Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Mencari Thalia



"Nona, apa anda tidak apa-apa? Sudah lebih dari lima kali anda menghela nafas sejak sepuluh menit yang lalu. Jika memang ada masalah lebih baik katakan saja, dari pada di pendam sendiri." ujar sang supir taksi yang sedari tadi melirik ke arah Thalia dari kaca depan.


"Aku tak apa, terima kasih karena telah mengkhawatirkan aku. Hanya ada sedikit pertengkaran dengan kekasihku. Itu saja," sahut Thalia yang tengah mencoba untuk tersenyum ke arah supir taksi itu.


Supir itu terlihat tersenyum mendengar jawaban dari Thalia "Nona, dalam sebuah hubungan pasti akan ada yang namanya pertengkaran. Itu adalah hal yang sangat wajar. Tinggal bagaimana Nona dan kekasih Nona dalam menghadapinya saja. Jika Nona memilih kabur dalam menghadapi masalah itu, tentu saja masalah itu tak akan pernah selesai, yang ada hanya semakin membesar saja. Banyak sekali masalah yang awalnya terlihat sepele, namun karena tak di selesaikan dengan baik, malah akan menjadi boomerang untuk hubungan kalian itu," jelas supir taksi itu panjang kali lebar.


Thalia nampak tertarik mendengar nasehat bijak dari supir taksi itu. Memang dari penampilan supir taksi itu terlihat seperti seorang laki-laki dewasa yang telah lama mengarungi bahtera rumah tangga bersama keluarganya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, jika kekasihku saja sepertinya tak ingin berada di dekatku?Aku benar - benar tengah kebingungan saat ini?" tanya Thalia yang menatap dalam ke arah supir taksi itu lewat kaca kecil yang berada di atas.


"Temui kekasihmu. Dan ajak dia bicara secara perlahan. Sampaikan semua keluh kesahmu dan biarkan dia juga menyampaikan semua keluh kesahnya. Setelah itu, buatlah keputusan bersama tentang kelanjutan hubungan yang terjalin di antara kalian. Anda tahu, di dalam sebuah hubungan, sebuah komunikasi itu sangat penting. Banyak sekali hubungan yang harus berakhir karena memang masalah komunikasi.Terkesan sepele memang, tapi memang begitulah kenyataannya. Komunikasi itu sangat penting." tutur sang supir taksi.


Mendengar penjelasan dari sang supir taksi, entah mengapa pikiran Thalia sedikit terbuka. Memang benar dengan apa yang di katakan oleh supir taksi itu, dan entah mengapa seketika Thalia merasa menjadi sosok yang begitu egois dalam hubungan ini.


Selama ini, selalu saja Angga yang selalu mencoba untuk memahami dan mengajak bicara Thalia. Dan ketika mereka bertengkar, selalu saja Thalia yang berusaha menunggu Angga untuk mendekati dirinya. Ia terlalu takut untuk mengajak Angga saling berbicara.


"Nona, kita sudah sampai." ujar supir taksi itu, ketika mobil yang di bawanya sudah berhenti dengan sempurna di sebuah taman yang terlihat sedikit ramai itu.


Thalia dengan segera memberikan ongkos untuk sang supir taksi dan keluar dari taksi itu.


"Maafkan aku, Angga. Ku mohon berikanlah aku waktu untukku menenangkan diri. Setelah itu aku berjanji akan menyelesaikan kerenggangan yang terjadi di antara kita ini." gumam Thalia seorang diri.


Sementara itu...


Terlihat Bik Nila yang tengah membungkukkan badannya seraya terus mengucapkan kata maaf di hadapan Angga yang berdiri di tengah pintu kamar tamu villa nya.


"Apa?! Kenapa Bik Nila membiarkan Thalia pergi seorang diri seperti ini. Ah... Sial. Kemana sebenarnya Thalia pergi." teriak Angga yang langsung berlari menuju ke arah mobilnya untuk mencari keberadaan Thalia.


***


Sudah hampir satu jam Angga menelusuri daerah sekitar tempat villanya itu. Dan sudah beberapa tempat telah ia sambangi untuk mencari keberadaan Thalia. Namun, semua hasilnya nihil.


Angga tak habis pikir kemana perginya Thalia yang sudah pergi pagi-pagi sekali meninggalkan villa. Ia khawatir akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Thalia. Mengingat beberapa waktu yang lalu saja Keenan telah memerintahkan anak buahnya untuk terus mengintai dirinya.Tidak menutup kemungkinan juga, jika Thalia saat ini tengah di intai oleh mereka.


Angga memukul kemudi mobilnya dengan frustasi.Ia lalu kemudian menundukkan kepalanya hingga dahinya bersentuhan dengan kemudi itu. Tak henti pula mulutnya menggumamkan nama Thalia terus - terusan.


"Kemana sebenarnya kau pergi, Thalia. Sial!" Runtuk Angga.


Merasa usahanya tak akan membuahkan hasil jika hanya mencarinya seorang diri, Angga lalu langsung mengambil handphone miliknya yang berada di dashboard mobil dan dengan cepat, ia pun langsung menekan tombol salah satu anak buah milik Kakaknya.


Tut... Tut... Tut...


"Bantu aku cari kekasihku. Aku tunggu laporannya dalam satu jam kedepan." ucap Angga saat panggilan teleponnya sudah di angkat. Dan tanpa menunggu balasan dari sebrang, ia pun langsung mengutarakan tujuannya dan langsung mematikan telepon itu.


Sembari menunggu informasi dari anak buah Logan, Angga memilih untuk menjalankan kembali mobilnya dan terus mencari keberadaan Thalia, ke tempat - tempat yang sekiranya ia pernah kunjungi bersama Thalia.


***


Selama hampir dua jam ini, Thalia hanya duduk diam di salah satu kursi yang berada di taman. Taman yang tengah ia sambangi ini hanyalah taman kecil yang biasanya di gunakan anak - anak yang tinggal tidak jauh dari taman itu untuk sekedar bermain.


Hal ini di karenakan, sekitar dua kilometer dari taman ini, terdapat sebuah taman baru yang lebih besar dan memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Namun, karena Thalia yang takut jika akan di temukan jika dia memilih taman yang itu, maka Thalia memilih taman yang sepi yang sekiranya dapat membantunya untuk menenangkan diri.


Selain itu juga, Thalia pun sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada seseorang yang menganggunya. Dan Thalia juga yakin, jika ia menghidupkan ponselnya Angga akan dapat dengan mudah melacak keberadaannya. Dan akan sia - sia saja usahanya untuk dapat me time, jika harus berkahir dengan paksaan pulang dari pria itu.


"Mereka lucu sekali." gumam Thalia.


Sudah sejak Thalia datang


ke taman, atensi Thalia langsung tertuju pada lapangan futsal mini yang di gunakan oleh anak-anak itu telah menghangatkan hatinya.


Lebih dari sepuluh anak tengah mengejar bola plastik kecil berwarna biru muda, dengan dua orang yang lain yang bertugas untuk menjaga masing - masing gawang. Terlihat belum ada rencana yang matang dalam permainan itu. Pemainnya hanya mencoba untuk merebut bola dari lawan dan menendangnya ke arah gawang lawan tanpa ada keinginan untuk mengoper bola itu ke arah rekan kerjanya.


****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....