
"Kau yang kehilangan akal sehatmu! Beraninya kau menyentuh calon istriku!" Bentak Keenan dengan tatapan yang begitu tajam mengarah kepada Mario yang masih tersungkur.
Tubuh Thalia gemetar ketakutan kala mendengar bentakan keras dari Keenan. Terlebih, wajah pria itu terlihat begitu marah.
Mario berdecak tidak suka. Dia bangkit berdiri sambil menatap Keenan dingin. "Jadi, gosip yang beredar di sini itu memang benar kalau kau akan segera menikah?"
"Kau masih bertanya saat melihat seorang gadis yang aku bawa bersamaku kesini?" seru Keenan dengan nada dingin dan terdengar menusuk di indra pendengaran setiap orang yang mendengarnya.
Mario menghembuskan nafas kasar. Dia mengangkat kedua tangannya, seolah memberitahu menyerah. "Ya,ya. Baiklah. Maafkan aku."
"Lebih baik kau pergi sebelum aku menghajar mu." ucap Keenan dingin dengan tatapan penuh dengan peringatan.
Mario mendengus kesal. "Kau ini menyebalkan sekali! Sahabatmu baru datang ke pesta ini bukannya kau sambut malah kau usir!"
Keenan menghunuskan tatapan semakin tajam pada Mario yang berbicara omong kosong itu.
"Fine! Aku pergi." ucap Mario, menyerah. Dia tidak ingin berurusan dengan Keenan jika sahabatnya itu sedang memilki emosi yang tinggi. Kini Mario menoleh ke arah Thalia dan menyunggingkan senyumannya. "Thalia, aku harus pulang. Nasibmu buruk sekali harus menikah dengan sahabatku ini."
"Kau-"
Baru saja Keenan hendak menarik kembali baju Mario, namun Mario sudah lebih dulu berlari meninggalkan tempat itu.
Keenan menghembuskan nafas kasar, meredakan amarah di dalam dirinya. Kemudian, dia pun pergi meninggalkan Thalia yang masih tidak bergeming dari tempatnya.
Kening Thalia berkerut saat Keenan langsung pergi dan tidak mengatakan sepatah katapun padanya.
"Kak Keenan, tunggu." Thalia berjalan cepat menyusul Kakaknya itu. Hingga saat ia berhasil menyentuh lengan Keenan, pria itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Thalia dingin.
"Ada apa?" tanya Keenan dingin dengan sorot mata yang tajam.
"K- kau marah, Kak?" tanya Thalia, sambil menggigit bibir bawahnya.
Keenan terdiam sejenak saat mendengar ucapan dari Thalia. "Mendekatlah." titahnya tegas.
"Hm?" Thalia tampak bingung.Namun, perlahan Thalia melangkah mendekat ke arah Kakak tirinya itu. Bahkan kini Keenan mengikis jarak di antara mereka. Jantung Thalia berdegup semakin kencang, seolah akan melompat dari tempatnya, parfume maskulin Kakak tirinya itu menyeruak ke indra penciumannya.
"Dimana saja tadi Mario menyentuhmu?" Keenan bertanya dengan nada yang begitu dingin dan nada tak suka.
"Mario tadi hanya mencubit pipiku saja, Kak Keenan." jawab Thalia dengan suara polosnya.
Tiba - tiba, Keenan membawa tangannya menghapus jejak tangan Mario yang ada di pipi kanan Thalia. Raut wajah Thalia semakin bingung dan tidak mengerti dengan tindakan yang Kakak tirinya itu lakukan padanya.
"Kak Keenan, apa yang-"
"Aku tidak suka jika milikku di sentuh oleh seseorang. Meskipun itu adalah sahabatku sendiri. Aku tidak akan pernah mengizinkannya. Mulai detik ini, jika ada yang sampai menyentuhmu dan kau membiarkan nya, maka kau akan mendapatkan hukuman tambahan." ucap Keenan dengan penuh ancaman dan sepasang iris mata coklatnya menatap Thalia penuh dengan peringatan.
Thalia menelan salivanya susah payah, saat mendengar ucapan dari Kakak tirinya itu
Raut wajah yang semakin menciut ketakutan dan kebingungan begitu terlihat di wajah cantiknya itu.
"A- Apa Kak Keenan sedang cemburu?" Entah kenapa pertanyaan itu lolos di bibir Thalia. Bahkan dia sendiri merutuki dirinya kala menanyakan hal itu pada Kakak tirinya.
Keenan menatap dingin Thalia yang bertanya.Kini pria itu menarik dagu Thalia dan berdesis tajam. "Bagaimana mungkin aku tidak cemburu saat dirimu sudah menjadi milikku. Dan aku tidak suka jika ada yang menyentuh apa yang telah menjadi milikku."
Thalia menelan salivanya susah payah. Saat melihat kemarahan di dalam diri Kakak tirinya itu. Pria itu memiliki sifat yang begitu tegas. Dan ya, lagi - lagi jantung Thalia berdegup kencang seperti ini saat berdekatan dengan Keenan.
"Apa kau mengerti Thalia?" desis Keenan di depan wajah cantik Thalia.
Dan Thalia hanya bisa mengangguk-angguk kepalanya.
"Aku mau pulang kerumah, Kak." ucap Thalia tiba - tiba.
Seketika Keenan langsung merangkul Thalia dan mengajaknya pergi dari pesta sahabatnya itu.
"Tapi Kak Keenan. Nanti Papa dan Bunda mencari aku. Aku mau pulang ke rumah saja."
"Kamu lupa ya. Bundamu itu sudah menitipkan mu padaku, jadi kau harus menurut padaku, paham." bentak Keenan marah. Dan berjalan meninggalkan ruangan tempat pesta.
"Kak Keenan tunggu!" Thalia menahan lengan Kakak tirinya itu. Saat Kakak tirinya itu hendak masuk kedalam mobil.
"Ada apa?" tanya Keenan datar.
"Memangnya Kak Keenan sudah punya rumah? Bukankah Kak Keenan hanya mempunyai Apartemen?" tanya Thalia ingin tahu.
"Kau masuk kedalam, jangan banyak bertanya!" Tukas Keenan.
Thalia mendengus kesal, dia menghentakkan kakinya dan masuk kedalam mobil. Kali ini, Thalia menutup kasar pintu mobil Keenan. Melihat Thalia sudah masuk kedalam mobil membuat Keenan langsung masuk ke dalam mobil juga dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir rumah milik Vino.
***
Pagi harinya,
Vina tidak tahu, kenapa suaminya Tristan yang kini marah - marah padanya sejak saat itu tahu kalau Thalia pergi dengan Keenan apalagi sejak semalam.
Bukan main sayangnya, Tristan pada Thalia meskipun hanya sekedar anak tirinya.
"Bunda tidak mikir?! Dengan mudahnya menitipkan Thalia pada Keenan?!" Sentak Tristan menggeram dengan sangat marah pada istrinya.
"Kenapa, Pa?! Keenan baik dan juga perhatian pada Thalia. Papa tahu sendiri kan, kalau...."
"Cukup! Telepon Keenan sekarang juga! Dan minta dia bawa pulang Thalia sekarang juga, sebelum Papa yang bertindak," seru Tristan mengancam Vina, istrinya.
Vina pun langsung menghubungi Keenan wanita itu berdecak dan menggelengkan kepalanya.
Tristan menatapnya marah dan sangat kesal. "Lain waktu, jangan menitipkan anak kita pada orang yang sibuk! Pikirkan juga kalau Thalia bosan dan dia pergi, lalu terjadi apa - apa dengannya, Bunda tidak sampai memikirkan hal itu, iya kan?"
Tristan mengambil kunci mobilnya, ia langsung pergi dari sana meninggalkan Istrinya.
Sedangkan Vina hanya terdiam di ruang tamu, ia menggenggam ponselnya dan pikirannya berkeliaran kemana - mana. Wanita itu mengusap wajahnya seketika.
"Ada apa ini? Apa yang mereka sembunyikan dariku?" gumam Vina dengan sangat mudahnya.
Lain halnya dengan Tristan. Pria itu kini sedang mencari putranya dan putri tirinya yang di bawa oleh Putranya semalam dan belum pulang ke rumah. Bahkan Tristan sudah mencari ke Apartemennya dan ke kantor. Namun sialnya, Keenan juga tidak ada, entah kemana dia mengajak Thalia pergi.
"Kalau aku tahu, anak kurang ajar itu macam - macam dengan Thalia. Lihat saja, aku tidak akan segan - segan mengampuni mu Keenan!"
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.