Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Keenan Mengetahui Kehamilannya Thalia



Kemudian, Keenan pun langsung membuka pintu belakang mobil mewahnya. Dan dengan cepat ia melangkah ke arah meja receptionis yang terdiri dari dua orang berbaju perawat. Keenan menghela nafasnya sejenak, dan langsung merubah raut wajahnya dengan raut wajah tersenyum saat melangkah mendekat ke arah penjaga resepsionis itu untuk menanyakan kamar rawat Thalia.


"Permisi, ruangan atas nama Thalia Ivanka itu ada di sebelah mana ya?" tanya Keenan dengan nada dan raut wajah yang di buat ramah.


"Ah, ruangannya Nona Thalia. Ruangannya berada di kamar VVIP nomor 108, Pak." balas salah satu seorang perawat yang tak kalah ramah.


"Terima kasih," balas Keenan.


Dan dengan cepat, Keenan langsung melangkah menuju ke arah kamar yang sudah di beritahu oleh perawat itu, seraya mengubah raut wajahnya kembali. Tak sampai lima menit berjalan, Keenan telah sampai di depan kamar VVIP milik adiknya itu di rawat.


Krieet.


Kemudian, Keenan pun membuka dengan pelan pintu ruangan kamar rawat Thalia, berharap adiknya itu tidak akan bangun. Setelah memasuki ruangan itu, terlihat dari wajah Thalia yang tampaknya tengah tertidur lelap dengan seorang perawat yang sedang membersihkan ruang rawat Thalia.


"Maaf, bapak siapa ya?" tanya seorang perawat yang bername tag Aliya, begitu menyadari kehadiran Keenan.


"Maaf, jika kedatangan saya terkesan mendadak. Tapi saya adalah Kakak dari wanita yang tengah terbaring itu." jawab Keenan sopan.


Keenan kemudian berjalan mendekati ke arah perawat yang tengah memegang ganggang sapu itu, dan menunjukkan tanda pengenalnya untuk di jadikan bukti jika dia memang Kakak Thalia.


Begitu melihat kartu identitas itu, Aliya pun mengerutkan keningnya, pasalnya nama belakang Keenan berbeda dengan Thalia. Dan Aliya pun mulai sedikit curiga saat melihat kartu identitas yang di tunjukkan oleh Keenan itu.


"Maaf, Pak. Sepertinya anda salah orang.Karena nama belakang bapak dengan pasien itu berbeda." ujar perawat yang bername tag Aliya.


Mendengar ucapan dari perawat itu, Keenan pun langsung mengeluarkan handphone miliknya dan menunjukkan sebuah foto keluarga di galeri handphone miliknya.


"Setelah melihat bukti ini apakah kau masih meragukan identitasku. Nama belakang kami berbeda karena dia adalah adik tiriku." ucap Keenan kepada perawat Aliya.


Aliya yang awalnya sedikit curiga langsung membungkukkan badannya untuk meminta maaf, setelah melihat foto yang di tunjukkan oleh Keenan dan penjelasan dari Keenan tadi. Kemudian, perawat Aliya langsung melangkah pergi meninggalkan ruang rawat Thalia, agar bisa memberikan ruang untuk Keenan berinteraksi dengan Thalia.


Keenan menarik dan menduduki kursi yang berada di sebelah ranjang Thalia. Ia pun menatap dalam wajah Thalia yang sudah hampir tiga bulan ini tidak terlihat. Dan dengan lembut Keenan mengusap pelan pipi Thalia yang terasa panas.


"Kau semakin cantik saja." Keenan pun tersenyum lembut seraya meraih telapak tangan Thalia dan mengusap tangan itu pada pipinya. "Kau tahu, aku begitu sangat merindukanmu. Aku mohon jangan pernah membenciku, Thalia. Karena aku sangat mencintaimu."


Merasa tak cukup, Keenan pun bangkit dan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Thalia. Dua centi sebelum bibir mereka bersentuhan, dan Keenan pun memilih untuk menghentikannya. Ia lalu beralih mengecup kedua mata Thalia dan juga dahinya yang terasa sangat panas.


Puas menatap wajah Thalia, pandangan Keenan beralih ke arah perut Thalia yang tampak membesar. Keenan yang terkejut pun langsung membuka selimut yang menutupi perut Thalia itu.


Dan tangannya langsung terangkat untuk membuktikan keasliannya. Dan begitu ia mendapatkan jawabannya, ia pun langsung tertawa dengan cukup keras tanpa khawatir jika akan membangunkan Thalia.


Dan dengan hati - hati, tangan itu menyingkap baju tidur yang di kenakan oleh Thalia. Kemudian Keenan langsung tertawa lepas tanpa khawatir jika akan membangunkan Thalia.


"Jadi kau sudah tumbuh, baby boy." ujar Keenan yang yakin, jika bayi yang tengah di kandung oleh Thalia adalah bayi laki - laki. Dan mual muntah yang ia alami beberapa Minggu yang lalu karena kondisi Thalia yang sedang hamil. Seperti yang sahabatnya pernah katakan kepadanya. "Baby boy, kau tunggu saja, sebentar lagi aku pasti akan kembali merebut Mommy Mu dari pria yang tidak tahu diri itu." lanjut Keenan sambil menyeringai tajam ke arah perut Thalia yang kini sudah mulai membuncit itu.


***


Jam tengah menunjukkan pukul lima pagi. Membuat Keenan bergegas mengucapkan salam perpisahan untuk Thalia.


"Sayang, aku pulang dulu."


Keenan terlihat sedang mengusap kepala Thalia yang masih tidur dengan lembut. Setelah hampir satu jam berada di ruangannya Thalia. Kemudian, Keenan pun memilih untuk undur diri agar tidak ketahuan oleh Angga.


Ya, karena Keenan sangat yakin, Jika Angga mengetahui keberadaannya di ruang rawat Thalia. Tentunya Angga akan langsung memindahkan Thalia ke tempat yang jauh. Walaupun Keenan nantinya bisa menemukan keberadaan Thalia lagi, tapi ia yakin dirinya pasti akan mengalami banyak kesulitan untuk kedepannya. Mengingat jika Logan juga ikut mendukung dan ikut membantu Thalia dan juga Angga dari belakang.


"Sepertinya aku memang harus menghancurkan Logan, sialan itu terlebih dahulu. Setelah itu, aku bisa menghancurkan adiknya." ucap Keenan dengan seringai yang tak luntur dari wajahnya.


***


Pukul setengah enam pagi, mobil Angga kembali terparkir di halaman rumah sakit. Angga, lalu bergegas untuk membuka pintu bagi mobilnya, untuk mengambil tas yang di duga berisi keperluan Thalia.


Setelah memastikan tidak ada lagi barang bawaan yang tertinggal di mobil. Angga pun langsung bergegas mengunci pintu bagasi mobilnya dan langsung melangkah memasuki rumah sakit menuju ke arah kamar rawat VVIP Thalia.


Nampak tak ada perubahan yang terjadi pada kamar rawat itu, malahan terlihat lebih bersih dari yang sebelumnya. Hanya saja, ia merasa ada sedikit keanehan pada selimut yang di pakai oleh Thalia.


Entah itu hanya perasaan dari Angga atau apa, tapi Angga merasa selimut yang membungkus tubuh Thalia terlihat jauh lebih berantakan daripada saat ia meninggalkan kamar rawat itu.


Kemudian, Angga pun mencoba untuk mendekati Thalia. Dan dengan hati - hati ia pun mencoba untuk menarik kembali selimut Thalia hingga ke leher wanita itu. Namun, tiba - tiba saja tangannya membeku saat melihat ada sesuatu yang salah di sekitar leher Thalia.


"Tanda kemerahan apa itu?" gumam Angga


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....