
Mobil mereka telah berhenti di sebuah tempat parkir. Hardi bahkan sudah membawa pergi barang bawaan majikannya ke tempat yang telah di katakan oleh Angga sebelumnya. Namun, sepertinya Thalia masih betah berdiam diri di dalam mobil.
Angga nampak asyik menatap wajah manis Thalia yang tengah tertidur di pangkuannya. Dan dengan hati - hati Angga menyingkirkan poni yang terlihat menutupi sebagian kelopak mata Thalia.
"Thalia, sayang. Bangunlah. Kita sudah sampai. Apa kau akan terus tertidur di sini? Sementara aku akan menikmati pemandangan indah yang ada di sana, hm?" ujar Angga yang tengah memainkan kedua pipi Thalia.
Dan dengan perlahan, kelopak mata Thalia perlahan mulai terbuka. Thalia kemudian bangkit dari tidurnya dan di bantu oleh Angga. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tersadar, bahwa mobil yang di naikinya itu sepenuhnya telah berhenti.
Angga lalu membuka pintu mobilnya dan menggandeng tangan Thalia untuk turun. Dapat Thalia lihat sekelilingnya hanya terdapat sekitar lima mobil saja yang tengah terparkir tak jauh dari mobil milik Angga.
"Kita ada di mana?" tanya Thalia heran.
"Kau akan tahu nanti setelah menaiki anak tangga itu?" jawab Angga yang menunjuk ke tangga beton yang berada di dinding tanah yang memiliki tinggi sekitar dua meter.
Dan benar saja, begitu Thalia sampai di atas dinding tanah itu, dapat ia lihat sebuah danau yang tampak berkilauan yang jaraknya sekitar 300 meter di depannya.
"Sayang, apa kau lihat pohon besar yang ada di sana? Kita akan melakukan piknik di bawah pohon besar itu," ujar Angga, sambil menunjukkan pohon yang ia maksud pada Thalia.
Dengan sedikit berlari Thalia menuruni tangga dan melangkahkan kakinya ke arah pohon yang di tunjukkan oleh Angga. Dan terdapat sebuah tikar yang terbentang di atas rerumputan dengan tas rotan yang sepertinya berisi makanan untuk mereka.
Thalia mendudukkan dirinya pada tikar itu, di ikuti oleh Angga di samping kirinya. Lalu ia mengangkat tas rotan itu, dan sedikit mengintip isi di dalamnya.
"Yah, padahal aku berharap ada mie instan. Piknik itu tak akan cukup jika tidak ada mie instan di dalamnya." ujar Thalia sambil mengambil buah ceri yang ada di dalam kotak bekal itu.
"Tidak baik untuk ibu hamil jika memakan makanan yang banyak mengandung MSG. Lagi pula, piknik yang benar itu bukannya membawa mie instan tetapi membawa sandwich dan buah ceri sudah cukup." sahut Angga yang kini juga ikut makan buah ceri yang ada di tangannya Thalia.
"CK. Dasar! Bule jadi - jadian," cibir Thalia ke arah Angga.
***
"Nyonya, bukankah anda terlalu keras pada Nona Thalia? Padahal, Nona Thalia itu sangat baik. Bahkan saya merasa, semenjak ada Nona Thalia di sini. Saya itu merasakan sekali banyak perubahan positif dari Tuan muda, Angga." ujar Bik Nila.
Saat ini, Abella tengah berbaring santai di kursi pijatnya yang ada di villa milik anaknya. Dan Bik Nila terlihat sedang meletakkan beberapa potong buah ke timun di wajah Nyonya itu.
"Aku tau kok, tapi baik saja tidak cukup untuk menjadi keluarga Pratama.Lagi pula, aku hanya ingin melihat seberapa pantas ia bersanding dengan salah satu anak keluarga Pratama. Jika hanya segini saja dia sudah menyerah, maka dia memang tidak pantas untuk Angga." sahut Abella.
Abella menghela nafasnya sejenak, ia lalu mematikan kursi pijatnya dan melepaskan kembali masker ke timun di wajahnya.
"Kau sudah bekerja lebih dari tiga puluh tahun di keluarga kami. Bahkan, aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri. Bukankah kau sudah paham, sulitnya menjadi keluarga Pratama yang pada dasarnya memiliki banyak sekali musuh. Dan mereka bisa saja menjatuhkan kita, maka dari itu butuh seleksi yang ketat untuk mencari seseorang yang pantas untuk menjadi menantu keluarga Pratama," ujar Abella yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Bik Nila menuju kamarnya.
"Sudah kuduga, Nyonya besar tidak mungkin seburuk itu. Dan semoga saja Nona Thalia bisa bertahan sampai akhir. Karena aku tau, jalan yang akan di laluinya menjadi semakin berat. Semoga, dia selalu dalam perlindunganmu." ucap Bik Nila di dalam hati sambil menangkupkan tangannya berdoa.
***
Sudah hampir satu jam mereka mencari toko makanan penjual kue putu. Namun, tak ada satupun toko makanan kue yang mereka singgahi menjual makanan tersebut.
"Dahlah, gue gak tau lagi mau mencari kemana?" ucap Vino yang mulai menyerah.
Saat mereka masuk kedalam toko tersebut, banyak sekali pasang mata yang menatap ke arah mereka. Namun, setelah itu kembali ke makanan dan minuman yang ada di depan mereka masing-masing.
Dan kini mata mereka tampak berbinar ketika melihat menu jajanan kue tradisional tertera di area kasir.
"Bu, saya mau tanya? Kue putunya masih ada kan?" tanya Gilang langsung.
"Sebentar, saya cek dulu ya, Mas." ibu penjual kue jajanan itu melangkahkan kakinya menuju ke area kue yang di pajang di sana.
"Masih ada, Mas. Mau beli berapa potong?"
"Dua puluh potong." jawab Mario kali ini.
Dan beberapa menit kemudian, Ibu penjual kue tradisional itu langsung membungkus semua kue putu itu. Dan menyerahkan pada salah satu pria tersebut.
"Terima kasih ya, Bu. Dan kembalinya untuk ibu saja." ucap Mario sembari menyerahkan uang seratus ribu ke arah ibu penjual kue itu. Dan mereka bertiga pun langsung melangkah pergi meninggalkan toko kue tradisional itu.
Setibanya mereka tiba di perusahaan Alexander Group mereka bertiga pun langsung melangkah masuk menuju ke ruangan Keenan. Dan langsung meletakkan makanan kue putu yang sudah di inginkan Keenan.
"Biasa aja kali. Lagi pula, gue kan gak jadi ambil saham gue yang ada di perusahaan kalian." ucap Keenan, saat melihat ekspresi wajah ketiga sahabatnya yang tampak sangat kesal.Kemudian, Keenan pun membuka isi kotak tersebut. Dan langsung memakan kue putu itu.
"CK, bodo amat." sahut Gilang yang nampak masih kesal.
"Kalau siang - siang gini makan mangga muda seger kali ya." ucap Keenan yang tiba - tiba berucap dengan keinginannya. Padahal dirinya sedang memakan kue putu itu.
Dan sontak saja ketiga sahabatnya itu menatap Keenan dengan penuh tanda tanya di otak mereka masing - masing.
"Jangan mulai yang aneh - aneh, Ken. Siang hari itu biasanya kita makan nasi bukan malah mencari yang masam - masam." ujar Vino yang mulai kesal mendengar ucapan dari Keenan.
"Iya, Lo itu udah kayak orang yang lagi ngidam tau gak?" tutur Gilang yang langsung di angguki oleh Vino dan juga Mario.
"Gue hanya bercanda, Bro." ucap Keenan sambil terkekeh pelan saat melihat reaksi para sahabatnya itu.
"Sialan lo."
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....