
"Angga!!" Tiba - tiba suara teriakan terdengar dari arah kanan mereka yang memanggil nama Angga.
Sedangkan Angga yang merasa namanya di panggil pun, mengalihkan atensinya ke arah sumber suara itu. Dan terlihat seorang laki - laki tengah melambaikan tangan ke arahnya. Begitu laki - laki itu sadar, Angga pun menatap ke arahnya, ia langsung berlari menghampiri Angga bersama dengan Thalia.
"Astaga Angga, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap laki - laki itu seraya menjulurkan tangan kanannya ke arah Angga.
"Aku baik - baik saja. Lalu bagaimana kabarmu? Kudengar kau sudah menikah dengan senior Delisa tahun lalu." sahut Angga yang membalas uluran tangan laki - laki itu.
"Iya kau benar. Maaf ya, aku tidak mengundangmu. Karena Delisa menginginkan pernikahan yang sederhana yang hanya berisi keluarga terdekatnya saja." ujar laki - laki itu.
Sadar dengan kehadiran Thalia yang tengah menautkan lengan pada Angga, laki - laki itu terlihat menatap ke arah Thalia dengan raut wajah yang penasaran.
"Kekasihmu?"
Angga yang paham kemana arah pembicaraan laki - laki yang ada di hadapannya ini kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Namanya Thalia. Dan Thalia, perkenalkan dia adalah Malik. Teman seangkatan sekaligus teman sekelas ku dulu." ujar Angga yang saling memperkenalkan Malik dengan Thalia.
Malik terlihat menganggukkan kepalanya ke arah Thalia dan Thalia pun membalas dengan hal yang sama.
"Oh iya, bagaimana jika kita kesana?" terlihat Malik menunjuk ke arah tempat duduk yang berisi beberapa orang yang tengah mengobrol.
"Teman - teman kita tengah mengobrol di sana," ujar Malik yang mulai melangkah menuju ke tempat yang ia tunjuk.
Sedangkan Angga yang melihat raut wajah yang ia kenali di sana pun langsung melangkah mengikuti Malik. Dan benar saja, kedatangan Angga langsung di sambut oleh orang-orang yang berada di situ.
"Angga apa kabar?" ucap seorang wanita kepada Angga.
"Aku baik - baik saja. Bagaimana denganmu, Kak Delisa? Bagaimana rasanya menjadi istri dari Malik ini?" canda Angga seraya menunjuk ke arah Malik yang sedang berdiri di arah sisi kanannya.
"Aku baik - baik saja. Dan ya, kau tau bukan bagaimana konyolnya tingkah Malik satu ini. Terkadang aku juga merasa sedikit menyesal menikah dengannya," balas Delisa dengan raut wajah yang sedang menahan tawa.
Sedangkan Malik hanya bisa cemberut, yang membuat Delisa tak kuasa untuk membendung tawanya lagi. Atensinya lalu teralihkan kepada seorang wanita yang tengah memeluk lengan Angga. Ia sedikit tak menyangka jika Angga akan membawa seorang wanita kedalam acara reuni ini. Mengingat sangat sedikit wanita yang dekat dengan Angga dulu.
"Kekasihmu?" tanya Delisa yang penasaran.
"Iya, namanya Thalia."
Mendengar jawaban dari Angga, Delisa sedikit membelalakkan matanya seolah tak percaya dengan jawaban dari Angga. "Kupikir kau akan datang bersama dengan Lia. Mengingat betapa dekatnya kau dan Lia dulu bak seorang sepasang kekasih."
"Eh..." gumam Thalia terkejut saat mendengar penuturan dari Delisa.
"Apa maksud dari perkataan wanita itu?" batin Thalia yang masih mencerna perkataan dari Delisa itu.
Mungkin karena mereka yang berada di divisi yang sama, dan sering meninjau lapangan bersama, membuat banyak orang berspekulasi jika mereka pernah memiliki sebuah hubungan. Terutama istrinya juga dulu lumayan dekat dengan Lia, sehingga Istrinya tadi bisa berkata seperti itu.
"Thalia, aku minta maaf ya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menyingung perasaanmu, kok. Mungkin karena dulu Angga jarang terlihat berinteraksi dengan perempuan lain kecuali Lia, jadi banyak yang berspekulasi jika Angga dan Lia tengah menjalin sebuah hubungan."
Terlihat Malik yang begitu gugup saat menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi kepada Thalia. Ya, karena bagaimana pun juga Malik tidak ingin melihat jika hubungan percintaan sahabatnya itu mengalami masalah hanya karena ucapan dari istrinya dan tentunya juga ia akan merasa sangat bersalah jika semua hal itu terjadi.
"Kau sudah mendengarkannya langsung dari temanku kan, sayang? Benar kan, yang waktu itu pernah aku katakan jika aku dan Lia tidak pernah menjalin hubungan apapun. Apa sekarang kau mempercayaiku?" tanya Angga yang tengah menatap ke arah Thalia
Jujur saja Angga sedikit kecewa tadi dengan perkataan yang terlontar dari mulut Delisa. Dan ya, Angga pun paham karena sedari dulu Delisa adalah sosok yang sangat mendukung dirinya untuk berpacaran dengan Lia. Tapi bagaimana pun juga Angga tidak pernah menaruh rasa dengan Lia.
Di samping itu pula, Angga merasa sangat berterima kasih dengan Malik. Karena dia, akhirnya dia bisa juga membuktikan perkataanya jika dia dan Lia memang tidak pernah menjalin hubungan apapun kecuali sebagai rekan di organisasi dulu.
"Iya, iya. Aku minta maaf ya, lagi pula aku hanya mengatakan fakta kok, jika mereka dulu terlihat seperti sepasang kekasih.Padahal dulu aku sangat mendukung mereka. Tapi ya mau bagaimana lagi jika Angga sudah memilih wanita yang ada di sampingnya itu.Semoga saja Lia tidak akan merasa sakit hati saat melihatnya nanti."
Thalia pun paham apa yang sedang di sampaikan oleh Delisa. Ya, walaupun Delisa sudah mengucapkan kata maaf, tapi Thalia tahu jika itu bukanlah permintaan maaf yang tulus. Dan Thalia pun tidak habis pikir saja dengan Delisa, bagaimana dia bisa mengatakan hal yang kejam seperti itu kepada sesama wanita, hanya karena ia tidak terima jika sahabatnya itu serasa tengah di campakkan.
"Delisa!!" Geram Malik pada Delisa.
"Iya, iya. Sudah sana ambilkan aku minum.Aku sudah sangat haus." ujar Delisa mengusir sang suami.
Dan dengan terpaksa, Malik pun langsung pergi meninggalkan mereka untuk mengambil minuman sesuai dengan keinginan istrinya.
Angga yang merasa Thalia sudah terlalu lama berdiri, langsung menarik tangan Thalia menuju ke arah kursi yang jaraknya sekitar dua meter dari Delisa. Dan ya, Angga sengaja menjauhkan Thalia dari istri temannya itu. Ia tidak ingin sesuatu yang keluar dari mulut Delisa akan kembali menyakiti wanita tersayangnya itu.
"Kau tunggu di sini ya. Aku akan mengambilkan minuman dan cemilan untukmu. Tak apa kan jika aku tinggal sebentar saja?" tanya Angga yang sebenarnya sedikit merasa cemas jika harus meninggalkan Thalia terlebih masih ada Delisa.
Thalia menganggukkan kepalanya. "Tak apa. Aku akan menunggumu di sini." sahut Thalia.
*******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....