Brother'S Obsession

Brother'S Obsession
Kedatangan Tamu



Sore harinya Thalia sedang menyirami bunga - bunga di taman villa. Bunga - bunga yang basah itu tampak berkilauan saat terkena sinar matahari sore. Malah menambah kesan yang indah pada Villa milik Angga itu.


Begitu bunga sudah selesai semua di siram, Thalia pun berniat untuk membereskan peralatan yang ia gunakan untuk ia simpan kembali ke dalam gudang. Namun langkahnya terhenti saat Ibunya Angga memanggil dirinya untuk mendekat.


"Ada apa, Tante?" tanya Thalia cepat.


"Kau cepat bantu Bik Nila yang ada di dapur karena malam ini aku akan kedatangan tamu yang penting." ujar Ibunya Angga dan langsung melangkah meninggalkan Thalia setelah memberikan perintah kepada Thalia.


Tanpa buang waktu banyak, Thalia pun bergegas menuju ke arah dapur ke tempat Bik Nila berada. Terlihat di sana Bik Nila yang sedang keteteran menyiapkan banyak sekali makanan, yang sepertinya Ibunya Angga pesan dari restoran.


"Bibi, biar Thalia bantu ya." Thalia langsung mengangkat makanan yang telah di rapi di piring kemudian melangkah menuju ke meja makan. Ia menata dengan rapi semua makanan yang ada di sana, dan tentu saja Thalia melakukannya karena takut terkena amarah dari Ibunya Angga lagi.


"Memangnya tamu pentingnya itu siapa, Bik? Kenapa banyak sekali makanan yang di pesan?" tanya Thalia yang penasaran.


"Bibi juga tidak tahu, Nona Thalia." jawab Bik Nila, kemudian melangkah kembali ke arah dapur untuk mengambil beberapa piring dan alat makan.


Sungguh, Thalia menjadi sangat penasaran dibuatnya. Karena biasanya, jika ada tamu pasti Ibunya Angga akan memberitahu pada Bik Nila. Tapi entah mengapa, tamu yang akan datang kali ini sepertinya di rahasiakan. Sangat mencurigakan.


"Hei! Mengapa kau hanya berdiri saja di situ!" Badan Thalia seketika langsung terlonjak akibat terkaget dengan sentak kan dari Ibunya Angga. Entah kenapa suaranya Ibunya Angga itu selalu berhasil membuat dirinya itu terkejut sampai hampir jantungan.


"Maaf," ucap Thalia yang lebih memilih untuk menyusul Bik Nila di dapur, dari pada harus berhadapan lebih lama dengan Ibunya Angga.


Ting Tong....


Suara bel pintu rumah berbunyi dengan nyaring ke seluruh penjuru ruangan di villa. Sedangkan Thalia yang melihat Bik Nila tampak sibuk mengelap alat makan, Thalia pun berinsiatif untuk membukakan pintu.


Begitu ia membuka pintu nampak sesosok wanita asing yang terlihat sangat cantik tengah berdiri di hadapannya. Wanita itu memakai dress berwarna hitam di atas lutut dengan mode kerah sabrina yang memperlihatkan bahunya.


"Kau siapa?' tanya wanita itu yang tampak memandang Thalia dengan pandangan yang menilai. Ia lalu terkekeh seraya menatap Thalia dengan pandangan merendahkannya.


"Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?" balas Thalia yang tidak terima setelah dirinya di perlakukan dengan sangat tidak sopan oleh wanita asing itu.


Tanpa merespon ucapan dari Thalia, wanita itu langsung mendorong tubuh Thalia agar dapat menyingkir dari pintu, dan dengan berani wanita itu langsung melangkah memasuki villa tanpa menunggu di persilahkan oleh Thalia.


Sedang Thalia yang merasa wanita itu sudah keterlaluan, berusaha untuk mengejarnya yang kini sudah berada di ruang santai. Kemudian wanita itu berlari dan langsung memeluk Ibunya Angga yang sedang fokus membaca majalah miliknya.


"Loh, kamu ternyata sudah sampai. Tante kira kamu akan tiba satu jam lagi. Jika tahu begini, Tante akan langsung menyambut mu langsung di depan pintu tadi." ucap Ibunya Angga dengan sangat lembut pada wanita itu.


Selama satu menit mereka tampak berpelukan dan mengabaikan eksistensi Thalia yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kemudian Ibunya Angga terlihat melepaskan lebih dulu pelukannya. Dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Thalia.


Thalia dengan berat hati pun langsung melangkah pergi ke arah dapur untuk menyiapkan minuman dan beberapa kudapan yang akan di hidangkan kepada mereka berdua.


"Tante Abella, kapan ya Angga akan pulang. Aku sangat ingin bertemu dengannya saat ini?" perempuan itu langsung mengambil cangkir yang berisi teh hangat yang baru saja di sajikan oleh Thalia.


Sedangkan Thalia, yang mendengar nama kekasihnya di sebut berusaha untuk tetap diam seraya menahan geraman pada wanita yang tidak tau sopan santun itu. Ia harus menyajikan kudapan di hadapan Ibunya Angga dan wanita asing itu, agar tidak menyebabkan kesalahan yang akan membuat Ibunya Angga itu murka.


"Seharusnya sih tak sampai dua puluh menit lagi. Hei kau, jangan berpikir untuk kembali kedalam kamarmu. Masih banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di sini. Segera pergi dan bantulah Bik Nila."


Tanpa membalas ucapan dari Ibunya Angga. Thalia pun memilih untuk mengalah sembari berharap agar Angga cepat pulang ke villa.


***


"Nona Thalia, lebih baik beristirahatlah. Nona Thalia sudah banyak sekali membantu hari ini, saya khawatir jika Nona Thalia akan kembali pingsan seperti beberapa hari yang lalu." ujar Bik Nila kemudian menuntun Thalia untuk duduk di kursi yang ada di dapur.


Bik Nila kemudian memberikan Thalia susu hangat, yang Thalia yakin adalah susu untuk ibu hamil. Namun, baru saja Thalia akan meminumnya, tiba - tiba Thalia mendengar suara pintu depan yang di buka dan di tutup kembali.


Dan dengan cepat Thalia langsung menyerahkan kembali susu itu di tangan Bik Nila dan bergegas melangkah untuk menyambut kedatangan Angga yang baru saja pulang dari klinik. Ia berlari lalu langsung memeluk tubuh Angga dengan begitu erat yang menurut Thalia wanginya sangat menenangkan.


Belum juga sepuluh detik ia memeluk tubuh Angga, tiba - tiba tubuhnya di tarik dari arah belakang dan kemudian di hempaskan hingga tubuhnya menabrak tembok tak jauh dari sana. Thalia yang meringis menahan rasa sakit di bahunya pun mencoba untuk membuka kedua matanya.


Namun pemandangan yang menyakitkan lah yang sekarang ia lihat. Ya, terlihat wanita asing itu sedang memeluk tubuh Angga dengan sangat erat. Dan nampaknya Angga juga tidak mencoba untuk menolak pelukan dari wanita itu.


"Sebenarnya siapa wanita itu?" tanya Thalia di dalam hati.


Sedangkan Angga masih tampak bingung dan terkejut saat seorang wanita yang nampak asing tiba - tiba saja langsung mendorong tubuh Thalia, dan langsung memeluk dirinya dengan begitu erat. Ya, mengingat kejadian itu berlangsung sangat singkat, membuat tubuhnya telat untuk merespon dan berakhir dengan tubuh sang kekasih yang pada akhirnya membentur tembok dengan sangat keras.


***


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....