
"Tanda kemerahan apa itu?" gumam Angga.
Angga kemudian menyingkap helaian rambut yang menutupi leher Thalia. Dan dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia pun mencoba untuk mengusap tanda kemerahan yang ada di leher Thalia.
Dan ya, Angga pun berharap jika tanda itu adalah palsu. Namun sayang, setelah mengusapnya beberapa kali, tanda kemerahan itu nampak tak menghilang.
"Sial, siapa yang berani melakukan ini pada wanitaku!" Geram Angga.
Dengan cepat, ia melangkah meninggalkan ruang rawat Thalia. Dan Angga pun berusaha untuk menemui perawat yang tadi ia tugaskan untuk menjaga Thalia. Hampir lima menit mencari, akhirnya Angga berpapasan dengan perawat Aliya yang baru saja keluar dari pintu kamar mandi perempuan. Dan tanpa membuang banyak waktu, Angga pun langsung menghampiri perawat itu.
"Ah, bapak yang tadi meminta saya untuk menjaga Nona Thalia, kan?" ujar perawat Aliya saat melihat Angga yang berhenti tak jauh darinya.
"Iya, benar. Itu memang saya. Sebelum itu, maaf kita bisa bicara sebentar? Karena ada hal yang ingin saya tanyakan pada anda?" ujar Angga pada perawat Aliya.
Sedangkan perawat Aliya hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia menyetujui permintaan dari Angga.
"Jadi seperti ini. Saat saya kembali ke kamar ruang rawat Thalia, saya melihat selimut yang di pakainya sedikit tersingkap. Apa setelah saya pergi, Thalia tiba - tiba terbangun dari tidurnya?" tanya Angga yang mencoba untuk tidak berterus terang.
Dan terlihat wajah perawat Aliya yang sepertinya sedang berpikir. Dan ia pun sempat menggaruk kepalanya beberapa kali. Dan setelah beberapa lama, akhirnya perawat Aliya menjawab pertanyaan dari Angga.
"Kalau untuk bangun, sepertinya belum, Pak. Mengingat efek obat tidur yang di berikan oleh dokter Gisel, baru akan berakhir pada pukul jam sembilan pagi nanti." jawabnya.
Dan dengan, raut wajahnya yang terlihat ragu. Perawat Aliya pun melanjutkan kembali ucapannya.
"Sebenarnya, saya ingat suatu hal."
"Apa itu?" tanya Angga penasaran.
"Tak berapa lama setelah anda pergi, datang seorang laki - laki yang mengaku sebagai keluarga Nona Thalia. Dia bahkan menunjukkan kartu namanya. Tapi saya tadi sempat curiga pada laki - laki itu karena saat dia menunjukkan indentitasnya nama belakang laki - laki itu sangatlah berbeda dengan Nona Thalia. Kemudian, laki - laki itu menunjukkan foto keluarga di handphone miliknya dan menjelaskan kepada saya jika laki - laki itu adalah Kakak tirinya sehingga nama belakang Nona Thalia dan dirinya berbeda. Jadi, setelah mendengar penjelasan dari laki - laki itu saya langsung keluar dari ruangan rawat itu untuk memberikannya ruang menjenguk pasien." jelas perawat Aliya.
Angga sangat terkejut mendengar pernyataan dari perawat Aliya. Dan tanpa harus menebaknya, Angga pun langsung tahu jika seseorang yang dimaksud oleh perawat Aliya pasti adalah Keenan.
"Boleh saya tahu siapa nama laki - laki itu?" tanya Angga yang mencoba memastikan.
"Kalau tidak salah, tadi namanya itu Keenan Alexander. Sebenarnya aku tadi tidak begitu melihatnya dengan jelas, karena fokusku berada pada Nona Thalia." jelas perawat Aliya lagi.
"Baiklah, terima kasih. Saya akan langsung kembali ke ruangan kekasih saya dulu." balas Angga.
Darahnya terasa sangat mendidih saat ini. Ia benar-benar merasa kecolongan. Ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Karena pada dasarnya, perawat yang bername tag Aliya itu tidak bersalah apa - apa. Dan yang ia bisa lakukan hanyalah merutuki kebodohannya sendiri.
***
Kaki Angga pun berhenti di sebuah pintu yang bertuliskan nama dokter Gisel. Sewaktu akan kembali kedalam ruangannya Thalia tadi, dan ia tiba - tiba terpikir suatu hal. Hingga akhirnya, ia pun memilih memutar arah untuk menemui dokter Gisel secepatnya.
Tok..Tok.. Tok..
Tanpa ragu, dokter Angga langsung mengetuk pintu ruangan dokter Gisel. Dan tidak lama kemudian, sebuah sahutan untuk masuk terdengar di telinga Angga. Dan Angga pun langsung bergegas masuk kedalam ruangan itu.
Begitu memasuki ruangan itu, dokter Gisel pun langsung mempersilahkan Angga untuk duduk di kursi sebrang mejanya.
"Saya ingin, jika kekasihku melakukan rawat jalan saja." balas Angga to the points.
Dokter Gisel terlihat mengerutkan dahinya bingung. Bukankah laki - laki itu telah memutuskan untuk melakukan perawatan di rumah sakit, tetapi mengapa mendadak langsung menggantinya menjadi rawat jalan. Pikir dokter Gisel.
"Mengapa tiba-tiba?" tanya dokter Gisel.
"Maaf, tapi ini berkaitan dengan urusan pribadi. Dan lagi, saya rasa jika Thalia juga akan lebih menyukai rawat jalan, ketimbang melakukan rawat inap di rumah sakit." ujar Angga, yang berusaha untuk membujuk dokter Gisel, agar mau menyetujui keinginannya itu, terdengar egois memang. Tapi mau bagaimana lagi. Ia pun sebenarnya tidak mau tahu, jika Thalia tahu jika Keenan telah datang menemuinya.
Angga juga semakin yakin, jika Keenan akan semakin gencar untuk dapat menemui Thalia. Mengingat selimut Thalia yang tersingkap itu, dan sepertinya Keenan juga telah mengetahui tentang kondisi kehamilan Thalia.
"Apa anda yakin? Bagaimana jika tiba - tiba kondisi Nona Thalia memburuk? Apa anda yakin dapat mengatasinya?" tanya dokter Gisel secara beruntun.
"Saya bekerja di bidang kesehatan seperti anda juga. Walaupun hanya seorang psikolog, tapi setidaknya saya tahu beberapa hal mendasar dalam penanganan pasien," balas Angga dengan percaya diri.
Dokter Gisel menghela nafasnya sejenak, dan kembali menatap ke arah Angga. "Baiklah, anda bisa pulang membawa Nona Thalia setelah cairan infusnya habis. Dan juga, selama tiga hari berturut-turut akan ada perawat yang akan datang untuk mengecek perkembangan Nona Thalia. Mengingat kondisi Nona Thalia yang tengah mengandung saat ini," jelas dokter Gisel.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak atas kepercayaan yang telah anda berikan." balas Angga.
Begitu urusan Angga dengan dokter Gisel telah selesai, Angga pun langsung melangkah keluar dari ruangan tersebut menuju ruang rawat Thalia.
***
Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Jika mendengar dari pernyataan perawat Aliya tadi pagi, seharusnya Thalia akan segera bangun tidak lama lagi.
"Ugghh...."
Angga yang tengah menata pakaian ganti yang akan di gunakan oleh Thalia saat pulang nanti, langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar suara yang berasal dari Thalia.
Kemudian Angga pun langsung melangkah mendekati Thalia yang tengah menyesuaikan matanya dengan terangnya cahaya pagi ini.
Begitu matanya mulai terbiasa, Thalia pun melihat ke arah Angga yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Ia lalu menolehkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang nampak begitu asing baginya.
"Aku ada dimana?"
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....