Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Pingsan



Keenan masih termenung menatap langit-langit kantornya. Meratapi nasib yang seakan - akan tengah mempermainkan dirinya karena selama satu bulan lebih dia masih terus mencari keberadaan Thalia di bantu oleh anak buahnya. Namun, yang ia dapatkan tetap nihil tidak ada sedikitpun tanda - tanda tentang keberadaan Thalia. Walaupun ia sudah pernah menangkap mata - mata dari Logan, tapi bukti yang dia berikan tidak cukup jika Thalia ada bersama dengan Logan. Dan hal itu hampir membuat dirinya seperti orang gila akhir - akhir ini. Di tambah rasa mual dan muntah yang menderanya setiap pagi. Bahkan ketika ia melihat makanan kesukaannya sekarang tak berselera untuk memakannya. Beda dari dulu yang selalu melahap habis makanan tersebut tanpa sisa sedikitpun.


Dan tatapannya kini teralihkan oleh suara ketukan pintu ruang kerjanya.


"Masuk!" Perintah Keenan sambil membenarkan posisi duduknya.


Tak berselang lama setelahnya, pintu ruang kerja Keenan pun terbuka.


"Apa yang membuatmu datang ke kantorku?" tanya Keenan pada laki - laki yang masuk kedalam ruangannya itu.


Bruk.


Setumpuk foto sengaja di jatuhkan di sebuah meja yang penuh akan tumpukan file perusahaan. Dan sang pemilik meja langsung saja menatap tajam sang tersangka yang membuang foto itu di mejanya.


"Ah, kau tak terima? Lihatlah sebelum menatap tajam ke arahku. Bukankah ini yang kau minta," sahut Marvel pada Keenan di sebrang nya.


Keenan kemudian langsung mengambil setumpuk foto yang di bawa oleh Marvel. Nampak dalam foto tersebut adalah kebersamaan Thalia dan Angga di berbagai tempat. Walaupun wajah sang perempuan terlihat menggunakan masker, tapi Keenan bukanlah orang yang sebodoh itu yang tidak mengenali wajah Thalia.


"Jadi, apa yang kau inginkan lagi dari kami?" tanya Marvel yang tengah memakan kudapan yang sudah di sediakan khusus oleh Keenan.


"Terus ikuti mereka kemudian carilah celah agar aku bisa membawanya pergi dari bedebah itu." sahut Keenan yang masih menatap foto - foto itu di genggamannya.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." ujar Marvel.


Begitu Marvel sepenuhnya meninggalkan ruangan Keenan, laki - laki itu bangkit dari duduknya sembari membawa tumpukan foto itu. Ia lalu melangkah menuju ke arah mesin penghancur kertas yang berada di sudut ruangannya. Dan satu persatu foto itu di masukkan kedalam mesin itu yang berakhir menjadi potong - potongan kecil.


"Sama seperti foto - foto ini yang hancur berkeping-keping, aku juga akan menghancurkan mu sama seperti foto kebersamaan mu dengan gadisku ini. Kau tunggulah tanggal mainnya." gumam Keenan dengan seringai yang tak luntur dari wajahnya.


***


Sudah hampir seminggu kedatangan Ibunya Angga di villa milik Angga. Dan selama itu pula, Thalia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk membaca buku di kamar.Karena ia sedikit kurang nyaman jika bertemu dengan Ibunya Angga jika Angga tidak ada di sampingnya. Ya, terlalu lama berada di dekat Ibunya Angga, Thalia banyak sekali menahan rasa sakit. Dan ia pun khawatir jika kandungannya nanti akan terganggu, akibat Thalia terlalu banyak stress.


Sebenarnya, Angga juga sudah membujuk Ibunya agar pulang ke mansion keluarga mereka. Namun sang Ibu hanya ingin kembali ke mansion jika Angga juga ikut kembali dengannya untuk tinggal di mansion tentunya tanpa adanya kehadiran Thalia. Dan tentu saja Angga langsung menolak dengan tegas, dan yang terjadi saat ini adalah Ibunya Angga akan menetap dimana Angga akan tinggal.


Tok... Tok... Tok. Ceklek.


Pintu kamar Thalia di ketuk dan di buka oleh Bik Nila. Thalia pun langsung menutup buku bacaannya saat melihat Bik Nila sudah berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.


"Nona Thalia, anda di panggil Nyonya Abella di bawah." ucap Bik Nila yang membuat Thalia menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


"Baiklah, Bik. Aku akan menyusul ke bawah setelah ini." sahut Thalia seraya tersenyum lemas.


Terlihat Ibunya Angga tengah duduk santai di sofa sambil membaca buku majalah fashion di temani secangkir teh yang terlihat masih sangat hangat. Mendengar suara langkah kaki Thalia yang menuruni tangga, Ibunya Angga pun langsung menutup dan menyingkirkan majalah dari hadapannya.


"Sudah datang kau rupanya. Lamban sekali." cibir Ibunya Angga pada Thalia.


"Maaf, karena tadi saya membereskan kamar lebih dulu," jawab Thalia lirih.


"Sudahlah, aku itu tidak butuh maafmu. Karena saat ini Bik Nila sedang membersihkan debu di dalam villa, sedangkan sampah daun yang berada di halaman belum terurus. Sekarang kau bersihkan sampah daun itu, dan aku harap kau itu bisa menyelesaikannya sebelum pukul tiga sore. Apa kau paham?!" Sentak Ibunya Angga.


Thalia hanya menganggukkan kepalanya dan langsung berjalan ke halaman villa milik Angga. Sesampainya di sana, Thalia menghela nafasnya sejenak sembari melihat betapa luasnya halaman yang perlu ia bersihkan. Karena biasanya tukang kebun yang disewa oleh Angga saja membutuhkan waktu sekitar tiga jam lebih untuk menyelesaikannya.


Thalia pun kembali menghela nafasnya. Ya, bagaimana bisa Ibunya Angga dengan kejam memerintahkan Thalia membersihkan halaman yang begitu luasnya ini, dan di saat matahari tengah terik - teriknya.


Dan belum sampai lima menit saja, kepala Tahlia sudah merasa panas. Ya, bisa kalian bayangkan, karena sekarang masih pukul satu siang. Dan Thalia juga belum makan sejak tadi pagi, akibat perutnya yang menolak makanan yang masuk.


"Semoga semuanya bisa berakhir dengan cepat. Ayo Thalia semangat, kamu pasti bisa menyelesaikan pekerjaan ini." gumam Thalia sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu untuk membersihkan halaman itu. Kemudian, Thalia pun mulai melanjutkan pekerjaannya menyapu halaman villa itu dengan perlahan tapi pasti, Thalia pun mulai mengumpulkan daun - daun kering yang berjatuhan akibat di terpa angin. Begitu daun - daunnya sudah cukup terkumpul, ia akan mengumpulkannya di pengki dan membawanya ke tempat pembakaran sampah yang berada di halaman belakang villa.


Sudah hampir dua jam berlalu, dan baru setengah halaman saja yang baru bisa Thalia selesai bersihkan. Thalia pun memilih untuk istirahat sejenak di bawah pohon sambil minum air mineral yang telah di bawakan oleh Bik Nila sebelumnya.


"Kapan ini bisa selesai? Perutku sudah sangat lapar." rancau Thalia.


Begitu rasa lelahnya di rasa telah mulai berkurang, Thalia pun berencana untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, baru saja ia berdiri, tiba - tiba tubuhnya terasa begitu lemas dan membuatnya hampir oleng. Dan pandangannya semakin lama semakin menggelap dan kakinya pun mulai tak sanggup untuk menopang tubuhnya.


Brukk.


Tubuh Thalia pun langsung jatuh tak sadarkan diri di atas rerumputan tanpa seorang pun melihatnya


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....