
Setelah perdebatan kecil yang terjadi di antara Thalia dengan Angga tadi pagi, berakhir dengan kemenangan Angga yang membuat Thalia harus tetap menetap di villa miliknya.
Dan semua kebutuhan untuk Thalia telah disiapkan sebelumnya oleh Angga. Mulai dari pakaian, alat make up bahkan skin care juga telah tersedia di kamar yang di tempati oleh Thalia. Hal ini tentu saja membuat Thalia semakin merasa tidak enak hati terhadap Angga.
Saat ini, jam sudah menunjukkan makan siang. Dan saat ini, Thalia sedang membantu Bik Nila memasak di dapur. Ya, sebenarnya Bik Nila sebelumnya sudah melarang Thalia untuk membantunya, tapi Thalia tetap memaksa sebagai bentuk terima kasih karena Bik Nila yang telah merawatnya semalam.
"Bibi, harus ku potong seperti apa bawang bombai ini?" tanya Thalia sambil mencuci bawang bombai di keran air.
"Potong memanjang saja, Nona karena akan di gunakan untuk membuat capcay kesukaan Tuan muda, Angga." ujar Bik Nila sambil mencuci beberapa sayuran yang lain.
Thalia sangat terkejut saat mendengar jika Angga sangat menyukai masakan capcay. Bukannya apa, karena dari tampang dan life stylenya pria itu, Thalia kira Angga adalah orang yang menyukai makanan barat.
"Eh... Angga suka capcay? Ku kira dia sangat menyukai makanan dari wes- ugghh." Thalia tidak bisa melanjutkan ucapannya dan kini dia sedang menutup mulutnya saat merasakan bau yang cukup menyengat dari sosis yang baru Bik Nila keluarkan dari kulkas.
"Nona Thalia, kau tidak apa-apa?" tanya Bik Nila panik, melihat Thalia yang tiba - tiba ingin muntah.
"Aku tidak apa, Bik -- Hoek..." ucap Thalia terputus saat merasakan perutnya seperti bergejolak.
Dengan cepat, Thalia pun langsung berlari ke arah kamar mandi yang berada di sebelah kiri dapur. Ia pun langsung berjongkok di closet dan memuntahkan semua isi perutnya. Walaupun hanya cairan bening saja sedari tadi keluar.
Tubuhnya kini benar - benar lemas, dan kepalanya mulai terasa pusing. Tiba - tiba Thalia merasakan sebuah tangan tengah memijat tengkuknya. Thalia pun menengok kan wajahnya dan mendapati Angga yang kini sedang ikut berjongkok di belakangnya.
"Apa masih terasa mual? Sepertinya, kau belum sepenuhnya sembuh. Ayo, aku akan antar kamu ke kamar untuk beristirahat. Aku benar-benar terkejut melihat mu berlari - lari tadi," ujar Angga yang kini sedang menggendong Thalia di kedua tangannya.
"Sepertinya bukan karena itu. Entah kenapa, hanya karena sosis saja, aku langsung muntah - muntah seperti tadi. Biasanya, aku tidak pernah seperti itu." gumam Thalia.
Angga mengernyitkan dahinya bingung saat mendengar penuturan dari Thalia. Seingatnya, sosis itu baru di beli oleh Bik Nila kemarin. Mana mungkin sudah basi, terlebih lagi Bik Nila meletakkannya di tempat penyimpanan khusus daging dalam lemari pendingin.
"Semua bahan makanan di villa ini baru saja di beli, tidak mungkin ada yang expired. Mungkin ini hanya efek karena semalam kamu demam saja. Tidak usah khawatir, Thalia." ujar Angga sambil meletakkan tubuh Thalia di ranjang dan menyelimutinya.
"Tidurlah, aku akan membangunkan mu saat makan siang nanti telah siap," sambung Angga sambil mengusap pelan rambut Thalia, hingga akhirnya jatuh tertidur.
"Aku harap, ini tidak seperti yang aku pikirkan." gumam Angga sambil melangkah meninggalkan kamar Thalia.
***
Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari. Sejak sepuluh menit yang lalu. Thalia tengah berjongkok di kloset untuk mengeluarkan isi perutnya. Ia juga menangis karena tubuhnya benar-benar terasa lemas hingga tak sanggup lagi untuk berdiri.
"Sebenarnya, ada apa dengan tubuhku. Hiks. Ini benar - benar menyiksaku." gumam Thalia sambil terisak pelan.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu kamar di ketuk dari luar. Thalia langsung menyeka air matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi.
"Buka saja. Tidak di kunci." sahut Thalia sembari mencoba untuk berdiri.
Pintu di buka, dan nampak sosok Angga melangkah mendekati Thalia. Ia kemudian memegangi bahu Thalia dengan lembut, menatap mata Thalia dalam.
"Apa kau mual - mual lagi. Dari ruang kerjaku aku mendengar seseorang tengah muntah. Kau tak apa?" tanya Angga dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Ayo, aku bantu kamu kembali ke tempat tidur. Aku telah membuatkan mu teh hangat,aku harap bisa meredakan sedikit rasa mual mu." ujar Angga sambil membopong tubuh Thalia kembali ke tempat tidurnya.
Angga kemudian mendudukkan dirinya di pinggiran tempat tidur Thalia. Kemudian ia menyerahkan teh hangat yang telah ia buat kepada Thalia.
"Terima kasih," ujar Thalia menerima teh yang di buat oleh Angga.
"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Ini sebenarnya cukup mengganggu ku sejak kemarin siang. Aku harap kau mau menjawabnya dengan jujur." ucap Angga dengan tatapan mata yang serius.
Thalia hanya menatap Angga sembari menganggukkan kepalanya dan tanpa berniat mengeluarkan suaranya.
"Kapan jadwal kau datang bulan?" tanya Angga dengan hati - hati.
"Bisanya tanggal 12. Tapi sepertinya bulan ini, aku belum datang bu-" ucap Thalia terhenti begitu ia mengingat sesuatu hal.
Dengan cepat Thalia melihat kalender yang ada di nakas tempat samping tempat tidur. Begitu melihat tanggal yang tertera di hari itu, seketika rasa takut langsung memenuhi relung hati Thalia.
"Oh tidak. Sekarang sudah tanggal 31. Sebelumnya aku tidak pernah telat sampai berminggu-minggu seperti ini," gumam Thalia dengan suara yang bergetar.
Tangan Thalia kini terlihat mulai bergetar dengan pikiran - pikiran buruk yang mulai memenuhi isi kepalanya. Ia benar - benar takut, jika hal yang tengah ia pikirkan benar - benar terjadi.
Angga yang melihat Thalia menggigil ketakutan, berusaha untuk menenangkannya. Ia menarik pelan tubuh Thalia dan memeluknya dengan erat.
"Tidak apa-apa. Tenanglah, Thalia. karena kita belum tahu pasti kebenarannya." lirih Angga sambil mengecup beberapa kali puncak kepala Thalia.
"Lalu, bagaimana jika itu benar-benar terjadi, Angga?Aku sangat takut." tutur Thalia dengan nada suaranya yang mulai bergetar.
"Tak apa. Semua pasti akan ada jalan. Percayalah kepadaku." sahut Angga yang mulai meregangkan pelukannya dari tubuh Thalia.
"Thalia, jika kau tidak keberatan. Apa kau mau mengeceknya? Kebetulan aku sudah membeli alat itu tadi siang." sambung Angga.
Thalia terlihat sedang memikirkan kembali perkataan dari Angga. Dan ya, ia ingin mengeceknya.Tapi ia takut pada kenyataannya nanti yang akan membuatnya semakin menyakiti dirinya. Tetapi jika ia tidak mau mencobanya, ia tak akan tahu hasilnya.
"Baiklah. Aku akan mencobanya." ucap Thalia mendongakkan kepalanya menatap wajah Angga.
********
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.