Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Menyelamatkan Thalia



BUGH...


Namun, sebelum Keenan melepaskan ikatan pinggangnya. Tiba - tiba dari arah belakang Keenan di tarik secara paksa oleh seseorang hingga membuatnya terjatuh terjungkal. Dan setelah itu sebuah pukulan langsung melayang dari rahangnya.


"****!" Umpat Keenan kepada seseorang yang memukulnya dan orang itu ternyata adalah Axel Dirgantara. Ya, Axel memukul Keenan langsung secara bertubi-tubi hingga Keenan pun tidak mampu untuk membalasnya karena ruang pergerakan Keenan telah di kunci oleh Axel.


Dan Axel baru saja menghentikan pukulannya saat wajah Keenan yang sudah terlihat babak belur. Serta sudut bibir Keenan yang sedikit robek serta banyaknya sekali luka lebam di wajahnya. Dengan kasar Axel langsung mendorong tubuh lemas Keenan hingga laki - laki itu tidak berdaya dan tersungkur di atas lantai.


"Maafkan aku, Thalia. Karena aku datang terlambat." ucap Axel yang kini menghampiri Thalia yang terlihat ketakutan dan sedang menutupi wajahnya dengan menggunakan selimut.


"Tidak. Jangan mendekat, El." ucap Thalia lirih sambil mengeratkan selimutnya dan refleks memundurkan badannya menjauh dari Axel.


"Maafkan aku, Thalia." ucap Axel yang merasa begitu bersalah. Ya, seharusnya di jalan tadi dia itu langsung menghentikan mobil Keenan di bandingkan hanya membuntuti mobilnya Keenan dari belakang.


Thalia terdiam. Dan rasanya tidak ada tenaga untuk bersuara.Pikirannya juga masih berkecamuk tentang Keenan yang hampir saja merenggut keperawanannya dan juga perkelahian sebelumnya yang belum pernah dia lihat secara langsung.


"Ayo Thalia, lebih baik kita cepat pergi dari sini sebelum Kakakmu itu bangun dan mulai berulah lagi. Dan kau tidak usah memikirkan lagi kejadian mengerikan tadi." bujuk Axel agar Thalia mau menuruti ucapannya.


"Ahh, aku lupa." ucapnya sambil memukul jidatnya sendiri. Lalu Axel segera melepaskan jaketnya. Ya, Axel pun merutuki kebodohannya sendiri karena baru menyadari jika seragam sekolah Thalia sudah tidak layak untuk pakai lagi.


"Pakai ini, cepat!" Pinta Axel sambil menyerahkan jaket miliknya dan mengambil rok Thalia yang masih tergelatak di atas lantai.


Sebelum mengenakan jaket dan rok miliknya. Thalia memperhatikan ke arah Kakaknya yang masih tidak sadarkan diri. Hingga Thalia pun mulai memberanikan diri beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berlari ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia langsung menghampiri Axel dan langsung pergi dari Apartemen kamar milik Keenan.


Dan tak berapa lama kemudian Keenan pun tersadar dari pingsannya dan mengetahui jika adik tirinya itu kini sudah pergi bersama dengan Axel. "Sialan!" Maki Keenan.


Ya, Keenan berusaha sekuat mungkin untuk menegakkan tubuhnya. Dan rasa sakit yang di rasakanya pun dia abaikan.


"Argghh.... Axel Dirgantara, sialann!" Teriak Keenan dengan kemarahannya. Dan tidak hanya itu, Keenan pun melampiaskan amarahnya dengan membanting semua barang - barang yang ada di sekitar kamar apartemen miliknya.


Dan ya, segala benda yang semula masih tersusun dengan rapi itu kini semuanya tergeletak di atas lantai dengan keadaan yang hancur dan berantakan seperti keadaannya sekarang.


"Kau sudah berani melawanku, Axel Dirgantara. Jangan harap setelah ini kau bisa lolos dariku." geramnya, kali ini memukul tembok dengan cukup keras untuk melampiaskan puncak amarahnya.


Keenan menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan ke arah lemari. Dimana di situ terdapat lemari yang cukup besar yang hanya menampilkan sebagian dari tubuhnya. Keenan kemudian mendekat ke arah cermin itu dan menatap wajahnya yang terlihat banyak luka lebam di sekitar wajahnya akibat dari ulah Axel. Ya, Axel benar - benar sudah menghancurkan wajah tampannya dan tidak hanya itu saja, Axel juga sudah menghancurkan rencananya untuk memiliki Thalia seutuhnya.


"Ah, sialan!" Umpat Keenan masih dengan kemarahannya saat mengingat kembali tentang Axel yang sudah berani memukulnya. Di tambah lagi dengan adik tirinya itu lebih memilih untuk ikut pergi bersama dengan Axel.


Dan ya, rasanya Keenan ingin sekali meluapkan segala amarah dan emosinya di depan Thalia.Namun, Keenan tidak bisa melakukan hal itu karena rasa marahnya selalu teredam dengan rasa cintanya pada adiknya itu.


Ya, dan Keenan sudah siap untuk menanggung segala resiko jika nantinya ia akan di coret dari daftar keluarga dan ahli waris dari keluarga Alexander. Karena dari dulu tujuan hidupnya hanya untuk adik tirinya.


"Thalia sayang, tunggulah sebentar lagi. Setelah itu Kakak pastikan kau benar - benar akan menjadi milik Kakak seutuhnya." gumam Keenan seorang diri.


***


Thalia dan Axel kini sudah sampai di depan mansion milik keluarga Alexander. Dan saat sampai di depan rumahnya. Thalia masih belum bisa mengeluarkan suaranya dan hanya terdiam. Dan Axel pun memahami perasaan Thalia yang mungkin saja masih sedikit trauma terhadap kejadian yang dialaminya tadi.


Sedangkan Thalia sendiri merasakan dirinya yang sudah sangat kotor, karena ini adalah pertama kalinya Kakak tirinya itu membuka seluruh pakaiannya dan menyentuh bagian dadanya secara langsung. Dan tidak, Thalia tidak ingin mengingat kembali tentang kejadian tadi. Apalagi saat dirinya begitu pasrahnya menyerahkan dirinya untuk di miliki oleh Kakak tirinya itu Thalia pun tidak ingin mengingat kembali tentang kejadian itu.


"Thalia," ucap Axel lirih dan hal itu juga membuat Thalia tersentak kaget.


"Aku sudah kotor, El." ucapnya Thalia tiba sambil menangis.


"Ssst. Kau jangan takut lagi. Aku ada di sini." ucapnya sambil menggenggam tangan Thalia dan mencoba untuk menenangkan Thalia.


"Tapi aku masih sangat takut, El. Bagaimana kalau Kak Keenan-" ucapan Thalia langsung terhenti saat Axel menarik tangan Thalia dan langsung memeluknya. Dan Axel pun kembali mencoba untuk membuat Thalia tetap tenang dengan cara tangannya mengusap punggung Thalia dengan lembut karena Axel merasakan tubuh Thalia yang bergetar akibat rasa takutnya yang masih teringat tentang kejadian tadi.


"El, kenapa Kak Keenan tega sekali melakukan hal itu kepadaku? Begitu besarkah kesalahanku padanya?" ucap Thalia dan Axel mengurai pelukannya sebentar, hanya ingin melihat wajah sendu Thalia.


"Sejujurnya aku pun masih tidak tahu, apa yang terjadi di antara kalian berdua. Tapi, yang aku tahu, itu bukanlah kesalahanmu melainkan Kakakmu sendiri yang membuatnya. Sehingga kamu merasa jika ini adalah kesalahan kamu." ucap Axel. "Dan perlu kau ketahui, Thalia. Kakak tirimu itu begitu terobsesi padamu, sehingga dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan mu. Tapi kamu tenang saja, ada aku buat kamu. Dan secepatnya aku akan menikahi mu setelah kita lulus sekolah nanti. Aku juga akan pastikan jika Kakakmu Keenan tidak akan pernah lagi menganggumu apalagi menganggu hubungan kita nanti." lanjut Axel, kemudian kembali merengkuh tubuh Thalia. Kali ini Axel memeluk Thalia dengan begitu erat seakan takut akan kehilangan Thalia karena Axel tau, Keenan tentunya tidak akan tinggal diam saja.


Dan Thalia pun membalas pelukan hangat dari Axel. Mendapatkan balasan dari Thalia membuat Axel tersenyum senang.


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.