Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Tidak Menyadari



Tangan Angga terlihat bergerak menuju ke arah tangan Thalia. Ia memegang jari Thalia sejenak, dan langsung mendorong jari Thalia itu agar terlepas dari bajunya. Hal itu, membuat Thalia langsung menatap ke arah Angga dengan pandangan yang tak percaya.


"Lebih baik kita segera masuk ke villa, Thalia. Hari sudah tampak semakin sore dan awan pun tampak mendung hari ini. Aku takut kita akan terjebak di dalam mobil, jika kita terlalu lama mengobrol di sini."ucap Angga yang langsung membuka pintu mobil dan melangkah menuju ke arah villa, tanpa menghiraukan ucapan dari Thalia yang masih mematung di mobil. Pikirannya terasa kosong saat ini. Thalia saja bingung harus bertindak seperti apa.


"Nona, jangan terlalu banyak di pikirkan. Tuan muda mungkin sedang banyak pikiran saja. Dan mungkin saja, besok pagi Tuan muda sudah kembali seperti semula." ujar Hardi, yang sepertinya memahami kerisauan dari kekasih majikannya itu.


"Ya. Semoga saja, apa yang kau katakan itu benar, Hardi." Thalia lalu langsung melangkah keluar dari mobil dan menyusul pada Angga yang sudah lebih dulu memasuki villa.


***


Hari telah berubah menjadi malam, dan Thalia masih asyik duduk di kursi yang berada di balkon seraya menatap ke arah langit malam yang terlihat begitu gelap, tanpa ada bulan dan bintang yang terlihat dan ada beberapa kilatan cahaya yang sesekali nampak


"Nona, makan malam telah siap mari kita makan bersama." Bik Nila datang ke kamar Thalia dan mengajak Thalia untuk makan malam bersama. Namun, sepertinya Thalia tidak ingin ikut makan malam bersama dengan Baik Nila.


"Bik Nila, perutku masih terasa kenyang saat ini. Aku akan ada di sini saja, Bik. Terima kasih karena telah datang," ucap Thalia sembari tersenyum kecil.


"Nona yakin, apa Bibi perlu bawakan makanan untuk di bawa kemari ya?" Bik Nila melangkah menuju ke arah pintu. Namun terhenti, saat Thalia memanggilnya.


"Bik Nila tidak perlu membawakan makanan kedalam kamarku. Cukup bawakan teh hangat saja ya." pinta Thalia dan langsung di balas oleh anggukan kepala dari Bik Nila.


Setelah Bik Nila pergi, Thalia pun kembali pada kegiatan awalnya menatap lagi ke arah langit malam. Entah kenapa, ia tiba - tiba teringat dengan masa lalunya. Ia teringat masa kecilnya saat bersama dengan Ibu dan Ayah tirinya.


Semua terlihat baik - baik saja saat itu, ia masih ingat saat pertama kali dirinya dan Ibunya di bawa Papa Tristan dan di kenalkan ke keluarga besar Alexander yang saat itu Thalia dan juga Ibunya beberapa kali sempat mendapatkan penolakkan dari beberapa orang di keluarga besar Alexander, tapi lama kelamaan kehadirannya mulai di sambut baik oleh mereka.


Thalia benar - benar rindu saat - saat itu. Saat orang tuanya khawatir ke Thalia yang sedang sakit, saat Ibunya panik melihat Thalia yang tidak bisa turun dari pohon, saat mereka menyambut kepulangan Thalia setelah memenangkan lomba dan saat mereka berkumpul untuk merayakan hari ulang tahunnya. Ia benar - benar merindukan semua momen - momen manis itu.


"Ah, tak terasa, sudah hampir dua bulan aku meninggalkan rumah itu." Thalia bergumam seraya menghela nafasnya singkat. "Gimana ya, kabar Bunda dan Papa?" lanjutnya


Entah mengapa, Thalia tiba - tiba ingin kembali ke rumahnya. Ada sesuatu dorongan dalam dirinya yang memintanya untuk segera kembali ke rumah itu. Meski ia tahu, itu sangatlah berbahaya. Mengingat, jika Kakak laki - lakinya bisa saja sudah pulang ke rumah kedua orang tuanya lagi. Terlebih lagi, jika dirinya itu harus menyembunyikan kehamilannya dari sang Kakak.


"Kabar Siska, Nino dan Axel gimana ya? Jadi kangen mereka." gumam Thalia.


Sudah sebulan lebih dia tidak berangkat ke sekolah. Dua hari lagi hari kelulusannya pun tiba. Dan ia pun sangat berharap jika kedua orang tuanya akan tetap hadir di sana untuk merayakan hari kelulusannya meskipun dirinya tidak bisa hadir di sana.


Bagaimana pun juga Thalia juga masih ingin melanjutkan kuliah sampai ia wisuda.


"Pengin pulang..." keluh Thalia seraya mengacak - acak rambutnya dengan kasar.


Ceklek.


"Bik Nila, teh hangatnya nanti di letakkan di atas meja saja. Nanti akan aku minum." ucap Thalia kepada seseorang yang telah membuka pintu kamarnya.


"Kau kenapa tak turun untuk makan malam?" Thalia yang hafal dengan suara itu langsung membalikkan badannya melihat ke arah Angga yang berdiri tak jauh darinya dengan membawa nampan yang berisi makanan.


Thalia masih berdiam, tanpa menjawab pertanyaan dari Angga. Ia pun tidak pernah berpikir jika Angga akan menyusulnya di kamar. Ya, Thalia juga merasa jika Angga akan tidur di kamar yang lain malam nanti. Tapi lihat sekarang, Angga bahkan yang mengajaknya berbicara lebih dulu.


"Aku masih belum lapar." ucap Thalia yang berbohong. Karena sebenarnya beberapa waktu yang lalu perutnya benar - benar terasa lapar, hanya saja ia memang kehilangan selera makannya. Maka dari itu, ia pun meminta pada Bik Nila untuk membuatkan teh hangat sebagai pengganti dari makan malamnya.


"Kau menangis?" dapat Thalia dengan sedikit nada panik dari pertanyaan Angga kepadanya.


Thalia yang tak merasa tengah menangis pun berusaha untuk mengusap kedua pipinya. Dan benar saja, tangannya yang ia gunakan untuk mengusap pipinya tadi terlihat sedikit basah.


"Ada apa denganmu, Thalia?" ucap Thalia di dalam hati yang tengah merutuki kebodohannya sendiri karena tidak sadar, jika netranya mengeluarkan air mata.


"Aku tak apa," sahut Thalia, sembari tersenyum kecil.


Angga kemudian meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas meja, dan melangkah mendekat ke arah Thalia. Ia mencoba mencari kebohongan di mata wanita itu. Ya, karena Angga merasa jika Thalia tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Jika ada masalah, katakan saja padaku?" ucap Angga yang masih menatap Thalia.


"Aku tak apa, sungguh. Hanya tengah home sick saja. Tak ada yang perlu di khawatirkan," sahut Thalia yang mencoba untuk meyakinkan Angga.


"Terserahlah.Ya sudah, sekarang kau harus makan makanan yang sudah aku bawa tadi. Kalau begitu, aku akan pergi ke ruang kerjaku dulu. Selamat malam." Ucap Angga, dan tanpa menunggu balasan dari Thalia, Angga pun langsung bergegas meninggalkan kamar Thalia sendirian di temani keheningan.


Sedangkan Thalia hanya bisa menatap kepergian Angga dengan air mata yang sudah mengalir deras dari kedua matanya.


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....