Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Ingin Rujak



"Ma, Angga itu tidak sedang mempermalukan, Mama. Karena Angga sangat mencintai Thalia dengan tulus, bukan hanya karena rasa kasihan terhadapnya. Memang apa salahnya sih, Ma? Lagi pula, Angga itu sangat bahagia bisa bersama dengan Thalia." jelas Angga kepada Ibunya dengan penuh percaya diri.


"Nyonya, makan siang sudah siap.Alangkah baiknya jika Nyonya menyantap makan siang dulu," ucap Bik Nila yang mencoba untuk menghentikan perdebatan antara ibu dan anak.


Dan dengan di baluti rasa emosi, Ibunya Angga akhirnya melangkah meninggalkan Thalia dan juga Angga, mengikuti Bik Nila menuju ke arah ruang makan. Sedangkan Angga yang melihat Ibunya kini telah pergi langsung membawa tubuh Thalia dalam rengkuhannya.


Thalia yang merasakan nyamannya pelukan dari Angga, seketika langsung mengeluarkan isak tangisnya yang sudah sedari tadi ia tahan. Ia benar - benar merasa lemah saat ini. Ia juga mulai takut, jika suatu saat nanti akan di pisahkan dengan Angga. Ya, bagaimana pun juga Thalia sudah mulai mencintai Angga.


"Sudahlah, hentikan tangisanmu, sayang. Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja. Ayo kita makan, kau dan juga bayimu masih membutuhkan asupan nutrisi," ujar Angga yang kini menuntun Thalia menuju ke arah ruang makan.


*****


Suara dering ponsel terdengar, Gilang dengan cepat mengalihkan pandangannya ke layar. Namun, dia langsung membuang napas kasar ketika melihat nama Keenan yang muncul di layar yang kini tengah menghubunginya. Kini Gilang langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan telepon itu, sebelum meletakkan ke telinganya.


"Hallo, Ken?" jawab Gilang saat panggilan teleponnya terhubung.


"Gilang? Kamu ada dimana?" tanya Keenan sambil memijat pelipisnya.


"Aku sedang bertemu dengan klien, Memangnya ada apa, Ken?" jawabnya dari sebrang telepon.


"Bisakah kau datang ke rumahku?" ucap Keenan dengan nada lelah.


"Bisa, tapi setelah aku selesai meeting dengan klien. Aku akan langsung menuju ke rumahmu!" Ucap Gilang dengan penuh


penekanan.


Keenan membuang napasnya kasar. "Baiklah, setelah selesai meeting kau harus cepat datang kesini." ucap Keenan dan langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Setelah panggilan telepon dari Keenan telah selesai. Gilang pun kembali melanjutkan meeting nya. Dan asistennya pun sesekali mencatat apa saja yang harus di persiapkan untuk proyek pembangunan hotel. Dan setelah meeting selesai Gilang pun berpesan kepada asistennya untuk kembali ke perusahaan, sedangkan Gilang akan pergi kerumah Keenan, karena sahabatnya itu sepertinya sangat membutuhkan dirinya.


Beberapa menit kemudian, Gilang akhirnya sampai di mansion milik Keenan dan langsung melangkah masuk kedalam ruang kerjanya.


"Ken, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gilang dengan wajah cemasnya.


"Aku hanya sedikit lelah, dan kepalaku sangat pusing!" Keluh Keenan sambil memijit pelipisnya.


"Apa perlu aku panggilkan dokter, Ken?" tanya Gilang dengan nada suara yang cemas.


"Tidak perlu, aku sepertinya sedikit mual. Apa kau mau menolongku, Gilang?" ucap Keenan dengan matanya yang masih terpejam.


"Menolong? Menolong apa?" tanya Gilang dengan wajahnya yang penuh penasaran.


"Tiba - tiba aku ingin makan rujak mangga dan kedondong, tolong carikan untukku. Rasanya aku ingin sekali memakannya sekarang!" Ucap Keenan dengan wajah yang tanpa dosa.


"A-Apa? Rujak? Kamu tidak salah, Ken? Memangnya sejak kapan kamu itu suka rujak?" tanya Gilang beruntun sambil mengernyitkan keningnya. Ya, puluhan tahun Gilang bersahabat dengan Keenan dan kali ini, dirinya baru saja melihat laki - laki itu merengek meminta untuk di belikan rujak.


"Tolonglah, Gilang. Aku hanya bisa mengandalkan dirimu?" ucap Keenan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Memangnya dimana Asisten mu, Billy? Kenapa kau malah menyuruhku, jika aku tau kau hanya ingin menyuruhku karena ingin makan rujak, aku tidak mau datang kesini, Ken?!" ucap Gilang dengan nada yang sedikit kesal.Ya, pasalnya setelah meeting Gilang langsung terburu - buru datang ke mansion milik Keenan. Dan ternyata sahabatnya itu hanya meminta dirinya untuk membelikan rujak buah.


"Dia sedang berada perusahaan, karena aku yang memintanya untuk menggantikan ku meeting. Cepatlah kau cari rujaknya, Gilang. Atau, aku akan menarik kembali sahamku yang ada di perusahaan mu itu." Keenan memberikan ancaman pada Gilang.


Keenan tersenyum miring, "Aku itu berhak mengungkitnya. Uangku itu di perusahaanmu itu sangat banyak.Aku bahkan bisa membangun perusahaan baru dengan uang yang ada di perusahaanmu itu." ucap Keenan memperingatkan Gilang kembali.


Gilang berdecak pelan. "Kau ini sialan sekali! Kenapa aku bisa memiliki sahabat sepertimu! Jika kau masih mengancamku aku akan mengadukan pada Ayahmu. Aku yakin, Om Tristan akan membelaku."


Keenan mengedikan bahunya acuh. "Diamlah, Gilang. Lebih baik kau itu segeralah pergi membelikan aku rujak buah yang aku inginkan tadi."


Gilang terbengong-bengong, apa benar seorang Keenan Alexander meminta ingin makan rujak? Tetapi mengingat wajah Keenan yang terlihat lemah dan lemas, membuat Gilang pun tidak tega.


"Baik. Aku akan segera membelikan mu rujak buah yang kau inginkan itu." ucap Gilang, kemudian keluar dari ruangan kerja Keenan.


Setelah berkeliling cukup jauh, akhirnya Gilang pun menemukan seorang penjual rujak. Ia membeli sesuai pesanan laki - laki itu. Ya, rujak mangga muda dan kedondong, membayangkannya saja sudah membuat Gilang merasa ngilu.


Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia pun segera menemui Keenan dan langsung memberikan pesanan sahabatnya itu.


"Ken, ini pesananmu!" Ucap Gilang kepada Keenan yang masih terduduk di sofa.


Keenan pun langsung menerima rujak yang ia pesan. Lalu, langsung memasukkan potongan mangga muda itu ke mulutnya. Rasa masam yang tercipta seakan-akan menghilangkan rasa pusing yang menderanya.


"Terima kasih, Gilang. Kau sudah banyak membantuku!" Ucap Keenan dengan senyuman yang mengembang. Entah kenapa suasana hatinya menjadi lebih baik, dan pusing di kepalanya pun berangsur - angsur mulai menghilang.


"Ken, memangnya sejak kapan kau suka rujak?" tanya Gilang dengan tatapan yang menyelidik.


"Sejak sekarang!" Jawab Keenan dengan singkat.


Gilang pun merasa tingkah Keenan sangat aneh, terlebih laki - laki itu tiba-tiba menjadi penggemar rujak.


"Apa tidak masam saat kau memakannya?" tanya Gilang dengan tatapan yang aneh.


"Tidak. Ini sangat enak. Apa kamu mau coba?" jawab Keenan sambil menyodorkan sepiring mangga muda kepada Gilang. Dan Gilang pun langsung menggelengkan kepalanya dengan tatapan ngeri.


"Tidak terima kasih. Kau ini seperti seorang wanita yang sedang mengidam saja."


"Lebih kau pergi dari sini, aku malas mendengar ocehan mu itu."


"Sialan kau, Ken!"


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....