Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Tanda Merah Di Tubuhmu



"Jika kau tidak lupa, dan otakmu itu masih berfungsi dengan baik. Aku akan mengingatkanmu beberapa kali lagi, jika aku itu berhak mengatur mu karena aku itu mencintaimu dan kau juga sudah setuju dengan peraturan yang aku buat, bukan? Ingat Thalia, aku akan membebaskan mu jika aku sudah merasa bosan denganmu." Tukas Keenan menekankan.


Thalia mendengus kesal mendengar ucapan dari Keenan. Dan Thalia langsung memukul lengan Keenan, saat mendengar perkataan Kakak tirinya itu. "Lupakan tentang perjanjian itu! Kak Keenan kurang ajar! Aku tidak mau di atur olehmu!" Teriak Thalia dengan keras.


Keenan melayangkan tatapan dinginnya ke arah Thalia "Kau sudah mulai berani padaku, Thalia. Akulah yang memegang kendali. Dengar, cinta seorang Keenan Alexander tidak pernah main - main. Aku akan membuatmu hancur sehancur - hancurnya kalau kau masih bilang benci padaku. Aku tidak akan membawamu pulang," bisik Keenan beralih menatap Thalia. "Sebelum aku terpuaskan."


***


Thalia baru saja di antar pulang oleh Keenan, ia tidak merasakan apapun pada tiap langkahnya selain kehancuran dan rasa sakit yang menggebu-gebu.


Setibanya di rumah, Thalia langsung berjalan naik ke lantai dua di dalam kamarnya. Thalia melepaskan jaket putih yang ia pakai, dan itu jaket milik Kakaknya.


Kedua kaki Thalia bergetar, Kakak tirinya itu tidak pernah berbohong dengan ucapannya. Thalia kini duduk menundukkan kepalanya dan ia terisak kuat - kuat saat ini.


"Bagaimana kalau aku benar-benar hamil nantinya? Dan bagaimana kalau Bunda tahu semuanya?" lirihnya menangis lagi.


Tidak ada hal lebih yang Kakak tirinya itu lakukan padanya, tapi tetap saja hal itu membuat Thalia merasa sangat khawatir dan sangat sakit hati karena banyak dari tindakan Kakak tirinya itu yang sudah sangat kurang ajar padanya.


Thalia bangkit dari duduknya dan ia membuka lemari pakaiannya dan mengambil tas miliknya. Ia memasukkan beberapa pakaian miliknya kedalam tas.


"Thalia, apa yang sedang kamu lakukan, sayang?"


Suara dari Bundanya membuat Thalia menoleh menatap ke arah Bundanya dan ia menggeleng - gelengkan kepalanya kuat.


"Kamu mau kemana? Apa yang kamu lakukan, sayang? Thalia, tolong dengarkan Bunda dulu. Kamu itu boleh marah sama Bunda, tapi jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah, sayang. Itu tidak baik." ujar Vina mengusap pipi Thalia.


"Tapi aku tidak betah, Bund. Aku ingin pergi," lirihnya menundukkan kepalanya.


Kemudian Vina menarik lengan Thalia, wanita itu tersenyum manis pada putrinya dan ia menggeleng - gelengkan kepalanya..


Dan sedari tadi, Thalia hanya menundukkan kepalanya. Dan ya, kemarahan Vina terekam jelas dan untuk kali pertama ia menghancurkan kepercayaan Bundanya.


"Maafkan Bunda dengan menitipkan mu pada Keenan. Karena Bunda kira itu adalah ide yang terbaik ternyata tidak. Itu bukan ide yang baik. Kau tahu, Papamu tadi marah pada Bunda," ujar Vina yang kini terlihat sedih.


Thalia menatap Bundanya lekat - lekat dan sedikit kaget dengan apa yang Bundanya itu katakan.


"Jadi Papa marah sama Bunda?" tanya Thalia sambil memiringkan kepalanya.


Wanita itu mengangguk, ia sangat berat hati saat ini. "Iya, sayang.Papamu tadi pagi marah - marah. Dan kalau Thalia pergi, siapa yang akan menemani Bunda?"


Di detik itu pula, Thalia memeluk erat - erat Bundanya dan menangis. Thalia pun merasa gagal membanggakan Ibunya. Bahkan masalah yang sebesar ini, ia pun masih harus menyembunyikannya karena banyak kasus dan masalahnya saat ini.


Namun, saat Vina telah selesai memeluk putrinya dia menyadari bahwa ada beberapa tanda merah di sekitar leher putrinya itu dan Vina tahu betul itu tanda apa.


"Thalia, sekarang kamu harus jujur sama Bunda. Kenapa bisa ada tanda merah seperti itu di tubuh kamu? Kenapa kamu hanya diam dan tidak cerita kepada Bunda, sayang?"


Jelas Thalia menangis saat ini, karena untuk pertama kalinya Ibunya itu tampak sangat marah padanya.


"Cepat katakan pada Bunda? Siapa yang sudah membuatmu seperti ini, Thalia?! SIAPA?!!" Teriak Vina, ibunya dengan sangat marah.


Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya. "Tidak tahu," jawabnya di sela tangisannya.


"Tanda yang seperti ini, ini kamu bilang tidak tahu? Katakan, tanda ini darimana?! Padahal Bunda selalu mengajarkanmu tentang kebaikan sedari kamu kecil. Tapi ini balasanmu kepada Bunda?!" Teriak Vina membuat kamar itu kian mencekam.


"Maafkan Thalia, Bund. Thalia minta maaf karena sudah mengecewakan Bunda." suara tangisan dan meminta ampunan dari Thalia terdengar sangat menyakitkan.


"Tidak ada kata maaf untuk anak pembangkang seperti kamu! Bunda tidak pernah sekalipun mengajarkan anak perempuan Bunda untuk menjadi wanita murahan yang seperti ini?"


"CUKUP BUNDA VINA!!!"


Thalia dan Vina langsung menoleh ke arah Keenan yang kini masuk kedalam kamarnya itu. Seketika Keenan menatap Thalia yang bingung menutupi tubuhnya.


Jelas Thalia sangat malu saat ini. Namun, Thalia tidak menyangka jika Kakak tirinya akan melepaskan jas yang di kenakannya untuk menutupi tubuh Thalia yang terbuka, sebelum membantunya bangun dan memeluknya erat, hingga Keenan merasakan tubuh gemetar dan isakan kuat dari adik tirinya itu.


"Tidak ada seorang Ibu yang akan mengatakan jika putrinya sendiri itu wanita murahan, karena buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya!" Seru Keenan mengecamnya.


Vina menghembuskan nafas pelan. Ia menatap Thalia yang kini sedang ketakutan di pelukan Keenan saat ini, sebelum ia menarik pelan Thalia.


"Sayang, ayo katakan pada Bunda. Siapa laki - laki yang sudah membuat tanda di tubuhmu seperti itu? Katakan sayang, dan Bunda janji tidak akan marah lagi kalau kamu mau mengaku? Ayo katakan pada Bunda, sayang?" ucap Vina pelan sambil membujuk putrinya lagi.


Thalia mendongak menatap Keenan yang mengangguk - anggukan kepalanya. Namun Thalia menatap marah ke arah Kakaknya tirinya itu.


"Thalia tidak tahu, Bund. Thalia tidak mengenalnya," jawab Thalia terisak sebelum dia menyentak tangan Keenan dan berlari pergi ke kamar tamu yang ada di lantai dua juga.


Vina memijit pelipisnya pusing. "Entah kenapa dengannya, Keenan. Tanda terkutuk itu terlihat jelas di tubuh Thalia. Laki - laki mana yang berani menyentuhnya, aku tidak akan mengampuninya karena sudah berani merusak masa depan putriku." ujar Vina sebelum menatap penuh selidik ke arah Keenan dan menyadari sesuatu. "Tunggu, bukankah kemarin malam kau yang mengajaknya pergi ke pesta. Apa kau yang sudah-"


"Jika Bunda berpikir aku yang sudah membuat Thalia seperti itu Bunda salah paham mengenai hal itu." Keenan langsung memotong ucapan ibunya.


"Tapi kau-"


"Aku tidak membawa pulang Thalia karena kondisi Thalia yang sudah memiliki tanda seperti itu. Dan aku juga tidak tahu siapa laki - laki yang sudah membuat adikku ternoda."


Vina menghembuskan nafas panjangnya dan meraih tangan Keenan. "Keenan, boleh Bunda minta satu hal padamu?"


"Katakan saja," jawab Keenan.


"Tolong jaga Thalia. Kalau ada waktu tolong awasi Thalia dari laki - laki yang membuatnya seperti itu, Bunda mohon Keenan. Kamu juga harus merahasiakan ini dari Papamu ya, karena tadi pagi Papa kamu terlihat marah sekali saat tahu kamu membawa Thalia pergi."


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.