
Keenan kini tengah fokus dengan Macbook Nya. Dia tengah membaca email yang masuk dari Billy dan beberapa laporan dari direktur perusahaan cabangnya. Saat dirinya tengah membaca email yang masuk, terdengar suara ketukan pintu, tanpa mengalihkan pandangannya Keenan langsung menginterupsi untuk masuk.
"Tuan," sapa Billy menundukkan kepalanya saat masuk kedalam ruang kerja Keenan.
"Ada apa, Billy?" tanya Keenan dingin. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya mengecek laporan email yang masuk.
"Saya ingin melaporkan kepada Tuan Keenan tentang Nona Thalia dan kekasihnya." jawab Billy.
"Katakan, Billy. Aku sudah menunggunya." ucapnya tanpa menatap ke arah Billy.
"Sepertinya rencana yang kemarin berakhir dengan gagal, Tuan. Saya baru saja mendapatkan laporan, jika sepertinya hubungan antara Nona Thalia dengan kekasihnya itu, telah kembali seperti semula." ujar Billy kepada majikannya.
Keenan yang tengah asyik membaca berkas laporan perusahaannya seperti tak terganggu dengan laporan yang di sampaikan oleh Billy. Seakan dia telah memang menebak akhir dari alur drama adiknya dan kekasihnya itu.
"Tidak apa, lagi pula yang kemarin itu memang masih terbilang ringan. Malah akan sangat aneh jika hanya gangguan seperti itu saja, hubungan mereka dapat berakhir. Kita lanjutkan saja rencana berikutnya."
Keenan nampak masih asyik dengan berkas - berkasnya. Ia bahkan tidak sedikitpun melirik ke arah Billy yang berdiri beberapa meter di depannya.
Billy yang merasakan kehadirannya sedang tidak butuhkan, memutuskan untuk pamit undur diri dari ruangan Keenan.
"Tak apa rencanaku gagal kali ini, lagi pula ini baru awalnya saja. Kalian tunggu saja kejutan yang akan aku buat nanti. Dan aku pastikan, kau pasti akan kembali lagi padaku adikku, sayang." gumam Keenan yang menatap tajam ke arah pintu saat Billy keluar dari ruangannya.
***
Setelah mereka berdua mendeklarasikan untuk berbaikan, Angga mengajak Thalia untuk kembali ke villa. Namun sepertinya Thalia masih enggan untuk kembali. Ia terlihat masih ingin lebih lama untuk duduk di taman itu.
"Kau tahu, aku ingin kembali di saat aku masih seusia anak - anak yang tengah bermain bola itu. Melihat mereka benar - benar membuatku merasa iri." ucap Thalia yang masih asyik menonton anak - anak itu.
"Kenapa?" tanya Angga yang terlihat begitu penasaran setelah mendengar pernyataan mendadak dari Thalia.
"Kau tahu, di saat aku seusia mereka, yang aku pikirkan hanyalah tentang bermain dan bermain. Mana ada ada saat itu aku berpikir tentang apa yang terjadi pada hari esok." Thalia menghela nafasnya sejenak.
Angga pun terlihat masih asyik menatap ke arah Thalia. Ia pun masih berusaha untuk memahami setiap kata yang di lontarkan oleh kekasihnya itu.
"Tak seperti ini, aku itu selalu takut menunggu datangnya hari esok. Terlebih lagi saat ini aku tengah hamil, tanpa terikat dengan pernikahan. Aku benar-benar takut terhadap nasib anak - anakku ini. Bagaimana nantinya aku membesarkan anak - anak ini?Bagaimana pendapat orang lain nantinya dengan anak-anak ku ini? Bisakah nanti orang - orang menerima kehadiran anak - anakku ini? Dan bisakah nantinya mereka merasakan kebahagiaan seperti yang aku alami dan anak - anak lain rasakan? Semua hal itu terus saja berputar - putar di otakku setiap harinya, Angga."tanya Thalia dengan segala sesuatu yang sedang di pikirkannya akan ke khawatiran nasib anaknya nanti.
Setetes air mata terlihat menetes dari netranya Thalia. Dan Angga pun buru - buru langsung menghapus air mata itu dan menangkup wajah Thalia dengan kedua telapak tangannya.
"Sekarang kita kembali, ya. Aku yakin, Bik Nila masih sangat mengkhawatirkan mu saat ini. Kau tidak ingin membuat Bik Nila semakin bersedih, bukan?" tanya Angga yang di balas gelengan kepala dari Thalia.
Setelah Angga merasa, Thalia sudah semakin tenang. Ia pun menuntun Thalia menuju ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman itu. Ia pun membukakan pintu khusus untuk Thalia dan langsung berlari ke arah pintu untuk pengemudi. Dan tidak lama kemudian, mobil Angga tengah melaju meninggalkan taman.
Dan benar saja, begitu Thalia dan Angga tiba di villa, mereka langsung di sambut oleh Bik Nila yang sepertinya sudah menunggu kedatangannya sedari tadi di depan pintu.
Terlihat raut wajah bahagia tergambar di wajah wanita setengah baya itu. Melihat perang dingin yang terjadi dengan Tuan muda dan kekasihnya beberapa hari yang lalu, tentu saja membuat perasaannya ikut terluka juga. Terlebih lagi Bik Nila sudah menganggap Thalia seperti putrinya sendiri.
Villa terlihat sepi beberapa hari ini. Sejak pulang dari klinik miliknya Angga beberapa hari yang lalu, Tante Abella dan Celine telah pergi meninggalkan villa itu. Ya, karena Tante Abella harus kembali ke negara A setelah menerima telepon dadakan dari sang suami untuk segera kembali ke negara A.Sedangkan Celine terpaksa harus kembali ke rumah keluarganya.
Sebenarnya Celine tidak ingin kembali ke rumahnya, karena ia ingin terus bersama dengan Angga dan akan berusaha untuk menyingkirkan Thalia dari sisi Angga. Tetapi mengingat tidak ada Tante Abella yang berada di sisinya untuk melindungi dirinya, tentu saja ia takut jika sewaktu - waktu Angga dapat bersikap kasar kepadanya.
"Nona, saya sudah menghangatkan kembali sarapannya. Mari saya antar ke meja makan. Saya tahu, Nona Thalia pasti belum sarapan kan sejak tadi pagi." ucap Bik Nila kemudian meraih bahu Thalia dan mendorong nya Pela menuju ke ruang makan yang di ikuti oleh Angga di belakangnya.
Jam terlihat menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Sudah hampir masuk waktunya jam makan siang, dan sepertinya lebih baik jika di katakan makan siang ketimbang sarapan. Lagi pula Thalia merasakan jika perutnya itu belum terlalu lapar. Menunggu sampai waktu makan siang sepertinya bukanlah masalah untuk Thalia.
"Bik Nila, tapi aku masih belum la--. Kruyukk." ucapan Thalia langsung terhenti ketika suara perutnya bergemuruh meminta untuk di isi.
Bik Nila dan Angga hanya bisa tertawa begitu mendengar suara perut dari Thalia yang cukup keras. Angga kemudian mendekati Thalia dan menarik kursi makan agar Thalia dapat duduk di kursi itu.
Dan akhirnya mereka bertiga pun duduk di meja makan untuk makan pagi dan makan siang bersama.
********
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....