Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Pulang Bersama Axel



Thalia beberapa kali menghentakkan kakinya di atas lantai, hanya untuk meluapkan emosi yang semalam di tahannya. Thalia ingin sekali mengadukan semuanya kepada kedua orang tuanya tentang kelakuan bejat dari Kakak tirinya itu yang selalu sesuka hatinya keluar masuk kedalam kamarnya apalagi selalu mengancam dirinya.


"Hallo, Thalia. Selamat pagi."


"Axel?" ucap Thalia yang kini menoleh ke samping


"Dari tadi aku panggil - panggil kamu itu kelihatannya serius sekali? Emang kamu lagi ngelamun apa sih sampai wajah kamu tampak kesal tadi? Kalau kamu lagi ada masalah cerita dong?"


"Ah, aku tadi gak ngelamun tau. Aku itu tadi lagi mikir." jawab Thalia sambil tersenyum manis ke arah Axel.


"Memangnya kamu lagi mikirin apa?" tanyanya penasaran. Karena Axel tau, Thalia sepertinya sedang gelisah.


"Axel aku-"


"Tahlia, bukannya aku mau ikut campur tentang masalah pribadi kamu. Tapi aku bisa melihat kalau kamu itu sedang gelisah, jadi tolong Thalia izinkan aku membantumu." ucap Axel yang kini masih menatap ke arah Thalia dan menunggu Thalia agar mau menjelaskan masalahnya. Dan dia juga tidak ingin mendesak Thalia agar mau bercerita jika nantinya akan membuat Thalia merasa terbebani.


"Tapi, El? Aku tidak ingin membuatmu celaka kalau kamu masih dekat - dekat denganku. Jadi-"


"Sssst..." Axel mendesis dan menaruh jari telunjuknya di bibir Thalia.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Kakak tirimu?" tebak Axel.


Thalia mengangguk lemah dan menundukkan kepalanya tidak berani lagi menatap ke arah Axel.


"Thalia liat aku." ucap Axel dan meraih dagu Thalia agar Thalia mau menatap ke arahnya. "Jika hal itu yang membuatmu gelisah, percayalah aku pasti akan baik - baik saja."


"Tapi, El. Aku itu han-".


"Thalia dengarkan aku. Kamu percaya kan sama aku. Jika kamu percaya sama aku, coba ceritakan apa yang sudah Kakakmu itu katakan padamu."


"Ini terlalu rumit, El. Yang jelas, Kak Keenan itu benar - benar sudah gila?!"


"Gila? Maksud kamu Kakakmu itu gila karena apa?"


"Kak Keenan bilang dia itu menyukaiku dan aku itu sangat takut saat Kak Keenan selalu masuk kedalam kamarku apalagi dia selalu mengancam ku mau merenggut kehormatanku jika aku tidak mau menuruti keinginannya. Aku harus bagaimana lagi, El?" jelas Thalia menceritakan semua kelakuan Kakak tirinya itu pada Axel.


Saat mendengar penjelasan dari Thalia, tanpa sadar Axel mengepalkan tangannya dengan kuat saat membayangkan bagaimana ketakutannya Thalia dengan kelakuan Keenan.


"Untuk sekarang kamu itu harus tenang dulu. Dan pulang sekolah nanti biar aku antar kamu pulang, bagaimana?" ucap Axel memberikan tawaran kepada Thalia.


"Bukannya aku mau menolak ajakan kamu, El. Tapi kamu juga tahu sendirikan seberapa marahnya Kak Keenan waktu itu.Aku takut, El. Jika Kak Keenan akan semakin berbuat gila lagi kalau melihat kamu mengantarkan aku pulang kerumah."


"Thalia, kamu itu tidak usah khawatir. Cukup kamu percaya sama aku aja. Aku pastikan Kakak kamu tidak akan melakukan hal yang lebih gila lagi kepadamu." ucap Axel meyakinkan.


"Tapi aku masih tidak yakin, El."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita kasih tahu ke orang tua kamu saja tentang perbuatan Keenan padamu?"


Thalia menggelengkan kepalanya. "Aku rasa, Papa dan Bunda tidak akan semudah itu untuk percaya. Apalagi Bundaku sangat menyayangi Kak Keenan dan sudah di pastikan nantinya aku yang akan di salahkan lagi."


"Thalia, tapi kamu itu harus tetap cerita ke orang tua kamu. Aku yakin, Papa kamu mungkin saja mau mendengarkan ucapan kamu dan berpihak padamu. Dia tidak mungkin kan membela anaknya sendiri yang sudah kurang ajar itu."


"Kamu tidak perlu takut. Ada aku, aku janji bakal melindungi kamu jika Kakak kamu itu nantinya akan berbuat hal yang kurang ajar padamu."


Mendengar ucapan Axel. Thalia merasa cukup nyaman sekarang. Dan kini Thalia mulai kembali tersenyum saat beban yang di rasakan ya sudah sedikit berkurang setelah menceritakan semua Kelakuan Kakak tirinya kepada Axel. Ya, walaupun rasa takutnya itu masih ada. Namun, setidaknya akan ada orang yang mau menolong dirinya.


"Bagaimana sekarang, hm? Apakah kamu mau pulang bareng sama aku setelah pulang sekolah nanti?" ajak Axel lagi setelah melihat wajah Thalia yang tadi nampak gelisah dan ketakutan kini sudah kembali tersenyum manis ke arahnya.


"Iya," jawab Thalia yang menyetujui ajakan pulang bersama dengan Axel.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi dan kini Axel dan Thalia langsung pergi ke tempat parkir. Ya, sesuai perkataan Axel tadi pagi sekarang Thalia pulang bersama dengannya.


"Makasih ya, El. Udah anterin aku pulang kerumah." ucap Thalia pada Axel yang kini sudah sampai di halaman depan rumahnya.


"Kalau begitu, bolehkan aku mampir kedalam rumah?" ucap Axel


"Udah sampai di sini saja. Jangan sampai masuk kedalam rumah. Aku takut, El." pinta Thalia menepuk pundak Axel agar Axel mau mengurungkan niatnya untuk tidak masuk kedalam rumahnya. Dan segera pulang.


"Kamu kenapa takut lagi Thalia. Santai saja. Aku yakin Kakak kamu itu tidak mungkin memarahi kita. Oke?"


Thalia memutar bola matanya malas. "Ya ampun Axel. Kamu suka banget ya kalau nantinya Kak Keenan marah - marah sama kamu. Udah deh, mendingan kamu itu buruan pergi sebelum Kak Keenan itu melihat kamu."


"Iya, Iyaa. Sabar dong. Aku juga mau pergi kok."


"Mampus kita, El. Kamu liat, itu mobilnya Kak Keenan. Dan sudah di pastikan Kak Keenan pasti sudah melihat kita." ucap Thalia yang kini sudah mulai ketakutan saat melihat mobil Keenan sudah berhenti di depan motor Axel. Di tambah lagi saat Keenan langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arahnya. Dengan raut wajah yang tampak begitu kesal dan marah.


"Selamat siang, Kak. Sebelumnya kita itu belum berkenalan dengan baik, bukan?" sapa Axel dengan memberikan senyuman bahagianya namun berbeda dengan Thalia yang kini sedang ketakutan.


"Lalu kau mau apa?"


"Axel, pacarnya Thalia. Nah, sekarang Kakak sudah tahu kan hubungan di antara aku dan Thalia."


"Apa? Jangan bercanda kamu? Karena Thalia tidak aku izinkan untuk berpacaran. Apalagi dengan laki-laki model kaya kamu."


"Sayang sekali, tapi itu faktanya." desah Axel.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.