
"Tapi kenapa Kak Keenan memberikan aku, cincin?" Thalia kembali bertanya dengan polos.
Keenan menghembuskan nafas kasar. Entah adik tirinya itu bodoh atau polos. Kenapa masih harus bertanya? Jelas - jelas mereka akan menikah.
"Kita akan menikah Thalia. Tidak mungkin aku tidak membelikan cincin untuk melamar mu, bukan?" ucap Keenan dengan nada kesal.
"Tapi aku tidak mencintai Kak Keenan. Lebih baik ku kembalikan cincin ini kepada Kakak."
"Jangan membuat Kakak marah, Thalia!" Ucap Keenan yang kini mulai kesal dengan jawaban dari adik tirinya itu.
Thalia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau pakai cincin ini, Kak." jawabnya
"Jangan main - main denganku, Thalia. Atau pistol yang kemarin akan aku gunakan untuk Axel Dirgantara." ancam Keenan.
"Aku mohon, jangan Kak. Jangan lakukan apapun pada Axel."
"Melihat reaksimu sepertinya kau itu memang sangat menyukai Axel Dirgantara. Ah, kenapa aku merasa semakin marah?"
"Tidak, Kak. Aku akan menerima cincinnya." ucapnya.
Mata Keenan seakan berbinar dia seakan mendapatkan kembali kebahagiaannya setelah mendengar penerimaan itu. Keenan langsung menghadap ke arah Thalia. Dia menatap kedua mata Thalia. Tidak terlihat di sana suatu kebohongan. Ini murni kehendak hati Thalia, pikirnya.
"Ini kamu beneran mau kan?"
Thalia mengangguk mengiyakan. "Tapi aku mohon sama Kakak. Tolong, jangan pernah sakiti Axel. Dia tidak bersalah."
Seketika itu pula senyuman Keenan luntur. Keenan memejamkan matanya sebentar lalu menghembuskan nafasnya. "Ah, Kakak cukup kecewa mendengarnya. Harusnya kamu itu bilang karena cinta. Tapi nyatanya ingin kembali menyelamatkan laki - laki sialan itu," desis Keenan.
"Maafkan aku, Kak." Thalia kembali menundukkan kepalanya takut.
"Tidak apa - apa, kok. Kakak mengerti. Cinta itu kan butuh proses, kan?"
Thalia diam, dia tidak menjawab ucapan Kakaknya.
"Ingat, jangan lepas cincin pemberian dari Kakak ini, kau mengerti." ucap Keenan dan Thalia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Ah, ini baru calon istriku yang baik." ucap Keenan tersenyum bahagia. Kemudian, melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumahnya.
***
Malam ini Thalia tidak bisa tidur, ia menatap cincin berlian yang begitu indah ada di tangannya. Thalia menghembuskan napasnya. Seumur hidup, ini pertama kalinya Thalia melihat cincin berlian yang melingkar di jarinya. Jika semua wanita akan bahagia mendapatkan berlian. Berbeda dengan Thalia yang kini tampak bingung. Ya, Thalia merasa bingung sendiri dengan kelakuan Kakak tirinya itu yang seolah-olah tidak ada lelahnya selalu mengejar - ngejar dirinya.
Dalam impian,Thalia. Suatu saat dia akan menikah dengan sosok pangeran tampan dan sangat mencintainya? Kenyataannya Thalia tidak mendapatkan itu. Bukannya kakaknya itu tidak tampan, tentu pria itu memilki wajah layaknya dewa Yunani. Tampan dan berkuasa. Kakak tirinya itu bisa di katakan sebagai Pria yang menjadi impian seluruh wanita. Hanya saja, Thalia masih menganggap Keenan sebagai Kakaknya. Bahkan setelah Keenan merenggut kesuciannya membuat Thalia selalu di bayangi rasa ketakutan.
Kemudian Thalia menarik selimut tinggi - tinggi, lampu kamarnya sudah mati. Ia menutup matanya namun ia juga mendengar suara langkah kaki yang sedang mendekatinya saat ini.
"Apa yang sudah kamu sembunyikan dari Bunda, Thalia? Kenapa sekarang kamu banyak menyendiri? Kenapa... Kenapa Bunda merasa ada yang lain denganmu, sayang?" Isak tangis Vina yang kini mengusap pipi putrinya.
Thalia ingin menjerit saat ini. Mendengar Bundanya menangis ia juga ingin ikut menangis saat ini.
Bagaimana ia bisa mengelak tentang kenyataan pahit yang sudah terjadi padanya.
"Hanya kamu harapan Bunda satu - satunya, sayang. Bunda akan sebisa mungkin untuk menjagamu, sayang." ucap Vina mengecup pipi putrinya dan mengusap dengan lembut rambut putrinya sebelum ia pergi dari sana dan menutup pintu kamar Thalia.
Thalia membuka kedua matanya, ia membuka selimutnya dan duduk bersandar. Thalia melepaskan cincin di jemarinya dan membuangnya asal. Dan Thalia menangis frustasi dan seolah tidak ada jalan lain saat ini.
Alam seolah bekerja sama untuk menghancurkannya. Udara yang dingin membuatnya merasakan mimpi buruk yang selalu menghantuinya.
***
Pagi ini Thalia berada di dalam kamar mandi langkah Vina kini masuk kedalam kamar putrinya.
Wanita itu meletakkan jus Alpukat kesukaan putrinya di atas nakas tepat di samping meja ranjang Thalia.
"Apa itu?" gumam Vina bertanya - tanya
Wanita itu meraih sebuah benda yang gemerlapan di lantai. Ia meraihnya cepat dan menyipitkan kedua matanya saat ia melihat sebuah cincin berlian yang sangat indah dan terdapat sebuah ukiran sebuah nama.
"Ini cincin berlian yang sangat bagus? Coba aku liat ada nama siapa di ukirannya ini?" gumam Vina menyipitkan kedua matanya dan melihatnya lekat - lekat.
"Keenan?" gumam Vina. Penuh tanda tanya di hatinya. "Bagaimana bisa ada cincin milik Keenan di sini? Terlebih lagi ini cincin berlian? Tapi ini, untuk ukuran di jari perempuan..."
Vina meletakkan cincin berlian itu di atas nakas dan ia menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dimana Thalia baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Thalia kini menatap Ibunya yang kini sedang menelisik ke arahnya dari atas hingga bawah.
"Ada apa, Bund?" tanya Thalia menatapnya lagi.
"Kenapa ada cincin berlian dengan ukiran nama Keenan di sini?" tanya Vina pada putrinya.
Thalia menoleh ke arah yang di tunjukkan Ibunya beserta cincin berlian yang di maksud oleh ibunya.
Thalia pun rasanya ingin mengaku. Tapi kenyataannya itu tentu tidak akan mudah.
"Oh.. Itu. Kemarin Kak Keenan mampir kesini. Dia bilang ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya, Bund. Dan untuk sementara Kak Keenan menitipkannya pada Thalia." ucap Thalia memberikan penjelasan palsu supaya ibunya itu tidak mencurigainya.
Seketika Vina mengangguk - anggukan kepala nya. Ia mengusap pipi Thalia dan mengecup pipinya.
"Gadis baik Bunda. Jadilah anak yang hebat ya, sayang. Soal perjodohanmu dengan Axel Papa dan Bunda tidak akan memaksa." ujarnya dengan menatap Thalia tulus.
Thalia terdiam. Ia bingung apa yang harus ia katakan saat ini. Thalia meremat jemarinya, tapi kenyataan buruk akan terbongkar jika suatu saat nanti ia akan memilih Axel. Dan Thalia juga tidak ingin melihat jika Axel sampai terluka akibat kecemburuan dari Kakak tirinya itu.
"Maafkan aku, Bund." ucap Thalia.
"Tidak apa-apa, sayang. Jika kamu masih belum siap dengan perjodohan itu. Papa dan Bunda tidak memaksa."
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.