jendela mobil sambil mengumpat pada Angga. Namun berbanding terbalik dengan Angga yang terlihat kesenangan setelah berhasil menjahili kekasihnya.
Tak berapa lama kemudian, mobil pun berhenti di depan toko bunga yang berdiri memang tidak jauh dari area pemakaman yang hendak mereka tuju.Namun, saat Thalia berniat untuk turun tangannya langsung di cekal oleh Angga.
"Ada apa? Aku kan mau memilih bunga yang mau aku beli," ujar Thalia dengan dahi yang mengernyit bingung.
"Biar nanti Hardi saja. Kita langsung pergi saja ke area pemakaman saja, agar menghemat waktu." sahut Angga yang mengajak Thalia melangkah keluar dari mobil.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....