
Keenan menyeringai sinis. Dia menarik kasar dagu Thalia dan berucap tajam, "Aku berhak melakukan apapun atas dirimu. Termasuk mengurung mu di sisiku atau membuang mu, semuanya adalah keputusanku. Kau berada di bawah kendaliku Thalia Ivanka."
"A-Aku-" Tenggorokan Thalia terasa tercekat.Lidahnya begit kelu. Wajah pucatnya terlihat begitu jelas di wajah cantiknya. Dan ketakutan kian menelusup kedalam dirinya saat mendengar apa yang di katakan oleh Kakak tirinya itu.
Melihat wajah pucat Thalia. Keenan tersenyum penuh dengan kemenangan. Adik tirinya itu tampak begitu takut. Kini Keenan menyeka pipi kasar Thalia, menatap manik mata cokelatnya dan berdesis, "Apa kau takut, jika kita akan mengulang kembali malam panas kita?"
Tubuh Thalia mulai melemah. Bahkan kakinya tidak mampu lagi untuk berdiri mendengar pertanyaan dari Keenan. Pacaran manik mata coklatnya telah sirna tergantikan dengan kepanikan, takut dan kekhawatiran yang begitu terpancar.
"Apa kau mengerti, Thalia?" desis Keenan di telinga Thalia.
Tubuh Thalia meremang kala merasakan hembusan nafas dari Keenan menyentuh lehernya. Ya, napas halus pria itu membuat bulu kuduknya merinding. Suara yang terdengar tegas, dan penuh penekanan itu begitu menusuk di indera pendengaran Thalia.
Thalia menelan salivanya susah payah. Dia memberanikan diri menatap iris mata coklat yang menatapnya dengan tatapan yang tajam. Sungguh, Thalia sangat membenci jika berdekatan dengan Kakak tirinya itu karena dirinya selalu ketakutan seperti ini.
"Kau mau apa? Jangan gila Kak Keenan." protes Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya menolak keras.
"Aku memang sudah gila. Gila karenamu," bisiknya sambil menundukkan kepalanya membenarkan tuxedo hitamnya yang sedang di kenakan oleh Thalia dan menyugar rambut Thalia yang kotor dan basah.
Thalia menggeleng - gelengkan kepalanya saat Keenan menyugar rambutnya hingga telapak tangannya turun kembali ke pipinya dan menangkup nya sebelum ia memiringkan kepalanya dan ia mendorong kuat Keenan hingga ia terlepas.
"Sial!" Umpat Keenan saat Thalia berhasil terlepas darinya.
Dan ya, Thalia berlari menjauh dari sana. Ia langsung berlari ke tempat pesta dan mencari Ibunya. Pandangannya mencari - cari, ia akan mati di sini kalau sampai Ibu dan Ayahnya sudah pergi.
Thalia ingin menjerit menangis saat ini. Bagaimana mungkin Ibu dan Ayahnya tidak ada di saat seperti ini.
"Bunda... Papa, hiks! Bunda dan Papa ada di mana? Bunda?!" Pekik Thalia berlari ke lorong hotel.
Langkahnya terhenti saat ponselnya berdering, buru - buru Thalia langsung mengambilnya dan ia mendapati Ibunya yang sedang menghubunginya saat ini. Dan Thalia pun langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo Bunda...? Bunda ada di mana?" ucap Thalia saat panggilannya terhubung.
"Thalia sayang, maafkan Bunda. Bunda tadi langsung pergi dari pesta karena mendapat kabar anak dari teman Papa mengalami kecelakaan?" ucap Vina memberitahu dari sebrang telepon.
"Apa? Jadi Bunda pergi tinggalin Thalia sendirian di sini?"
"Maafkan Bunda, sayang. Tapi kamu tidak usah khawatir. Bunda sudah menitipkan kamu ke Keenan. Nanti kamu bisa pulang bersama dengan Kakak kamu."
"Bunda menitipkan aku pada..."
Belum selesai berbicara Ibunya langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
Thalia seketika menyandarkan punggungnya pada tembok yang ada di belakangnya. Ia menghembuskan napas panjang dan jatuh terduduk di sana dengan ponsel yang masih di genggamnya.
Thalia kemudian memejamkan matanya dan ia segera bangkit dan berharap bisa lolos dari Kakak tirinya saat ini juga.
"Tidak ada waktu untuk memesan taksi. Aku harus segera pulang. Bunda dan Papa mungkin akan pulang larut malam dan aku harus segera pulang kerumah sebelum Kak Keenan menemukan aku." lirih Thalia yang kini mulai berjalan keluar dari hotel.
Dan baru saja Thalia menuruni sebuah tangga dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tersentak saat ada yang menarik lengannya secara tiba-tiba.
Thalia langsung menyentak tangan Keenan hingga ia menarik pinggang Thalia dan tangannya kini sudah melingkar di sana.
"Kamu sudah tahu kan? Kalau Bundamu itu malah menitipkan kamu padaku. Sekarang kau tidak bisa pergi kemana-mana lagi, sayang." bisik Keenan yang kini menyatukan keningnya dengan kening Thalia. "Sekarang kau tinggal pilih? Kau ingin kita bermalam dimana? Di sini atau di Apartemenku?"
Thalia mendongak menatapnya lekat. "Apa maksudmu, Kak? Aku mau pulang?" tanya Thalia tidak mengerti.
Semakin Thalia memberontak untuk lepas dari pelukan Keenan semakin erat pula Keenan memeluknya dan merengkuh Thalia saat ini. "No, sayang. Ini adalah kesempatan yang baik untuk kita, untuk mengulang kembali percintaan kita yang kedua kalinya."
"Tidak! Aku tidak mau! Aku mau pulang!" Tolak Thalia cepat.
"Dengar, semakin kau memberontak semakin aku hancurkan jiwa dan ragamu. Semakin mau menjauh maka semakin puasnya aku, menikmati dirimu.Dan melupakanmu, mempermalukan Bundamu, hingga membuat semua orang benci padamu, sayang. Ah, atau kau ingin mendengar kabar kematian Axel Dirgantara."
"Kau jahat. Kenapa kau melakukan ini padaku?" teriak Thalia marah.
"Ssst. Aku tidak jahat, sayang. Aku hanya ingin kau mengerti tentang posisimu saat ini. Kalau begitu kau ikut Kakak sekarang."
"Biak.Tapi, pesankan aku kamar sendiri. Karena aku tidak sudi untuk satu kamar denganmu." seru Thalia yang kini akhirnya pasrah dan mengikuti langkah Kakak tirinya dari arah belakang.
Ya, kesal dengan Keenan yang selalu mengancamnya dan mengatakan hal yang tidak - tidak padanya.
"Tidak, aku akan tetap memesan satu kamar untuk kita berdua." tolak Keenan yang kini menghentikan langkahnya dan menarik lengan Thalia.
Thalia masih menghempaskan tangan Keenan dan ia berjalan melambat lagi di belakang Keenan.
"Kak Keenan," panggil Thalia, sebelum ia kembali menghentikan langkahnya jauh di belakang Keenan. "Kalau aku mau menikah denganmu, apa kau akan berhenti melakukan ini padaku?"
Thalia menatap punggung tegap Kakak tirinya itu yang kini menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya.
"Tergantung, kalau kau mau menikah denganku karena terpaksa. Maka aku akan terpaksa pula,dan mau tidak mau aku memaksamu untuk membuatmu mencintaiku. Dan ya, aku harus melakukan itu." kecamnya serius.
Detik itu pula langkah mereka terhenti di sebuah kamar di lantai dua belas. Dimana itu adalah kamar milik Keenan yang sudah Keenan untuk menghabiskan malam dengan Thalia.
*****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.